Selasa, 27/01/2026 22:12 WIB

Bisa Terbang tanpa Melihat, Ini Rahasia Pendengaran Kelelawar





Terbang cepat dalam kondisi gelap total memang terdengar mustahil bagi manusia. Namun, itulah yang dilakukan kelelawar hampir setiap malam.

Kelelawar terbang pada malam hari (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Terbang cepat dalam kondisi gelap total memang terdengar mustahil bagi manusia. Namun, itulah yang dilakukan kelelawar hampir setiap malam. Mereka bisa bermanuver di antara daun, ranting, dan celah sempit tanpa menabrak, bahkan tanpa melambat drastis.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kunci kemampuan luar biasa ini bukan karena kelelawar melihat melalui pantulan suara, melainkan karena mereka mendengarkan bagaimana pantulan suara itu bergerak. Perubahan halus pada suara pantul memberi petunjuk penting tentang kecepatan dan arah gerak mereka sendiri.

Kelelawar menggunakan ekolokasi, yaitu memancarkan suara lalu mendengarkan pantulannya untuk memahami lingkungan sekitar, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (27/1).

Namun, di ruang yang penuh penghalang seperti hutan atau pagar tanaman, satu teriakan saja bisa menghasilkan ratusan pantulan suara dari berbagai arah sekaligus. Mustahil jika semuanya harus dianalisis satu per satu.

Menurut Dr. Athia Haron dari University of Bristol, dalam kondisi seperti itu, kelelawar memakai jalan pintas. Mereka tidak fokus pada setiap daun atau cabang, melainkan pada pola umum perubahan suara pantul saat mereka bergerak maju. Pola ini disebut acoustic flow, atau aliran suara.

Cara kerjanya cukup sederhana. Saat kelelawar terbang, suara yang dipantulkan akan sedikit berubah nadanya, bisa menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Perubahan ini terjadi karena gerakan, sebuah efek fisika yang dikenal sebagai efek Doppler. Dari sinilah kelelawar merasakan apakah mereka terlalu cepat atau perlu memperlambat laju.

Untuk menguji ide ini di alam terbuka, para peneliti membangun lorong terbang sepanjang sekitar delapan meter di dekat jalur hutan. Lorong ini berisi ribuan daun plastik yang bisa digerakkan menggunakan motor.

Dengan cara ini, peneliti dapat membuat suara pantul terdengar seolah-olah bergerak lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya.

Lorong tersebut tidak sepenuhnya tertutup, sehingga kelelawar tetap mendengar suara dari pepohonan dan tanah di sekitarnya. Ini penting agar kondisi uji tetap menyerupai alam liar, bukan lingkungan laboratorium yang terlalu terkendali.

Hasilnya cukup jelas. Saat suara pantul bergerak berlawanan arah dengan kelelawar, hewan ini langsung memperlambat terbangnya. Sebaliknya, saat suara pantul bergerak searah, kelelawar justru mempercepat laju. Respons ini terjadi hampir seketika, menunjukkan bahwa mereka menggunakan perubahan suara sebagai panduan utama.

Perubahan kecepatan memang tidak ekstrem, karena kelelawar hanya berada di lorong tersebut selama beberapa detik dan masih mendengar suara lain dari luar. Namun, reaksi cepat ini membuktikan bahwa aliran suara benar-benar berfungsi sebagai penunjuk arah dan kecepatan.

Menariknya, sinyal paling penting bukan berasal dari seberapa keras atau seberapa cepat suara kembali, melainkan dari perubahan nadanya. Setiap teriakan kelelawar langsung memberi informasi baru tentang kecepatan relatif, tanpa perlu membandingkan banyak pantulan sekaligus.

Jenis kelelawar yang diteliti bukan kelompok yang dikenal sangat ahli dalam efek Doppler. Namun, mereka tetap merespons kuat terhadap perubahan nada suara. Ini mengisyaratkan bahwa trik sederhana ini mungkin digunakan oleh banyak spesies kelelawar, bukan hanya segelintir saja.

Peneliti juga mencatat bahwa saat mendekati lorong bergerak, kelelawar meningkatkan frekuensi panggilan suara mereka. Artinya, mereka mengambil sampel lingkungan lebih sering untuk mendapatkan pembaruan cepat tentang kondisi sekitar.

Temuan ini tidak hanya penting untuk memahami perilaku hewan. Dunia teknik juga menghadapi masalah serupa. Drone dan robot terbang masih kesulitan bergerak aman di ruang sempit, gelap, atau penuh rintangan, terutama saat kamera dan GPS tidak bisa diandalkan.

Sebagian sistem navigasi memakai pola gerak visual dari kamera, tetapi pendekatan ini gagal di kondisi minim cahaya. Prinsip acoustic flow yang digunakan kelelawar bisa menjadi alternatif, dengan mikrofon menggantikan kamera dan perubahan nada suara menggantikan penglihatan.

Dengan pendekatan ini, mesin tidak perlu menghitung setiap objek di sekitarnya. Cukup mendengarkan apakah suara pantul naik atau turun nadanya, lalu menyesuaikan kecepatan secara otomatis. Perhitungan berat bisa disimpan untuk tugas lain yang lebih kompleks.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B.

KEYWORD :

cara kelelawar terbang ekolokasi kelelawar navigasi suara




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :