Rabu, 28/01/2026 17:51 WIB

13 Tradisi Menjaga Bumi di Indonesia yang Masih Lestari





Berikut beberapa tradisi menjaga bumi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang masih lestari

Ngertakeun Bumi Lamba, salah satu tradisi tahunan yang biasa digelar di Jawa Barat (Foto: Pas Jabar)

Jakarta, Jurnas.com - Indonesia tak hanya terkenal dengan kekayaan alam yang sangat indah, tapi juga memiliki ragam tradisi dan kearifan lokal yang sarat makna, termasuk dalam menjaga alam dan lingkungan. 

Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat terdahulu atau leluhur telah mempraktikkan cara menjaga alam secara harmonis, jauh sebelum isu lingkungan menjadi perhatian nasional maapun global.

Tradisi-tradisi ini mengajarkan kita bahwa menghormati bumi bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari filosofi hidup yang dijaga secara turun-temurun.

Berikut beberapa tradisi menjaga bumi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang masih lestari.

1. Ngertakeun Bumi Lamba – Jawa Barat

Ngertakeun Bumi Lamba biasa digelar setiap bulan Kapitu (bulan ke-7 kalender Sunda) di Jawa Barat. Tiga gunung yang dianggap suci di Jawa Barat; Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Wayang, dan Gunung Gede, dihormati sebagai “paku bumi”. 

Filosofi yang dianut adalah Mulasara Buana, yakni menjaga keseimbangan alam dan kehidupan makhluk ciptaan Tuhan. Upacara ini juga menjadi pengingat bahwa kerusakan alam seringkali akibat perbuatan manusia yang berlebihan, dan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, sebagaimana diajarkan leluhur.

2. Ngaruwat Bumi – Jawa Barat

Tradisi Ngaruwat Bumi lahir dari pengalaman warga Kampung Banceuy yang menghadapi bencana angin puting beliung pada abad ke-19. Upacara ini bertujuan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menolak bala, dan menghormati leluhur

Dilaksanakan setiap tanggal 14 Muharam (sekitar September), prosesi berlangsung dua hari, meliputi penyembelihan hewan, doa bersama, pembagian makanan, dan ritual adat lainnya. Upacara ini mengajarkan manusia untuk menghargai tanah sebagai sumber kehidupan.

3. Nyepi dan Catur Brata Penyepian – Bali

Di Bali, Nyepi adalah hari di mana aktivitas manusia dihentikan total: tidak bepergian, bekerja, bersenang-senang, maupun menyalakan api. Praktik ini dikenal sebagai Catur Brata Penyepian, yang memberi “istirahat” bagi bumi.

Selain dampak spiritual, Nyepi secara nyata menurunkan emisi karbon, memperbaiki kualitas udara, dan memberikan kesempatan bagi alam untuk pulih. Tradisi ini menunjukkan bahwa menghormati bumi dapat dilakukan melalui tindakan kolektif yang sederhana namun berdampak besar.

4. Awig-Awig – Desa Demulih, Bali

Masyarakat Bali memiliki aturan adat awig-awig untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Misalnya, larangan menebang pohon sembarangan atau mengambil hasil hutan secara berlebihan.

Selain menjaga ekosistem lokal, upacara adat diadakan sebagai bentuk syukur dan doa untuk kelestarian alam. Tradisi ini mengingatkan manusia bahwa bumi bukan hanya sumber daya yang bisa dieksploitasi, tetapi warisan yang harus dijaga dengan bijak.

5. Seba Baduy – Banten

Masyarakat Baduy menerapkan prinsip pikukuh karuhun, melarang pembalakan liar, penggunaan bahan kimia, dan eksploitasi hutan. Mereka hanya memanfaatkan sumber daya sesuai kebutuhan, tanpa berlebihan.

Salah satu tradisi yang terkenal adalah Seba Baduy, saat warga menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan pemimpin. Tradisi ini menekankan tanggung jawab kolektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

6. Sasi – Maluku dan Papua

Sasi adalah larangan sementara mengambil hasil alam, seperti ikan atau kerang, agar ekosistem dapat pulih. Praktik ini tidak hanya menjaga kelestarian sumber daya alam, tetapi juga menanamkan kesabaran dan menghormati siklus alam.

7. Rambu Solo’ – Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Upacara kematian Rambu Solo’ memiliki nilai spiritual dan lingkungan. Dalam tradisi ini, kayu untuk rumah adat atau peti jenazah digunakan secara berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Toraja telah memahami pentingnya menjaga hutan dan sumber daya alam sejak lama.

8. Wiwitan – Jawa

Wiwitan dilakukan sebelum panen, sebagai bentuk syukur kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan padi. Upacara ini mengajarkan manusia menghormati alam dan mengharapkan keberlimpahan hasil bumi, sambil menjaga hubungan spiritual dengan alam.

9. Paca Goya – Tidore

Masyarakat Kampung Kalaodi di Tidore menjalankan Paca Goya sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Tradisi ini juga berfungsi sebagai pengingat untuk tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Ada sumpah Bobeto: “siapa merusak alam, akan dirusak alam,” sebagai simbol tanggung jawab terhadap lingkungan.

10. Buka Egek – Papua

Buka Egek, Suku Moi, Papu, adalah tradisi di mana masyarakat mengambil hasil alam secukupnya, dengan beberapa jenis sumber daya yang dilarang dieksploitasi untuk jangka waktu tertentu. Praktik ini menjaga keseimbangan ekosistem dan menanamkan nilai kesabaran dan penghormatan terhadap alam.

11. Festival Jatiluwih – Bali

Di Desa Jatiluwih, Festival Jatiluwih menggabungkan kebudayaan, kesenian, dan ucapan syukur atas ketersediaan pangan, terutama padi. Festival ini sekaligus menegaskan hubungan antara manusia dan bumi, serta mengingatkan masyarakat tentang pentingnya pertanian berkelanjutan.

12. Seren Taun – Sukabumi, Jawa Barat

Kasepuhan Ciptagelar memiliki tradisi pertanian Seren Taun, di mana sebagian hasil panen disimpan di lumbung adat (leuit) sebagai cadangan pangan. Tradisi ini menunjukkan bahwa padi bukan sekadar makanan, tapi simbol kehidupan yang harus dijaga.

13. Hajat Sasih – Kampung Naga, Jawa Barat

Hajat Sasih digelar untuk mensyukuri keselamatan, keberhasilan, dan limpahan hasil bumi. Tradisi ini meliputi ziarah, pembersihan makam leluhur, dan ritual adat lainnya. Kegiatan ini menekankan pentingnya menjaga tanah dan hasil bumi sebagai bagian dari identitas dan spiritualitas komunitas.

Sumber: Berbagai sumber

 

KEYWORD :

Tradisi Menjaga Bumi Tradisi di Indonesia Tradisi Nusantara Alam dan Lingkungan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :