Rabu, 28/01/2026 17:06 WIB

Cara Spider Monkey Berburu Makanan Ternyata Mirip Manusia





Bagi spider monkey, primata yang sangat bergantung pada buah sebagai sumber makanan utama, kemampuan menemukan lokasi pohon buah secara efisien

Spider monkey berburu makanan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Menemukan buah di hutan tropis bukanlah perkara mudah. Pohon buah tidak selalu berada di tempat yang sama, kemunculannya bergantung musim, dan ketersediaannya bisa berubah dengan cepat.

Bagi spider monkey, primata yang sangat bergantung pada buah sebagai sumber makanan utama, kemampuan menemukan lokasi pohon buah secara efisien menjadi kunci bertahan hidup.

Alih-alih mengandalkan satu individu dengan ingatan sempurna tentang seluruh hutan, spider monkey mengembangkan strategi yang lebih cerdas. Mereka membagi tugas pencarian makanan ke banyak anggota kelompok.

Dengan cara ini, informasi tentang lokasi buah tidak tersimpan di satu otak saja, melainkan tersebar dan saling melengkapi di tingkat kelompok, sebagaimana dikutip dari Earth pada Rabu (28/1).

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa dinamika sosial spider monkey berperan besar dalam membangun apa yang disebut sebagai kecerdasan kolektif.

Perubahan komposisi kelompok yang terus-menerus membantu mereka berbagi pengetahuan tentang sumber makanan dan menciptakan memori kelompok yang jauh lebih kuat dibandingkan kemampuan individu.

Penelitian ini dipimpin oleh ilmuwan dari Universidad Nacional Autónoma de México (UNAM) bekerja sama dengan peneliti dari Heriot-Watt University dan University of Edinburgh. Fokus utama riset ini adalah memahami bagaimana struktur sosial dan pola pergerakan spider monkey mendukung proses berbagi informasi di lingkungan yang sangat dinamis.

Studi lapangan jangka panjang dilakukan di Semenanjung Yucatán, Meksiko, antara tahun 2012 hingga 2017. Selama periode tersebut, para peneliti mengikuti spider monkey dewasa selama beberapa jam setiap hari, berjalan kaki di hutan untuk mencatat pergerakan dan interaksi mereka secara langsung.

Lokasi dan anggota subkelompok dicatat menggunakan perangkat GPS genggam. Setiap monyet dewasa memiliki wilayah inti, yaitu area yang paling sering digunakan dalam aktivitas harian. Wilayah inti ini tidak bersifat statis, melainkan berubah mengikuti musim dan ketersediaan buah di hutan.

Spider monkey hidup dalam sistem sosial yang dikenal sebagai fission-fusion, di mana kelompok besar sering terpecah menjadi subkelompok kecil lalu bergabung kembali beberapa kali dalam sehari. Ukuran dan komposisi subkelompok berubah-ubah, menciptakan pola pertemuan yang fleksibel dan dinamis.

Pola ini memberikan keuntungan besar. Dengan sering berpisah, setiap individu atau subkelompok dapat menjelajah area hutan yang berbeda tanpa harus bersaing langsung dengan terlalu banyak anggota lain. Ketika mereka kembali bertemu, informasi yang dikumpulkan dari area berbeda dapat dibagikan secara tidak langsung.

Musim memainkan peran penting dalam dinamika ini. Pada musim kemarau, ketika buah menjadi langka dan tersebar, wilayah inti spider monkey cenderung membesar dan tumpang tindih antarindividu berkurang. Sebaliknya, pada musim hujan saat buah melimpah, wilayah jelajah mengecil dan kontak antarkelompok menjadi lebih sering.

Setiap spider monkey mengenal dengan baik pohon buah di wilayah intinya sendiri. Namun, ketika wilayah-wilayah ini saling tumpang tindih, pertemuan singkat antarindividu memungkinkan terjadinya pertukaran informasi tentang sumber makanan di area lain. Dengan kata lain, pengetahuan berpindah melalui ruang dan pergerakan, bukan lewat komunikasi langsung yang kompleks.

Para peneliti menemukan adanya keseimbangan penting antara tumpang tindih dan pemisahan wilayah. Terlalu banyak tumpang tindih akan membuat pencarian makanan menjadi berulang dan tidak efisien, sementara terlalu sedikit tumpang tindih dapat menghambat aliran informasi. Model matematika menunjukkan bahwa semakin besar ukuran kelompok, semakin kecil tingkat tumpang tindih yang optimal.

Data lapangan menunjukkan bahwa spider monkey secara alami mendekati keseimbangan tersebut. Mereka tampak mampu menyesuaikan pola pergerakan dan interaksi sosial untuk memaksimalkan eksplorasi sekaligus menjaga aliran informasi tetap berjalan.

Berbeda dengan banyak studi jaringan hewan yang hanya meneliti hubungan berpasangan, penelitian ini menyoroti interaksi kelompok yang lebih besar. Subkelompok yang terdiri dari tiga, empat, atau lebih individu sering kali berbagi area yang saling tumpang tindih. Untuk menganalisis pola ini, para peneliti menggunakan pendekatan matematis yang disebut simplicial complexes.

Pendekatan ini memungkinkan analisis interaksi di tingkat kelompok dan mengungkap adanya lubang dalam struktur jaringan. Lubang-lubang ini mewakili area atau informasi yang hanya diketahui oleh sebagian anggota kelompok, tetapi tidak oleh yang lain. Keberadaannya menunjukkan sifat saling melengkapi dari pengetahuan individu.

Analisis tersebut memberikan bukti kuat adanya kecerdasan kolektif. Lubang-lubang jaringan yang bertahan lama ditemukan di berbagai musim, dengan struktur yang lebih kaya pada musim kemarau ketika buah langka. Ini menunjukkan bahwa perbedaan pengetahuan antarindividu justru menjadi aset penting saat sumber daya terbatas.

Beberapa subkelompok berperan sebagai penghubung utama yang menyatukan berbagai kelompok lain. Subkelompok berukuran menengah terbukti paling efektif dalam menyebarkan informasi ke seluruh komunitas. Menariknya, tidak ditemukan hubungan kuat antara peran informasi dengan usia atau jenis kelamin. Struktur sosial dan pola pergerakan lebih menentukan dibandingkan karakteristik individu.

Para peneliti menyimpulkan bahwa spider monkey dengan pengetahuan berbeda tentang wilayah jelajahnya menyumbangkan potongan informasi yang saling melengkapi, sehingga kelompok secara keseluruhan dapat mengakses lebih banyak pohon buah dibandingkan kemampuan individu mana pun.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi konservasi. spider monkey menghadapi ancaman kehilangan habitat dan fragmentasi hutan. Jika jaringan ruang dan pergerakan terputus, aliran informasi dalam kelompok juga ikut terganggu, yang pada akhirnya dapat menurunkan peluang bertahan hidup.

Memahami kecerdasan kolektif membantu perencanaan konservasi yang lebih efektif. Melindungi habitat yang saling terhubung berarti tidak hanya menjaga lahan fisik, tetapi juga melestarikan aliran pengetahuan yang diwariskan antarindividu dan antar generasi.

Lebih luas lagi, pelajaran dari spider monkey melampaui dunia satwa liar. Banyak sistem alami, termasuk manusia, memecahkan masalah kompleks bukan melalui kendali terpusat, melainkan lewat pembagian informasi dan kerja sama fleksibel. Spider monkey menunjukkan bahwa kecerdasan kelompok dapat muncul dari keseimbangan antara eksplorasi dan berbagi.

KEYWORD :

kecerdasan kolektif hewan spider monkey hutan perilaku mencari makan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :