Konsumsi oat memiliki manfaat kesehatan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Oat atau gandum utuh selama ini kerap dianggap sebagai bahan makanan biasa yang mudah ditemukan di rak supermarket. Harganya terjangkau, rasanya hambar, dan tak jarang diabaikan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa makanan sederhana ini memiliki dampak kesehatan yang jauh lebih besar dari perkiraan, bahkan dalam waktu yang sangat singkat.
Sebuah studi baru mengungkap bahwa hanya dua hari menjalani pola makan berbasis oatmeal dapat memberikan perbaikan signifikan pada kadar kolesterol, dan efeknya dapat bertahan selama beberapa minggu.
Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa intervensi diet jangka sangat pendek pun mampu memicu perubahan metabolik yang bermakna, terutama pada kelompok berisiko tinggi.
Dikutip dari Earth pada Senin (26/1), penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Bonn, Jerman, dengan fokus pada individu yang mengalami sindrom metabolik.
Miliki Gejala Ini? Waspada Sindrom Metabolik
Kondisi tersebut tergolong serius dan cukup umum, ditandai dengan kombinasi kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang meningkat, serta profil lemak darah yang tidak sehat. Jika tidak dikendalikan, sindrom metabolik secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Selama ini, pengobatan modern banyak mengandalkan obat-obatan untuk mengendalikan faktor risiko tersebut. Namun para peneliti ingin melihat seberapa besar peran makanan jika dijadikan alat utama, meskipun hanya dalam waktu singkat.
Marie-Christine Simon, profesor muda di Institute of Nutritional and Food Science sekaligus salah satu penulis studi, menilai pendekatan diet seperti ini pernah memiliki tempat penting dalam dunia medis, tetapi kemudian terpinggirkan.
Menurut Simon, keberadaan obat-obatan yang efektif membuat metode diet tertentu nyaris terlupakan dalam praktik klinis modern. Padahal, pola makan sederhana seperti konsumsi oat pernah digunakan sebagai bagian dari strategi pengendalian metabolik, khususnya sebelum terapi farmakologis berkembang pesat seperti sekarang.
Dalam penelitian ini, peserta diminta mengikuti pola makan yang cukup ketat. Selama dua hari penuh, mereka mengonsumsi hampir seluruh asupan harian dalam bentuk oatmeal.
Setiap peserta mengonsumsi sekitar 300 gram oat per hari yang dimasak dengan air, dengan tambahan kecil berupa buah atau sayuran. Selain itu, total kalori yang masuk dipangkas hingga sekitar setengah dari konsumsi normal mereka.
Sebanyak 32 pria dan perempuan menyelesaikan diet berbasis oat ini. Sebagai pembanding, kelompok lain menjalani diet rendah kalori tanpa oat. Kedua kelompok memang mengalami perbaikan kesehatan tertentu, yang wajar terjadi ketika asupan kalori berkurang. Namun, kelompok yang mengonsumsi oat menunjukkan hasil yang lebih menonjol dan bertahan lebih lama.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar kolesterol LDL, yang dikenal sebagai kolesterol “jahat”, turun sekitar 10 persen pada kelompok oat. Penurunan ini tergolong signifikan, meskipun masih belum sebanding dengan efek obat penurun kolesterol modern. Selain itu, peserta rata-rata mengalami penurunan berat badan sekitar dua kilogram dan sedikit penurunan tekanan darah.
Kolesterol LDL menjadi perhatian utama karena perannya dalam pembentukan plak pada dinding pembuluh darah. Jika kadarnya terlalu tinggi, LDL dapat menumpuk dan mempersempit aliran darah.
Dalam kondisi tertentu, plak tersebut dapat pecah dan memicu pembentukan gumpalan darah yang berpotensi menyebabkan serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, bahkan penurunan LDL sebesar 10 persen memiliki dampak besar pada risiko kesehatan jangka panjang.
Menariknya, efek oat tidak hanya berasal dari serat atau kandungan gizinya semata, tetapi juga dari interaksinya dengan mikrobiota usus. Penelitian ini menemukan bahwa konsumsi oatmeal mengubah komposisi bakteri usus, yang kemudian menghasilkan senyawa-senyawa tertentu dengan pengaruh positif terhadap metabolisme kolesterol.
Linda Klümpen, penulis utama studi, menjelaskan bahwa beberapa jenis bakteri usus meningkat jumlahnya setelah konsumsi oat. Bakteri ini memecah komponen oat dan menghasilkan senyawa fenolik, termasuk ferulic acid, yang sebelumnya dalam studi hewan diketahui dapat membantu mengatur metabolisme kolesterol. Temuan ini menunjukkan mekanisme biologis yang masuk akal di balik manfaat oat.
Selain itu, bakteri usus juga berperan dalam menurunkan kadar histidin, asam amino yang dapat diubah tubuh menjadi senyawa yang berkaitan dengan resistensi insulin.
Karena resistensi insulin merupakan langkah awal menuju diabetes tipe 2, pengurangan proses ini menjadi keuntungan tambahan dari diet berbasis oat.
Para peneliti juga menguji pendekatan yang lebih ringan, yaitu konsumsi 80 gram oat per hari selama enam minggu tanpa pembatasan kalori. Hasilnya menunjukkan efek yang jauh lebih kecil.
Hal ini mengindikasikan bahwa tubuh mungkin merespons lebih kuat terhadap perubahan pola makan yang singkat namun intens dibandingkan perubahan kecil dalam jangka panjang.
Simon menyimpulkan bahwa diet oat jangka pendek yang dilakukan secara berkala berpotensi menjadi strategi yang mudah diterima untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal dan membantu mencegah diabetes.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa oat tidak dimaksudkan untuk menggantikan obat-obatan, melainkan sebagai pelengkap yang sederhana dan murah.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.diet oatmeal, kolesterol LDL, sindrom metabolik
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
diet oatmeal kolesterol LDL sindrom metabolik



















