Selasa, 27/01/2026 17:48 WIB

Bumi Menghangat, Amoeba Pemakan Otak Menyebar di Seluruh Dunia





Air jernih sering kali dianggap aman. Padahal, di balik air yang tampak bersih, bisa saja tersembunyi organisme berbahaya yang tidak terlihat oleh mata.

Ilustrasi seseorang berenang di sungai (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Air jernih sering kali dianggap aman. Padahal, di balik air yang tampak bersih, bisa saja tersembunyi organisme berbahaya yang tidak terlihat oleh mata.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat beberapa kuman berbahaya semakin mudah tumbuh dan menyebar. Salah satu ancaman yang mulai mendapat perhatian serius adalah kelompok mikroorganisme bernama free-living amoebae atau amoeba hidup bebas.

Amoeba ini hidup alami di lingkungan, terutama di air dan tanah. Dalam kondisi tertentu, sebagian kecil dari mereka bisa menyebabkan penyakit serius pada manusia. Para peneliti kesehatan lingkungan menilai ancaman ini berpotensi meningkat jika tidak ditangani sejak dini.

Amoeba hidup bebas ditemukan hampir di seluruh dunia. Mereka bisa hidup di danau, sungai, kolam renang, tanah lembap, bahkan di sistem air ledeng rumah tangga. Masalahnya, banyak negara belum memantau keberadaan mikroorganisme ini secara rutin.

Amoeba adalah makhluk hidup bersel tunggal, artinya tubuhnya hanya terdiri dari satu sel. Walaupun terdengar sederhana, beberapa jenis amoeba mampu bertahan dalam kondisi ekstrem dan sangat sulit dimusnahkan.

Sebagian besar amoeba tidak berbahaya bagi manusia. Namun, ada beberapa jenis yang bisa menyebabkan penyakit berat. Salah satu yang paling dikenal adalah Naegleria fowleri, yang sering disebut sebagai amoeba pemakan otak.

Amoeba ini bisa menyebabkan infeksi otak yang sangat langka tetapi hampir selalu berakibat fatal. Infeksi terjadi ketika air yang mengandung amoeba masuk ke dalam hidung, lalu bergerak menuju otak. Hal ini bisa terjadi saat berenang, menyelam, atau membersihkan hidung dengan air yang tidak steril.

Walaupun jumlah kasusnya sedikit, tingkat kematian yang sangat tinggi membuat para ahli kesehatan sangat khawatir. Begitu infeksi dimulai, peluang bertahan hidup sangat kecil meskipun sudah mendapatkan perawatan medis.

Amoeba hidup bebas sangat menyukai air hangat. Karena itu, kenaikan suhu global menjadi faktor penting yang memperbesar risiko penyebaran mereka. Air yang sebelumnya terlalu dingin kini menjadi tempat yang cocok untuk pertumbuhan amoeba.

Cuaca yang semakin panas memungkinkan amoeba menyebar ke wilayah baru yang sebelumnya aman. Peneliti Longfei Shu dari Sun Yat-sen University menjelaskan bahwa kemampuan bertahan amoeba ini sangat mengkhawatirkan.

Menurutnya, amoeba dapat hidup dalam kondisi yang biasanya mematikan bagi kuman lain. Mereka tahan terhadap suhu tinggi, zat disinfektan seperti klorin, dan bahkan bisa bertahan di dalam sistem pipa air yang dianggap aman oleh masyarakat.

Sistem pengolahan air umumnya menggunakan klorin untuk membunuh bakteri dan virus. Cara ini cukup efektif untuk banyak kuman, tetapi tidak selalu berhasil melawan amoeba hidup bebas. Beberapa jenis amoeba mampu bertahan meskipun air sudah melalui proses desinfeksi.

Lebih berbahaya lagi, amoeba bisa bersembunyi di dalam pipa, tangki penyimpanan air, dan saluran distribusi. Di tempat-tempat ini, mereka bisa berkembang tanpa terdeteksi. Air tetap terlihat jernih, tidak berbau, dan terasa normal, meskipun sebenarnya mengandung organisme berbahaya.

Masalah lain yang lebih serius adalah kemampuan amoeba untuk menyembunyikan kuman lain di dalam tubuhnya. Bakteri dan virus bisa hidup di dalam amoeba, terlindung dari klorin dan lingkungan luar. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai efek kuda Troya.

Kuman yang bersembunyi di dalam amoeba bisa lolos dari sistem pengolahan air. Ketika dilepaskan, kuman tersebut berpotensi lebih berbahaya dan lebih mudah menginfeksi manusia. Proses ini juga dikaitkan dengan meningkatnya resistansi antibiotik.

Pemanasan global memperparah situasi ini. Suhu air yang lebih tinggi mendukung pertumbuhan amoeba yang menyukai panas. Akibatnya, wilayah yang sebelumnya tidak pernah mengalami kasus infeksi kini mulai menghadapi risiko baru.

Beberapa kasus infeksi yang terkait dengan aktivitas rekreasi air sudah dilaporkan di berbagai negara. Danau, kolam renang, dan taman air menjadi tempat yang berisiko, terutama saat gelombang panas melanda.

Para peneliti menyerukan pendekatan yang disebut One Health. Pendekatan ini menggabungkan kesehatan manusia, lingkungan, dan pengelolaan air dalam satu sistem terpadu. Tujuannya adalah mencegah penyakit sejak dari sumbernya.

Pemantauan kualitas air yang lebih baik, metode deteksi yang lebih cepat, serta teknologi pengolahan air yang lebih canggih dianggap penting untuk menekan risiko. Kerja sama antara ilmuwan, otoritas kesehatan, dan pengelola air menjadi kunci utama.

"Amoeba bukan hanya masalah medis atau masalah lingkungan. Mereka berada di titik pertemuan keduanya, dan solusi yang dibutuhkan harus melindungi kesehatan manusia sejak dari air yang kita gunakan," kata Shu dikutip dari Earth pada Selasa (27/1).

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Biocontaminant.

KEYWORD :

amoeba berbahaya air hangat global kesehatan lingkungan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :