Rabu, 28/01/2026 14:49 WIB

4 Tradisi Menjaga Bumi di Jabar, Kearifan Lokal Sunda yang Wajib Lestari





Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang dikenal memiliki beragam tradisi adat yang berakar pada upaya menjaga keseimbangan alam

Ngertakeun Bumi Lamba, salah satu tradisi menjaga bumi di Jawa Barat (Foto: Pas Jabar)

Jakarta, Jurnas.com - Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang dikenal memiliki beragam tradisi adat yang berakar pada upaya menjaga keseimbangan alam. Di tengah arus modernisasi, kearifan lokal masyarakat Sunda tetap bertahan serta makin relevan sebagai pedoman dalam menjaga bumi dan lingkungan sekitarnya.

Bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya Sunda, bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan ruang hidup yang harus dihormati dan dirawat bersama. Nilai tersebut tercermin dalam berbagai upacara adat yang masih lestari hingga kini.

Beragam upacara adat yang diwariskan secara turun-temurun tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Sunda, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman hidup untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Berikut beberapa tradisi menjaga bumi di Jawa Barat yang menunjukkan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam, yang masih relevan hingga kini dan wajib lestari.

1. Ngertakeun Bumi Lamba

Ngertakeun Bumi Lamba merupakan tradisi masyarakat Sunda sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan tanah dan kelimpahan alam. Secara harfiah, tradisi ini bermakna “memelihara bumi yang luas”, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Sunda tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Dikutip dari Mongabay, Ngertakeun Bumi Lamba merupakan ritual tahunan yang digelar setiap bulan Kapitu (bulan ke-7 Suryakala, kalender Sunda), bertepatan dengan perjalanan matahari yang kembali dari utara menuju selatan. Upacara ini menjadi momen penting untuk menegaskan hubungan harmonis manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Ngertakeun Bumi Lamba menekankan pemeliharaan tiga gunung suci sebagai paku alam: Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Wayang, dan Gunung Gede. Gunung-gunung ini dianggap sebagai guru spiritual (guru nu agung) dan sumber kehidupan masyarakat Sunda. Kerusakan atau bencana alam diyakini sebagai akibat perilaku manusia yang berlebihan, sehingga upacara ini sekaligus berfungsi sebagai pengingat moral untuk menjaga alam.

Filosofi hidup Sunda, Mulasara Buana, atau memelihara alam semesta, tercermin dalam pengelolaan hutan di kawasan gunung: Leuweung Larangan, hutan keramat yang tidak boleh diganggu; Leuweung Tutupan, hutan lindung yang digunakan secara terbatas; Leuweung Baladaheun, hutan titipan yang dikelola dengan bijaksana.

Ngertakeun Bumi Lamba menjadi pengingat bahwa alam tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan, melainkan dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang sebagaimana nenek moyang Sunda atau leluhur telah ajarkan.

2. Seren Taun

Di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat, masyarakat adat menggelar Seren Taun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi. Tradisi ini menekankan nilai ketahanan pangan melalui penyimpanan hasil panen di leuit atau lumbung padi.

Sebanyak 10 persen hasil panen disimpan sebagai cadangan, bahkan ada padi yang berusia ratusan tahun. Bagi masyarakat Ciptagelar, padi adalah simbol kehidupan, sehingga menjual beras dipandang sebagai menjual kehidupan itu sendiri.

3. Hajat Sasih Kampung Naga

Hajat Sasih merupakan tradisi turun-temurun masyarakat adat Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat. Upacara ini dilaksanakan enam kali dalam setahun sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan, keberhasilan, serta kesuburan tanah.

Rangkaian kegiatan seperti pembersihan makam leluhur, mandi di Sungai Ciwulan, hingga makan bersama mencerminkan keselarasan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Pada 2024, Hajat Sasih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, menegaskan perannya dalam pelestarian budaya dan lingkungan.

4. Ngaruwat Bumi

Tradisi Ngaruwat Bumi, yang juga dikenal sebagai Hajat Bumi, telah dilakukan sejak abad ke-19 di berbagai daerah Jawa Barat, seperti Karawang, Subang, Purwakarta, Lembang, dan Bandung. Tradisi ini bermula dari upaya masyarakat menghadapi bencana alam dan berkembang menjadi ritual syukur serta penolak bala.

Ngaruwat Bumi biasanya digelar sebelum masa tanam sebagai simbol permohonan keselamatan dan keberkahan, sekaligus pengingat akan tanggung jawab manusia terhadap alam.

 
KEYWORD :

Tradisi Menjaga Bumi Tradisi di Jabar Jawa Barat Ngertakeun Bumi Lamba




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :