Ilustrasi udara berpolusi (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Polusi udara dikenal luas sebagai ancaman bagi paru-paru dan sistem pernapasan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya jauh lebih kompleks.
Menghirup udara tercemar ternyata dapat memicu kerusakan pada saluran pencernaan dan jantung secara bersamaan, bahkan tanpa menimbulkan gejala yang langsung terasa.
Studi ini mengungkap jalur biologis yang sebelumnya jarang diperhatikan, yakni hubungan antara udara yang dihirup, mikroba usus, dan pembentukan plak di pembuluh darah.
Para ilmuwan berhasil menelusuri bagaimana partikel polusi dapat bergerak dari saluran pernapasan, melewati sistem pencernaan, lalu berkontribusi pada penyakit jantung, sebagaimana dikutip dari Earth pada Senin (26/1).
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari University of California, Los Angeles (UCLA) dan dipimpin oleh Dr. Jesus A. Araujo, MD, PhD, seorang pakar kardiologi lingkungan yang meneliti pencegahan penyakit jantung akibat faktor lingkungan.
Saat udara tercemar masuk ke saluran napas, lendir di paru-paru berfungsi sebagai perangkap bagi partikel asing dan polutan berukuran sangat kecil. Paru-paru kemudian mendorong partikel ini ke arah tenggorokan, dan secara alami partikel tersebut ikut tertelan menuju saluran pencernaan.
Di dalam usus, terutama karena ukurannya yang sangat kecil, sebagian partikel polusi mampu menembus lapisan usus dan masuk ke aliran darah. Dari sana, zat-zat tersebut dapat beredar ke berbagai organ, termasuk hati dan jantung.
Untuk memahami proses ini secara rinci, para peneliti melakukan eksperimen pada tikus. Selama 10 minggu, satu kelompok tikus dihirupkan udara tercemar, sementara kelompok lainnya menghirup udara yang telah disaring. Paparan dilakukan selama enam jam per hari, tiga kali seminggu, dengan pemantauan ketat terhadap perubahan biologis.
Hasilnya menunjukkan bahwa udara tercemar mengubah komposisi mikroba di sekum, bagian awal usus besar yang berperan penting dalam fermentasi makanan. Menariknya, perubahan ini tidak terlihat pada usus halus, menandakan bahwa dampak polusi bersifat sangat spesifik terhadap wilayah tertentu dalam sistem pencernaan.
Perubahan di sekum dianggap penting karena di sanalah bakteri usus menghasilkan berbagai senyawa kimia yang kemudian masuk ke hati dan pembuluh darah. Dengan kata lain, gangguan mikroba di area ini dapat mengubah sinyal metabolik yang memengaruhi seluruh tubuh.
Peneliti tidak menemukan satu jenis bakteri tertentu sebagai penyebab utama. Sebaliknya, mereka melihat perubahan pada keseluruhan komunitas mikroba. Analisis tinja menunjukkan peningkatan kadar asam lemak rantai pendek, senyawa hasil fermentasi serat oleh bakteri usus yang dapat memengaruhi peradangan dan metabolisme.
Di luar usus, dampak polusi juga terlihat pada hati. Tikus yang terpapar udara tercemar menunjukkan tanda-tanda stres kimia, termasuk aktivasi gen pelindung akibat tekanan oksidatif. Sel hati juga mengalami gangguan dalam pelipatan protein, sebuah kondisi yang dapat mengacaukan metabolisme dan keseimbangan energi.
Meski hubungan langsung antara sinyal dari hati dan pembentukan plak di pembuluh darah belum sepenuhnya dibuktikan, temuan ini memperkuat dugaan bahwa polusi udara memicu efek berantai lintas organ.
Yang paling mengkhawatirkan, para peneliti menemukan bahwa tikus yang terpapar polusi mengalami perkembangan aterosklerosis yang lebih parah. Penelitian lain juga mengaitkan partikel polusi dengan peningkatan sinyal pembekuan darah di arteri, kondisi yang mempercepat pembentukan plak.
“Namun, mekanisme dan jalur biologis spesifik yang menghubungkan semua proses ini masih belum sepenuhnya dipahami,” kata Araujo. Dia mengatakan bahwa meskipun hasil pada tikus tidak dapat langsung disamakan dengan manusia, pola biologisnya patut menjadi perhatian serius.
Salah satu temuan paling mencemaskan adalah tidak adanya tanda peradangan usus yang jelas selama paparan. Artinya, kerusakan dapat terjadi secara diam-diam, tanpa rasa sakit atau gejala yang biasanya menjadi peringatan dini.
Perubahan mikroba tingkat rendah tetap dapat memungkinkan molekul berbahaya bocor ke aliran darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung tanpa disadari oleh penderitanya. Araujo juga memperingatkan bahwa polusi udara dapat merusak kesehatan secara senyap.
"Polusi udara mendorong penyakit kardiovaskular dan meningkatkan kematian akibat jantung melalui mekanisme yang belum sepenuhnya kita pahami. Dampaknya bisa menghancurkan kehidupan tanpa peringatan apa pun," ujar dia.
Menariknya, tidak semua individu merespons polusi dengan tingkat kerusakan yang sama. Faktor genetik diduga memengaruhi jenis mikroba yang berkembang di usus sejak dini, sehingga menentukan senyawa kimia apa yang dihasilkan dan dikirim ke organ lain.
“Meski semua orang di suatu wilayah terpapar tingkat polusi yang serupa, dampaknya terhadap kesehatan bisa sangat berbeda,” Araujo menambahkan.
Data global memperkuat urgensi masalah ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 4,2 juta kematian dini akibat polusi udara luar ruangan pada 2019, dengan sekitar 68 persen disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke.
Langkah perlindungan pribadi seperti penyaring udara dalam ruangan atau masker dapat membantu, tetapi akses terhadap solusi tersebut tidak merata. Karena itu, kebijakan publik seperti pengendalian emisi industri, energi bersih, dan perencanaan kota yang sehat tetap menjadi kunci perlindungan massal.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Environment International.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
polusi udara kesehatan usus penyakit jantung

















