Rabu, 28/01/2026 15:09 WIB

Studi: Air Tanah di Pesisir Makin Asin, Waspadai Darah Tinggi





Kenaikan permukaan laut mendorong intrusi air asin ke sumber air tanah, sehingga meningkatkan kadar natrium dalam air tanah yang digunakan untuk minum

Ilustrasi meminum air putih (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Garam kerap kali disebut-sebut sebagai salah satu bahan makanan yang perlu dibatasi dalam konteks kandungan makanan ringan hingga makanan cepat saji.

Namun, air minum jarang masuk dalam perbincangan, karena banyak orang menganggap air bersifat netral dan tidak berbahaya bagi tubuh. Pandangan tersebut kini mulai dipertanyakan oleh temuan ilmiah terbaru.

Dikutip dari Earth pada Rabu (28/1), bukti baru menunjukkan bahwa garam dalam air minum dapat memengaruhi kesehatan jantung, khususnya tekanan darah.

Sebuah studi global berskala besar menemukan kaitan antara air minum dengan kadar garam tinggi dan peningkatan tekanan darah serta risiko hipertensi. Dampaknya terlihat lebih kuat di wilayah pesisir, tempat air tanah tawar sering bercampur dengan air laut.

Fenomena ini tidak terlepas dari perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut mendorong intrusi air asin ke sumber air tanah, sehingga meningkatkan kadar natrium dalam air yang digunakan sehari-hari untuk minum dan memasak. Di banyak daerah, perubahan ini terjadi perlahan dan nyaris tidak disadari oleh masyarakat.

Penelitian tersebut dilakukan dengan meninjau bukti ilmiah yang sudah ada dari berbagai negara. Tim peneliti dipimpin oleh Rajiv Chowdhury, Ketua Departemen Kesehatan Global di Florida International University. Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan melihat pola global, bukan hanya dampak lokal yang terisolasi.

Analisis tersebut menggabungkan hasil dari 27 studi berbasis populasi yang melibatkan lebih dari 74.000 partisipan. Data berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, Bangladesh, Vietnam, Kenya, Australia, Israel, serta sejumlah negara di Eropa. Banyak dari penelitian ini secara khusus menyoroti komunitas pesisir yang bergantung pada air tanah dengan tingkat salinitas tinggi.

Tekanan darah sendiri merupakan indikator penting kesehatan jantung. Angka tekanan darah menunjukkan seberapa kuat darah menekan dinding pembuluh arteri saat jantung memompa dan saat beristirahat. Jika tekanannya terlalu tinggi, risiko penyakit jantung, stroke, dan kerusakan ginjal ikut meningkat.

Garam, atau natrium, memainkan peran utama dalam mengatur volume cairan dan ketegangan pembuluh darah. Ketika asupan natrium berlebih, tubuh menahan lebih banyak air. Volume darah pun meningkat, sehingga tekanan di dalam pembuluh darah ikut naik dan membebani kerja jantung.

Hasil analisis menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi air dengan salinitas lebih tinggi memiliki rata-rata tekanan darah yang lebih tinggi. Tekanan sistolik meningkat sekitar 3,2 mm Hg, sementara tekanan diastolik naik hampir 2,8 mm Hg. Selain itu, terdapat peningkatan risiko hipertensi hingga 26 persen pada kelompok yang terpapar air asin.

Menurut Chowdhury, kenaikan ini memang terlihat kecil pada tingkat individu. Namun, ketika jutaan orang terpapar secara bersamaan, dampaknya menjadi signifikan bagi kesehatan masyarakat. Ia membandingkan tingkat risiko tersebut dengan faktor kardiovaskular lain yang sudah dikenal, seperti kurangnya aktivitas fisik.

Secara biologis, ada beberapa mekanisme yang menjelaskan efek ini. Natrium berlebih dapat mengubah struktur pembuluh darah kecil dan meningkatkan resistensi aliran darah. Selain itu, kadar garam tinggi menurunkan produksi nitric oxide, senyawa yang membantu pembuluh darah tetap rileks.

Ketika pembuluh darah kehilangan kemampuan untuk melebar dengan baik, tekanan darah cenderung meningkat. Natrium juga memengaruhi sistem saraf yang mengatur penyempitan pembuluh darah, sehingga tekanan dapat naik lebih jauh. Pada saat yang sama, ginjal berusaha membuang kelebihan natrium, tetapi fungsi ginjal yang menurun dapat membuat proses ini tidak optimal.

Wilayah pesisir menjadi area yang paling rentan terhadap masalah ini. Air tanah menyumbang hampir setengah dari pasokan air minum global, dan di daerah pesisir, sumber ini sangat mudah terkontaminasi air laut. Lebih dari tiga miliar orang di dunia tinggal di wilayah pesisir atau dekat pesisir, banyak di antaranya bergantung pada sumur sebagai sumber air utama.

Di beberapa wilayah Asia Selatan, kadar natrium dalam air minum dilaporkan jauh lebih tinggi dibandingkan Eropa atau Amerika Utara. Penggunaan air asin untuk memasak dan menanam tanaman pangan di tanah dengan salinitas tinggi semakin menambah asupan natrium harian masyarakat.

Meski demikian, kandungan garam dalam air minum masih sering diabaikan dalam kebijakan kesehatan. Pedoman kesehatan global umumnya menyoroti makanan sebagai sumber utama natrium, sementara air minum jarang diperhitungkan. Bahkan, rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia untuk kadar natrium dalam air lebih didasarkan pada rasa, bukan dampak kesehatan.

Para ahli kesehatan masyarakat kini mendorong pemantauan salinitas air yang lebih ketat, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim. Upaya seperti penampungan air hujan, sistem filtrasi yang lebih baik, dan pengelolaan air tanah dinilai penting untuk mengurangi paparan natrium berlebih.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal BMJ Global Health.

KEYWORD :

garam air minum tekanan darah tinggi air pesisir asin




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :