Kamis, 29/01/2026 09:43 WIB

Manusia Bisa Berinteraksi dengan Jin, Fakta atau Mitos?





Islam tidak menafikan keberadaan jin maupun potensi interaksi mereka dengan manusia.

Ilustrasi - jin dan Manusia (Foto: Terasmuslim)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena manusia yang mengaku dapat berinteraksi dengan jin kerap menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Kisah tentang indigo, paranormal, hingga praktik pemanggilan makhluk gaib sering kali memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran.

Pertanyaannya, benarkah manusia bisa berinteraksi dengan jin menurut pandangan Islam, ataukah hal tersebut hanya sebatas klaim tanpa dasar yang kuat?

Dalam Islam, keberadaan jin adalah sesuatu yang nyata dan diakui secara tegas dalam Al-Qur’an. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api, berbeda dengan manusia yang berasal dari tanah. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 15:

وَخَلَقَ ٱلْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 15)

Ayat ini menegaskan bahwa jin adalah makhluk hidup yang memiliki eksistensi, akal, dan kehendak, sebagaimana manusia. Bahkan, jin juga dibebani kewajiban beribadah dan akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya.

Terkait kemungkinan interaksi antara manusia dan jin, Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa hubungan tersebut memang pernah terjadi. Dalam Surah Al-Jinn ayat 6, Allah SWT berfirman:

وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari golongan jin, maka jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.” (QS. Al-Jinn: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebagian manusia memang pernah berhubungan dengan jin, tetapi interaksi tersebut justru mendatangkan mudarat dan kesesatan.

Islam memandang praktik meminta bantuan jin sebagai perbuatan yang dilarang karena dapat menyeret manusia kepada syirik dan penyimpangan akidah.

Rasulullah SAW juga mengakui adanya kemampuan jin untuk berinteraksi dengan manusia, baik melalui gangguan maupun bisikan. Namun, Nabi Muhammad SAW dengan tegas melarang umatnya mencari hubungan atau komunikasi dengan jin. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَتَىٰ كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan larangan keras mempercayai klaim komunikasi gaib yang tidak bersumber dari wahyu. Islam menutup pintu terhadap praktik perdukunan, paranormal, dan sejenisnya karena rentan dimanfaatkan oleh jin untuk menyesatkan manusia.

Para ulama menjelaskan bahwa secara teori, interaksi antara manusia dan jin memang mungkin terjadi, terutama dalam bentuk gangguan, bisikan, atau penampakan tertentu. Namun, kemampuan tersebut bukanlah keistimewaan yang patut dibanggakan. Justru, semakin seseorang berusaha membuka diri terhadap dunia jin, semakin besar risiko rusaknya akidah dan mentalitas spiritualnya.

Islam mengajarkan solusi yang jelas dalam menghadapi gangguan jin, yakni dengan memperkuat iman, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta menjaga shalat. Rasulullah SAW mengajarkan doa perlindungan dari gangguan jin, sebagaimana sabdanya:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ ٱللَّهِ ٱلتَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.” (HR. Muslim)

KEYWORD :

Info Keislaman Manusia dan Jin Berinteraksi sesama makhluk Allah Kitab Al-Qur`an




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :