Rabu, 28/01/2026 18:49 WIB

Studi: Dampak Negatif Plastik untuk Kesehatan Dimulai dari Produksi





Dampak negatif plastik terhadap kesehatan bukan hanya terjadi ketika dibuang menjadi sampah.

Proses produksi plastik (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Dampak negatif plastik terhadap kesehatan bukan hanya terjadi ketika dibuang menjadi sampah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ancaman plastik terhadap kesehatan manusia sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum produk itu dibuang.

Studi tersebut menegaskan bahwa plastik melepaskan emisi berbahaya di setiap fase siklus hidupnya, mulai dari ekstraksi bahan bakar fosil, proses manufaktur, hingga pengelolaan limbah. Artinya, risiko kesehatan tidak hanya berada di hilir, tetapi sudah tertanam sejak hulu sistem plastik global.

Dikutip dari Earth pada Rabu (28/1), penelitian ini dipimpin oleh tim dari London School of Hygiene & Tropical Medicine yang melakukan analisis pemodelan berbagai kemungkinan masa depan industri plastik antara tahun 2016 hingga 2040.

Hasilnya mengkhawatirkan. Jika tren saat ini terus berlanjut tanpa perubahan besar, beban kesehatan global akibat emisi terkait plastik diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2040.

Para peneliti memulai analisis dari fakta mendasar bahwa lebih dari 90 persen plastik dunia dibuat dari bahan baku berbasis fosil. Ketergantungan ini membuat sistem plastik tidak terpisahkan dari emisi gas rumah kaca sejak tahap awal produksi. Setelah itu, proses industri yang mengubah bahan baku menjadi polimer dan produk jadi kembali menghasilkan polusi tambahan.

Masalah tidak berhenti di sana. Ketika plastik mencapai akhir masa pakainya, sistem pengelolaan limbah yang tidak memadai serta kebocoran ke lingkungan memperpanjang jejak emisi dan paparan zat berbahaya.

Setiap tahap menghasilkan kombinasi polutan yang berbeda, mulai dari gas rumah kaca, polusi udara, hingga bahan kimia beracun dengan dampak kesehatan yang spesifik.

Studi ini menjadi yang pertama menghitung secara global kehilangan tahun hidup sehat akibat emisi sepanjang siklus hidup plastik, menggunakan indikator disability-adjusted life years atau DALYs.

Plastik memang bukan satu-satunya penyebab penyakit, tetapi kontribusinya memperbesar risiko gangguan kesehatan seperti penyakit pernapasan, kanker, serta dampak kesehatan akibat pemanasan global.

Dalam skenario `business as usual`, yaitu tanpa perubahan berarti dalam kebijakan, infrastruktur, teknologi, atau perilaku konsumen, beban kesehatan tahunan meningkat tajam. Model memperkirakan dampak global naik dari sekitar 2,1 juta DALYs pada 2016 menjadi 4,5 juta DALYs pada 2040.

Jika dihitung secara kumulatif, dari 2016 hingga 2040 plastik diperkirakan bertanggung jawab atas hilangnya sekitar 83 juta tahun hidup sehat di seluruh dunia. Angka ini mencerminkan total beban kesehatan selama periode tersebut, bukan kerugian per tahun semata.

Analisis juga memetakan sumber utama dampak kesehatan. Pada 2040, sekitar 40 persen dampak berasal dari emisi gas rumah kaca dan pemanasan global. Polusi udara, terutama dari proses produksi plastik, menyumbang sekitar 32 persen, sementara paparan bahan kimia beracun di sepanjang siklus hidup plastik menyumbang sekitar 27 persen.

Yang menarik, produksi plastik primer muncul sebagai sumber dampak terbesar dalam hampir semua skenario. Bahkan ketika asumsi pengelolaan limbah diubah, tahap manufaktur tetap menjadi kontributor utama terhadap beban kesehatan total. Temuan ini menegaskan bahwa masalah utama berada di hulu, bukan hanya pada sampah.

Studi ini juga mengoreksi anggapan umum bahwa daur ulang adalah solusi utama. Meskipun penting, peningkatan daur ulang dan pengelolaan limbah saja ternyata tidak banyak menurunkan dampak kesehatan global. Hal ini karena sebagian besar emisi terjadi sebelum plastik menjadi limbah, yaitu pada tahap ekstraksi dan produksi.

Manfaat terbesar justru muncul dalam skenario perubahan sistem penuh, yang menggabungkan berbagai kebijakan sekaligus. Dalam pendekatan ini, beban kesehatan global pada 2040 diperkirakan 43 persen lebih rendah dibandingkan skenario tanpa perubahan. Kunci utamanya adalah pengurangan produksi plastik, bukan sekadar mengganti bahan dengan alternatif yang juga memiliki jejak lingkungan besar.

Para peneliti juga menantang narasi yang terlalu menekankan tanggung jawab individu. Mengurangi penggunaan plastik secara pribadi tetap penting, tetapi dampak kesehatan terbesar terjadi jauh di luar kendali konsumen, pada tahap produksi dan sistem industri.

“Dampak buruk plastik terhadap kesehatan melampaui titik saat kita membeli produk plastik atau memasukkannya ke tempat sampah daur ulang,” ujar salah satu penulis studi, Megan Deeney. Menurutnya, perubahan nyata memerlukan intervensi kebijakan yang kuat dan transparansi industri yang jauh lebih besar.

Keterbukaan data menjadi isu krusial. Informasi yang tidak konsisten dan minimnya pengungkapan komposisi kimia plastik membuat risiko sulit diukur secara akurat. Keterbatasan ini juga menghambat perbandingan produk dan efektivitas kebijakan pengurangan dampak.

Para peneliti mengakui adanya keterbatasan data. Model belum memasukkan dampak kesehatan pada fase penggunaan, paparan mikroplastik dan nanoplastik, serta banyak bahan kimia yang umum digunakan dalam plastik. Namun mereka menegaskan bahwa kekosongan data tersebut tidak mengubah arah kesimpulan utama.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Planetary Health.

KEYWORD :

dampak plastik kesehatan siklus hidup plastik emisi industri plastik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :