Senin, 26/01/2026 19:39 WIB

Intervensi Sel, Ilmuwan Yakin Bisa Tunda Penuaan Manusia





Riset terbaru menunjukkan bahwa penuaan lahir dari kesalahan instruksi di dalam sel, bukan sekadar keausan alami.

Ilustrasi intervensi sel untuk menunda penuaan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Proses penuaan selama ini dipahami sebagai akumulasi kerusakan biologis yang tak terelakkan. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa penuaan lahir dari kesalahan instruksi di dalam sel, bukan sekadar keausan alami.

Dikutip dari Earth pada Senin (26/1), penemuan ini membuka peluang baru untuk memperlambat bahkan membalikkan sebagian efek penuaan pada jaringan manusia.

Para ilmuwan menemukan bahwa seiring bertambahnya usia, sel-sel tubuh secara perlahan kehilangan identitas fungsionalnya. Sel yang seharusnya menjalankan tugas khusus mulai beralih ke peran yang lebih umum dan fleksibel, sebuah perubahan yang dapat memicu jaringan parut, melemahkan organ, dan mempercepat kegagalan fungsi tubuh.

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan di Altos Labs dan dipimpin oleh Dr. Juan Carlos Izpisua Belmonte, seorang pakar reprogramming sel dan perbaikan jaringan.

Alih-alih memandang penuaan sebagai kerusakan permanen, timnya menilai bahwa penuaan merupakan akibat dari instruksi genetik yang menyimpang seiring waktu.

Dalam kondisi normal, setiap jaringan tubuh tetap sehat karena sel-selnya menjaga identitas yang jelas dan mematuhi program genetiknya. Namun, analisis terhadap berbagai organ manusia menunjukkan bahwa penuaan mengaburkan instruksi tersebut secara sistemik, tidak terbatas pada satu organ saja.

Fenomena ini dikenal sebagai mesenchymal drift, yaitu kecenderungan sel yang telah terspesialisasi untuk mengaktifkan gen-gen khas jaringan penunjang yang fleksibel. Perubahan ini membuat jaringan menjadi lebih tebal, kaku, dan lambat beregenerasi, kondisi yang sering ditemukan pada organ yang menua.

Menariknya, pola mesenchymal drift tidak hanya muncul pada penuaan alami, tetapi juga pada berbagai penyakit kronis. Dalam analisis terhadap lebih dari 40 jenis jaringan manusia dan 20 penyakit berbeda, termasuk gagal ginjal dan fibrosis paru, tingkat drift yang lebih tinggi berkorelasi dengan progres penyakit yang lebih cepat dan angka kelangsungan hidup yang lebih rendah.

Konsistensi pola ini membuat para peneliti menilai bahwa mesenchymal drift bukan sekadar efek samping penyakit, melainkan bagian dari mekanisme dasar yang mempercepat kerusakan jaringan. Meski demikian, karena sebagian besar penelitian dilakukan dalam satu institusi, temuan ini masih memerlukan verifikasi independen.

Untuk menguji apakah drift tersebut benar-benar menjadi penyebab kerusakan, tim peneliti menonaktifkan beberapa gen pengendali utama yang memicu program jaringan parut. Hasilnya, sel-sel menunjukkan pola epigenetik yang lebih menyerupai kondisi muda, termasuk tanda kimia yang mengatur gen aktif dan tidak aktif.

Respons tersebut mengindikasikan bahwa penuaan sel tidak sepenuhnya bersifat irreversibel. Mengubah beberapa saklar genetik saja mampu memulihkan banyak jalur biologis sekaligus, meskipun percobaan ini masih dilakukan dalam lingkungan laboratorium yang terkontrol.

Pendekatan lain yang diteliti adalah partial reprogramming, yaitu mengaktifkan faktor peremajaan genetik dalam waktu singkat. Tujuannya bukan mengembalikan sel menjadi sel punca, melainkan menghentikan proses penuaan sebelum identitas sel benar-benar hilang.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa reprogramming penuh dapat merusak struktur jaringan dan meningkatkan risiko kanker. Karena itu, para ilmuwan kini berfokus pada jendela aman di mana manfaat peremajaan muncul tanpa menghapus memori fungsional sel.

Eksperimen pada hewan telah memberikan petunjuk penting. Dalam model tikus yang mengalami penuaan cepat, pulsa singkat program reprogramming terbukti memperbaiki penanda biologis penuaan dan memperpanjang usia hidup. Studi lanjutan pada tikus normal juga menunjukkan peremajaan molekuler pada ginjal dan kulit.

Namun, hasil tersebut sekaligus menegaskan betapa rapuhnya keseimbangan terapi ini. Dosis yang berlebihan dapat membuat sel kehilangan kendali, memicu disfungsi jaringan, atau meningkatkan risiko pertumbuhan abnormal.

Tantangan lain terletak pada sistem pengantaran terapi. Terapi gen harus mencapai sel yang tepat, bekerja dalam durasi terbatas, dan berhenti tepat waktu. Kesalahan kecil dalam pengaturan dapat berakibat fatal pada jaringan kompleks tubuh manusia.

“Memulihkan dan mempertahankan kesehatan seluler adalah salah satu tantangan paling ambisius dan penting di zaman kita,” ujar Dr. Belmonte dalam publikasi ilmiahnya.

Uji klinis awal dirancang dengan sangat hati-hati. Salah satu uji terdaftar merencanakan pemberian dosis tunggal terapi ER-100 untuk glaukoma dan cedera saraf optik. Mata dipilih karena memungkinkan pengantaran lokal dan pemantauan perubahan yang presisi.

Meski hasil awal tampak menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa penerapan terapi ini ke seluruh tubuh memerlukan kontrol yang jauh lebih ketat serta pemantauan jangka panjang untuk memastikan keamanannya.

Jika mesenchymal drift benar-benar merupakan pola umum penuaan, maka menargetkannya dapat membantu mengurangi jaringan parut dan menjaga fungsi organ lebih lama. Pendekatan ini juga berpotensi mengubah cara dokter menangani berbagai penyakit terkait usia dengan satu strategi biologis yang sama.

Tidak ada satu solusi tunggal yang dapat menghentikan penuaan sepenuhnya. Namun, dengan memetakan satu proses dasar yang memengaruhi banyak organ sekaligus, para ilmuwan kini memiliki target yang lebih konkret untuk memperlambat dampak biologis usia.

Studi ini dipublikasikan melalui The National Library of Medicine.

KEYWORD :

penundaan penuaan program ulang sel mesenchymal drift




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :