Lukisan purba di Pulau Muna (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Lukisan tertua di dunia baru-baru ini ditemukan di Indonesia. Berada di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, lukisan berusia 67.800 tahun ini mengungkap rahasia manusia purba menyebar melintasi Asia Tenggara.
Dikutip dari Earth pada Kamis (29/1), meski hanya berupa fragmen, temuan ini menyimpan makna besar karena memberi petunjuk tentang penyeberangan laut purba, kesinambungan budaya jangka panjang, serta rapuhnya peninggalan seni tertua umat manusia.
Penelitian terbaru yang dipimpin tim dari Griffith University menunjukkan bahwa satu cetakan tangan ini bukan sekadar gambar pasif. Lukisan tersebut tampak telah diubah dan dikunjungi kembali oleh generasi berikutnya selama puluhan ribu tahun, menjadikannya bukti langka aktivitas simbolik manusia yang berlangsung lintas zaman.
Penanggalan lukisan dilakukan di situs Liang Metanduno di Sulawesi. Para peneliti menemukan bahwa cetakan tangan yang pudar itu dikelilingi lukisan-lukisan lain yang tampak jauh lebih baru dan lebih sedikit mengalami pelapukan. Perbedaan kondisi ini menjadi petunjuk awal bahwa lukisan tersebut berasal dari periode yang sangat tua.
Untuk memastikan usia lukisan, tim menggunakan metode penanggalan uranium-seri. Teknik ini menganalisis lapisan mineral tipis yang terbentuk di atas cat lukisan gua. Uranium dalam lapisan tersebut perlahan meluruh menjadi thorium, dan perbandingan keduanya dapat digunakan sebagai penunjuk waktu sejak lapisan mengeras.
Karena lapisan mineral terbentuk setelah lukisan dibuat, usia yang diperoleh merupakan usia minimum. Dengan kata lain, cetakan tangan itu setidaknya berumur 67.800 tahun, dan bisa saja lebih tua. Hasil ini menjadikannya seni cadas tertua yang pernah tercatat hingga saat ini.
Analisis lebih dekat menunjukkan bahwa tangan tersebut tidak dibiarkan dalam bentuk aslinya. Setelah cetakan awal dibuat dengan menyemprotkan pigmen di sekitar tangan, seseorang di masa berikutnya mempersempit bentuk jari-jarinya. Perubahan ini menciptakan siluet tangan yang lebih tajam, hampir menyerupai cakar.
Gaya jari yang dimodifikasi seperti ini memang dikenal dalam seni gua global, tetapi hingga kini hanya ditemukan di Sulawesi. Tanpa catatan tertulis, makna perubahan tersebut tetap terbuka untuk interpretasi, mulai dari simbol identitas hingga praktik ritual, meski belum ada bukti pasti.
Yang juga menarik, dinding gua tersebut menunjukkan tanda-tanda penggunaan berulang. Lapisan mineral mencatat episode lukisan yang terpisah hingga 35.000 tahun, dengan aktivitas seni yang berlanjut sampai sekitar 20.000 tahun lalu. Artinya, gua ini memiliki makna sosial yang bertahan sangat lama.
Dalam beberapa kasus, lukisan yang lebih baru dibuat di atas permukaan gua yang segar setelah lapisan batu kapur lama terkelupas. Akibatnya, seni dari berbagai periode saling tumpang tindih, menyulitkan perbandingan visual, tetapi sekaligus memperlihatkan kesinambungan penggunaan ruang yang luar biasa.
Di luar nilai artistik, cetakan tangan ini penting karena lokasinya berada di dekat salah satu jalur batu loncatan yang diduga digunakan manusia purba untuk mencapai daratan Australia–Papua. Selama ini, ilmuwan berdebat apakah manusia tiba sekitar 50.000 tahun lalu atau jauh lebih awal, melampaui 60.000 tahun.
Menurut Maxime Aubert, arkeolog dan ahli geokimia dari Griffith University, temuan ini menegaskan pentingnya pulau-pulau Indonesia lainnya yang terletak antara Sulawesi dan Papua barat. Keberadaan seni gua menunjukkan bahwa manusia benar-benar menghuni dan beraktivitas di wilayah tersebut sebelum mencapai Australia.
Meski begitu, seni cadas saja belum cukup untuk memastikan rute pasti yang diambil. Jalur selatan melalui Timor tetap menjadi kemungkinan. Namun, temuan di Australia utara, seperti di situs Madjedbebe yang menunjukkan kehadiran manusia sekitar 65.000 tahun lalu, membuat lukisan Sulawesi ini semakin relevan sebagai bagian dari rangkaian migrasi awal.
Menyeberangi ke Australia bukan perkara sederhana. Meski permukaan laut saat itu lebih rendah dan Australia menyatu dengan Papua, manusia tetap harus melintasi selat dalam dengan arus kuat. Perjalanan tersebut menuntut perencanaan, pengetahuan bersama, dan kemungkinan besar dilakukan secara berkelompok.
Jejak perahu atau kamp pesisir jarang bertahan karena garis pantai purba kini tenggelam dan bahan organik mudah rusak. Dalam konteks ini, seni gua di pedalaman justru menjadi bukti paling tahan lama bahwa manusia benar-benar hadir dan bergerak melintasi lautan purba.
Identitas pembuat cetakan tangan ini masih menjadi perdebatan. Sulawesi pada masa lalu dihuni lebih dari satu jenis manusia purba. Para peneliti cenderung mengaitkannya dengan Homo sapiens karena adanya modifikasi simbolik yang kompleks, meski kesimpulan ini masih menunggu bukti tambahan berupa fosil atau alat batu.
Sayangnya, lukisan gua di Sulawesi menghadapi ancaman serius. Pelapukan kimia yang dipicu pertumbuhan kristal garam di dinding gua telah mempercepat kerusakan dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan kelembapan musiman membuat lapisan batu terkelupas dan membawa pigmen berharga ikut hilang.
Karena itu, perlindungan seni gua tertua ini tidak hanya bergantung pada penelitian ilmiah, tetapi juga pada upaya konservasi yang menjaga kondisi mikroklimat gua. Tanpa langkah tersebut, jejak penting perjalanan awal manusia bisa lenyap sebelum sepenuhnya dipahami.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
lukisan gua tertua migrasi manusia purba seni cadas Indonesia lukisan di Pulau Muna



















