Sel kanker pankreas (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Kanker pankreas dikenal sebagai salah satu jenis kanker paling sulit diobati. Penyakit ini sering tumbuh sangat cepat, terdeteksi terlambat, dan yang paling membingungkan bagi para ilmuwan, kerap luput dari pengawasan sistem kekebalan tubuh.
Selama bertahun-tahun, kondisi ini dianggap sebagai sifat alami kanker pankreas yang tidak terlihat oleh imun. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan gambaran yang jauh lebih aktif dan strategis.
Sebuah studi baru yang dikutip Earth pada Rabu (28/1), mengungkap bahwa kemampuan kanker pankreas untuk menghindari sistem imun kemungkinan berkaitan langsung dengan kecepatan pertumbuhannya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sel kanker tidak sekadar pasif atau kebal terhadap deteksi imun, melainkan secara aktif mematikan sinyal bahaya internal yang seharusnya memicu respons pertahanan tubuh.
Riset tersebut dipimpin oleh Martin Eilers bersama tim Cancer Grand Challenges KOODAC dari University of Würzburg, Jerman, dengan kolaborasi peneliti internasional, termasuk dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Fokus utama penelitian ini adalah protein bernama MYC, molekul yang sudah lama dikenal dalam biologi kanker. MYC selama ini dipahami sebagai “mesin penggerak” pertumbuhan sel kanker karena perannya dalam mendorong pembelahan sel secara agresif. Tumor dengan aktivitas MYC tinggi cenderung tumbuh cepat dan sulit dikendalikan.
"Dalam banyak jenis tumor, protein ini merupakan salah satu penggerak utama pembelahan sel dan pertumbuhan tumor yang tak terkendali," kata Martin Eilers. Namun, pemahaman klasik ini ternyata belum cukup untuk menjelaskan mengapa tumor dengan MYC tinggi justru sering lolos dari pengawasan imun.
Secara teori, sel kanker yang tumbuh cepat berada dalam kondisi stres berat. Stres ini biasanya menghasilkan banyak limbah molekuler yang abnormal, yang seharusnya berfungsi sebagai tanda bahaya bagi sistem imun. Anehnya, pada kanker pankreas, sinyal peringatan ini seperti menghilang sebelum sempat terdeteksi.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa MYC memiliki peran kedua yang muncul khusus dalam kondisi stres tumor. Dalam keadaan normal, MYC bekerja dengan menempel pada DNA dan mengaktifkan gen-gen yang mendorong pertumbuhan. Namun, di lingkungan tumor yang penuh tekanan, MYC dapat berpindah fungsi dan mulai berikatan dengan molekul RNA yang baru terbentuk.
Peralihan ini mengubah perilaku MYC secara drastis. Banyak molekul MYC berkumpul membentuk klaster padat yang disebut multimer atau kondensat di dalam inti sel. Struktur ini bertindak sebagai titik kumpul yang menarik berbagai mesin molekuler lain ke satu lokasi tertentu.
Salah satu komponen penting yang direkrut ke dalam klaster MYC adalah kompleks eksosom, sebuah sistem pembersih molekuler di dalam sel. Dalam konteks ini, eksosom berperan memecah hibrida RNA-DNA, yaitu produk sampingan aktivitas gen yang tidak normal dan berpotensi berbahaya.
Hibrida RNA-DNA ini sebenarnya sangat penting karena berfungsi sebagai sinyal bahaya internal. Keberadaannya dapat memicu jalur sensor imun bawaan yang memberi tahu sistem kekebalan bahwa ada sesuatu yang salah di dalam sel. Dengan menghancurkan hibrida tersebut secara cepat, MYC secara efektif membungkam alarm sebelum sistem imun sempat bereaksi.
Artinya, kanker pankreas tidak hanya menghindari deteksi, tetapi secara aktif menghapus bukti molekuler yang bisa memancing kecurigaan sistem kekebalan tubuh. Inilah yang membuat tumor tampak tak terlihat meski sebenarnya menghasilkan banyak sinyal abnormal.
Temuan penting lainnya adalah bahwa fungsi MYC sebagai pendorong pertumbuhan dan sebagai alat penyamaran imun ternyata terpisah secara mekanisme. Penelitian ini mengaitkan kemampuan menghindari imun dengan bagian spesifik MYC yang berfungsi mengikat RNA, bukan bagian yang mengatur pembelahan sel.
Perbedaan ini sangat krusial bagi pengembangan terapi. Upaya sebelumnya untuk menghambat MYC secara total sering gagal karena protein ini juga penting bagi sel-sel normal. Menargetkan hanya fungsi pengikatan RNA membuka peluang terapi yang lebih presisi dan berpotensi lebih aman.
Dalam eksperimen pada hewan, peneliti memodifikasi MYC sehingga kehilangan kemampuan mengikat RNA. Hasilnya sangat mencolok. Tumor dengan MYC normal tumbuh hingga 24 kali lipat dalam 28 hari, sementara tumor dengan MYC cacat justru runtuh dan menyusut hingga 94 persen, tetapi hanya ketika sistem imun hewan masih berfungsi dengan baik.
Hal ini menunjukkan bahwa keruntuhan tumor bukan semata karena pertumbuhan sel melambat, melainkan karena sistem imun akhirnya mampu melihat dan menyerang kanker yang sebelumnya tersembunyi. Ketika jubah penyamaran dilepas, pertahanan tubuh langsung mengambil alih.
Alih-alih mematikan MYC sepenuhnya, para peneliti mengusulkan pendekatan yang lebih realistis, yaitu menghambat hanya kemampuan MYC dalam mengikat RNA. Strategi ini bertujuan membuka kedok tumor tanpa merusak fungsi MYC yang masih dibutuhkan oleh sel sehat.
"Daripada mematikan MYC sepenuhnya, obat di masa depan berpotensi hanya menghambat kemampuannya mengikat RNA," kata Eilers. Dengan begitu, fungsi pendorong pertumbuhan tetap ada, tetapi sel kanker kehilangan kemampuan bersembunyi dari sistem imun.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Cell.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
kanker pankreas protein MYC sistem imun




















