Senin, 26/01/2026 16:57 WIB

Penambangan Lithium Hasilkan Ekosistem Penuh Logam Beracun





Permintaan global terhadap lithium terus melonjak seiring percepatan transisi energi dan meningkatnya produksi kendaraan listrik.

Tambang lithium di Bolivia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Permintaan global terhadap lithium terus melonjak seiring percepatan transisi energi dan meningkatnya produksi kendaraan listrik. Namun, di balik perannya sebagai bahan kunci baterai modern, proses penambangan lithium menyimpan risiko lingkungan yang jarang terlihat.

Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa eksploitasi lithium dapat memperbesar bahaya logan beracun secara perlahan, bahkan di lokasi yang selama ini dikenal sebagai salah satu lanskap alam paling ikonik di dunia.

Cadangan lithium terbesar yang diketahui saat ini berada di bawah Salar de Uyuni, dataran garam raksasa di Bolivia. Kawasan ini selama puluhan tahun dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia, terutama saat musim hujan singkat mengubah permukaannya menjadi cermin raksasa yang memantulkan langit.

Dikutip dari Earth pada Senin (26/1), kini keindahan dan keterpencilan kawasan tersebut mulai berbagi ruang dengan aktivitas industri berskala besar.

Penelitian terbaru dipimpin oleh Dr. Avner Vengosh dari Duke University, seorang ahli yang mempelajari pergerakan logam beracun dalam sistem air di wilayah pertambangan dan energi.

Timnya berfokus menilai risiko kimia sebelum proyek-proyek ekstraksi berkembang lebih luas, termasuk proyek lithium yang kini berkembang pesat di Amerika Selatan.

Menurut Vengosh, Salar de Uyuni bukan sekadar lokasi tambang, melainkan lanskap alam yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi melalui pariwisata. Namun, di bawah permukaan dataran garam ini tersimpan air tanah asin yang kaya mineral, termasuk lithium, yang dipompa untuk memenuhi kebutuhan industri baterai global.

Proses ekstraksi lithium di Salar de Uyuni bergantung pada kolam evaporasi. Air tanah asin atau brine dipompa dari kedalaman hingga sekitar 50 meter, lalu dialirkan ke serangkaian kolam terbuka.

Dengan bantuan panas matahari dan angin, air menguap secara bertahap, meninggalkan garam-garam yang mengkristal, sementara lithium menjadi semakin terkonsentrasi.

Pada tahap akhir, cairan pekat ini dipindahkan ke fasilitas pengolahan untuk diubah menjadi lithium karbonat, bahan utama baterai lithium-ion. Sisa brine yang tidak digunakan biasanya tetap berada di lokasi tambang.

Menurut proyeksi Badan Energi Internasional, permintaan lithium global diperkirakan meningkat lebih dari 40 kali lipat pada 2040, yang berarti tekanan terhadap kawasan seperti Salar de Uyuni akan terus bertambah.

Dalam studi Duke University, para peneliti menelusuri perubahan kimia air dari awal pemompaan hingga tahap pengolahan. Sampel diambil dari brine alami bawah tanah, delapan kolam evaporasi, serta aliran limbah dari pabrik pengolahan.

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa brine alami relatif netral, dengan kandungan arsenik antara 1 hingga 9 part per million (ppm).

Masalah muncul ketika brine semakin terkonsentrasi. Setiap tahap evaporasi menyisakan volume air yang lebih kecil dengan kandungan zat terlarut yang jauh lebih tinggi. Tingkat keasaman air meningkat tajam, dengan pH turun hingga sekitar 3,2 pada kolam paling akhir, mendekati tingkat keasaman cairan korosif.

Kondisi ini berdampak besar pada perilaku logam beracun, terutama arsenik. Tidak seperti mineral lain yang mengendap, arsenik tetap larut dalam air. Pada kolam terakhir, konsentrasinya melonjak hingga hampir 50 ppm, angka yang dinilai sangat tinggi untuk sistem penambangan dataran garam.

Dr. Vengosh menegaskan bahwa kadar arsenik setinggi ini menjadi tanda bahaya serius. Kebocoran kecil atau pembuangan limbah yang tidak terkendali berpotensi menyebarkan arsenik ke permukaan dataran garam, tempat burung, serangga, dan mikroorganisme mencari makan.

Rantai makanan di sekitar dataran garam sangat sensitif. Organisme kecil seperti alga dan udang air asin menjadi dasar ekosistem, dan zat beracun dapat terakumulasi di dalam tubuh mereka melalui proses bioakumulasi.

Uji laboratorium menunjukkan bahwa udang Artemia franciscana masih dapat bertahan pada kadar arsenik hingga 8 bagian per juta, tetapi tingkat yang lebih tinggi mulai menurunkan tingkat kelangsungan hidup.

Dampak ini dapat merambat ke spesies lain, termasuk flamingo yang menggantungkan hidup pada udang air asin. Jika populasi organisme dasar menurun, keseimbangan ekosistem di Salar de Uyuni dapat terganggu secara luas, dengan efek jangka panjang yang sulit dipulihkan.

Selain dari kolam evaporasi, fasilitas pengolahan lithium juga menghasilkan aliran limbah sendiri. Air limbah ini memiliki karakter kimia berbeda, dengan pH yang bisa mencapai 10, jauh lebih basa dibandingkan brine. Perbedaan ini memengaruhi bagaimana logam dan unsur lain larut atau mengendap di lingkungan.

Upaya untuk menginjeksikan kembali brine bekas atau air limbah ke bawah tanah juga bukan solusi sederhana. Proses tersebut berisiko menyumbat aliran air tanah atau mencairkan cadangan lithium yang tersisa. Dalam jangka panjang, pemompaan brine dalam volume besar juga dapat memicu penurunan tanah atau subsidence di cekungan dataran garam.

Model tiga dimensi dari wilayah serupa, seperti Salar de Atacama, menunjukkan bahwa pemompaan brine dapat menurunkan muka air tanah hingga jauh melampaui area tambang. Penurunan ini berpotensi mengeringkan lahan basah dan sumur dangkal, terutama di wilayah kering tempat air tawar sangat terbatas.

Risiko tersebut menjadi semakin sensitif karena komunitas adat tinggal di sekitar Salar de Uyuni. Mereka bergantung pada sumur air dan padang penggembalaan yang rentan terhadap perubahan kualitas dan kuantitas air. Jika limbah tambang mencemari sumber air atau menyebar melalui debu dan rantai makanan, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat setempat.

Tim Duke University juga menjalankan penelitian paralel yang menilai dampak kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, bersamaan dengan pemantauan kimia air di sekitar permukiman. Menurut Vengosh, lithium memang krusial bagi keamanan energi masa depan, tetapi pengembangannya harus disertai pendekatan berkelanjutan berbasis data ilmiah.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa konsentrasi lithium tidak bisa dipisahkan dari peningkatan keasaman dan logam beracun. Pengelolaan limbah yang ketat, uji reinjeksi yang hati-hati, serta pemantauan lingkungan dan komunitas yang transparan menjadi syarat mutlak.

KEYWORD :

tambang lithium Bolivia Salar de Uyuni dampak lingkungan lithium




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :