Koin emas abad ke 15 di Inggris (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Pasangan suami-istri di Hampshire, Inggris, dibuat kaget dengan keberadaan 70 koin emas dari era Tudor, saat memperbaiki tiang pagar di halaman belakang rumah.
Penemuan tak terduga ini kini menjadi sorotan karena koin-koin tersebut akan dijual satu per satu, sekaligus memecah sebuah kumpulan langka yang sebenarnya merekam potret utuh sejarah Inggris pada abad ke-15 hingga ke-16.
Para sejarawan menilai, harta karun semacam ini bukan hanya soal nilai emas, tetapi juga nilai informasi yang terkandung di dalamnya, sebagaimana dikutip dari Earth pada Rabu (28/1).
Kejadian bermula pada April 2020, saat pasangan tersebut mencabut tiang pagar lama di kebun mereka. Tanah liat yang terangkat bersama tiang itu memperlihatkan cakram-cakram kecil berwarna keemasan.
Setelah dibilas sekilas, muncul wajah-wajah raja Inggris dari masa lalu yang langsung menandakan bahwa temuan ini bukan benda biasa.
Koin-koin tersebut kemudian diperiksa oleh staf Ashmolean Museum di Oxford. Para ahli numismatik di museum itu membandingkan goresan, huruf, dan simbol pada koin dengan pola cetakan resmi dari berbagai masa.
Penelitian awal ini dipimpin oleh John Naylor, pakar koin yang meneliti bagaimana penguasa menggunakan mata uang sebagai sarana menegaskan kekuasaan.
Pemeriksaan cepat menjadi krusial karena konteks arkeologis sering kali hilang begitu benda dikeluarkan dari tanah. Tanpa pencatatan awal yang teliti, cerita di balik sebuah temuan bisa kabur dan sulit diverifikasi di kemudian hari. Untungnya, detail fisik pada koin-koin ini masih sangat jelas.
Goresan halus dan tulisan Latin yang tajam memungkinkan para ahli menyusun koin berdasarkan masa pemerintahan, bukan sekadar perkiraan. Potret raja dari Henry VI hingga Henry VIII muncul dalam satu kumpulan, lengkap dengan gelar-gelar resmi. Beberapa koin bahkan memuat inisial ratu yang terkait dengan pernikahan politik kerajaan.
Keberadaan inisial ratu di samping nama Henry VIII menjadi petunjuk penting untuk mempersempit waktu pencetakan. Berdasarkan koin termuda dalam kumpulan tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa harta ini kemungkinan dikubur pada akhir 1530-an, sebuah periode yang sarat gejolak politik dan keagamaan di Inggris.
Di Inggris dan Wales, temuan semacam ini masuk ke dalam sistem hukum khusus yang berusaha menyeimbangkan hak penemu dan kepentingan publik. Portable Antiquities Scheme (PAS) mencatat temuan tersebut ke dalam basis data nasional. Berdasarkan Treasure Act, kasus ini kemudian dapat dirujuk untuk penilaian resmi, termasuk kemungkinan pembelian oleh museum.
Namun tidak semua temuan berakhir di museum. Dalam beberapa kasus, termasuk temuan ini, koin akhirnya dilepas ke pasar lelang. Meski catatan PAS menjaga informasi dasarnya, pemecahan koleksi menjadi kepemilikan pribadi dapat menyulitkan kajian menyeluruh di masa depan.
Latar sejarah periode tersebut memberi petunjuk kuat tentang alasan koin-koin ini dikubur. Pada 1534, Raja Henry VIII memutus hubungan dengan Gereja Katolik Roma dan menyatakan dirinya sebagai kepala Gereja Inggris.
Kebijakan ini diikuti dengan pembubaran biara-biara dan penyitaan aset gereja dalam peristiwa yang dikenal sebagai Dissolution of the Monasteries.
Dalam situasi penuh tekanan itu, menyembunyikan uang tunai di dalam tanah bisa menjadi upaya terakhir untuk melindungi kekayaan. Kumpulan koin ini tidak berasal dari satu waktu saja, melainkan terkumpul selama lebih dari satu abad, dari tahun 1420-an hingga masa Henry VIII. Hal ini menunjukkan kebiasaan menabung jangka panjang, bukan hasil satu transaksi besar.
Beragam denominasi seperti angel dan crown muncul dalam harta tersebut, menandakan bahwa koin ini berasal dari peredaran sehari-hari maupun pembayaran resmi.
Campuran ini menyulitkan penelusuran pemiliknya, tetapi justru memperkuat dugaan bahwa harta tersebut mungkin milik sebuah institusi, seperti gereja atau biara.
Simbol politik juga tercermin jelas pada koin. Inisial ratu yang dipasangkan dengan nama raja bukan sekadar hiasan, melainkan pesan tentang legitimasi dan kekuasaan. Koin dalam temuan ini terkait dengan Katherine of Aragon dan Jane Seymour, dua figur penting dalam sejarah pernikahan Henry VIII.
Kondisi koin yang masih terawat dengan baik menunjukkan peran logam dan lingkungan tanah. Emas secara alami tahan korosi, sementara tanah liat membatasi paparan oksigen. Salah satu koin Angel bahkan masih menampilkan detail Malaikat Mikhael yang menusuk naga, simbol religius yang kuat pada masanya.
Setelah didokumentasikan, koin-koin tersebut dikemas dan dijual dalam kelompok kecil. Pada Oktober 2021, penggalian lanjutan di halaman yang sama menemukan enam koin tambahan, memperkuat keaslian lokasi penemuan. Pada lelang di Zurich, 5 November 2025, koin-koin itu terjual dengan total lebih dari £380.000 atau sekitar US$445.000.
Meski kepemilikan kini tersebar, catatan detail dari temuan ini tetap memberi nilai ilmiah yang besar.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
koin emas Tudor harta karun Inggris penemuan koin kuno






















