Senin, 26/01/2026 13:49 WIB

Leukimia Sulit Disembuhkan, Ilmuwan Hadirkan Modifikasi Gen





Kemajuan teknologi genetika kembali menghadirkan harapan bagi pasien leukemia yang selama ini dianggap hampir tidak memiliki pilihan pengobatan.

Ilustrasi modifikasi gen untuk penyembuhan leukimia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kemajuan teknologi genetika kembali menghadirkan harapan bagi pasien leukemia yang selama ini dianggap hampir tidak memiliki pilihan pengobatan.

Para ilmuwan kini mengembangkan terapi berbasis penyuntingan gen yang sangat presisi untuk melawan salah satu kanker darah paling agresif, yaitu leukemia limfoblastik akut sel-T atau T-cell acute lymphoblastic leukemia (T-ALL).

T-ALL merupakan kanker yang berkembang dari sel T, sejenis sel darah putih yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa dan dikenal sulit ditangani ketika tidak lagi merespons terapi standar.

Dikutip dari Earth pada Senin 6/1), sebagian besar pasien T-ALL awalnya merespons kemoterapi, dan dalam beberapa kasus dilanjutkan dengan transplantasi sel punca.

Namun, sekitar 20 persen pasien anak mengalami kegagalan terapi, di mana kanker kembali muncul atau tidak pernah benar-benar hilang. Pada kelompok inilah kebutuhan akan pendekatan baru menjadi sangat mendesak.

Terapi eksperimental yang kini menarik perhatian dunia medis diberi nama BE-CAR7. Terapi ini merupakan bentuk imunoterapi berbasis sel yang dibuat dari sel T donor sehat yang telah diedit secara genetik dan diprogram ulang untuk mengenali serta menghancurkan sel leukemia.

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Waseem Qasim dari University College London (UCL) dan dikembangkan bersama tim klinis di Great Ormond Street Hospital (GOSH), salah satu pusat kesehatan anak terkemuka di Inggris.

Berbeda dengan kanker darah lain, leukemia sel-T menghadirkan tantangan unik bagi terapi CAR T-cell. Biasanya, terapi CAR T menggunakan sel T pasien sendiri yang dimodifikasi agar dapat menyerang kanker. Namun pada T-ALL, sel kanker berasal dari sel T itu sendiri, sehingga sulit membedakan antara sel sehat dan sel ganas.

Masalah lain muncul karena banyak sel leukemia T membawa penanda permukaan yang sama dengan sel T normal. Jika target terapi tidak sangat spesifik, pengobatan berisiko menghancurkan seluruh sistem imun pasien, bukan hanya sel kankernya.

BE-CAR7 mengubah pendekatan tersebut dengan memanfaatkan teknologi base editing, salah satu bentuk penyuntingan gen generasi baru yang dipandu oleh CRISPR. Tidak seperti CRISPR konvensional yang memotong DNA, base editing bekerja dengan mengganti satu “huruf” DNA dengan huruf lain melalui reaksi kimia terkontrol.

Metode ini dinilai lebih aman karena menghindari pemutusan rantai DNA yang berisiko menimbulkan kerusakan kromosom besar. Presisi ini memungkinkan para peneliti melakukan beberapa perubahan genetik sekaligus pada satu sel T donor.

Dalam proses pembuatannya, para ilmuwan menghilangkan reseptor sel T alami dari sel donor agar sel tersebut tidak menyerang jaringan tubuh pasien. Mereka juga menghapus penanda CD7 dari sel yang direkayasa untuk mencegah fenomena fratricide, yaitu kondisi di mana sel CAR T saling menyerang satu sama lain.

Sebagai senjata utama, sel hasil rekayasa ini dilengkapi dengan chimeric antigen receptor (CAR) yang dirancang khusus untuk mengenali CD7, penanda yang umum ditemukan pada sel leukemia T. Dengan begitu, sel BE-CAR7 dapat menemukan dan menyerang kanker secara lebih tepat sasaran.

Satu penyuntingan gen tambahan dilakukan untuk menghapus CD52, sehingga sel BE-CAR7 mampu bertahan dari obat antibodi yang diberikan kepada pasien sebelum terapi untuk menekan sistem imun mereka.

Dalam uji klinis tahap awal, terapi ini diberikan kepada 11 pasien dengan T-ALL yang kambuh atau tidak merespons pengobatan, terdiri dari sembilan anak dan dua orang dewasa. Sel BE-CAR7 terdeteksi berkembang di tubuh seluruh peserta setelah infus dilakukan.

Hasil awalnya sangat menjanjikan. Pada hari ke-28 setelah terapi, seluruh pasien menunjukkan remisi morfologis lengkap, artinya sel leukemia tidak lagi terlihat di sumsum tulang dengan pemeriksaan mikroskop. Sembilan dari sebelas pasien bahkan mencapai remisi yang lebih dalam, sementara dua pasien lainnya tetap memiliki sisa penyakit dan dialihkan ke perawatan paliatif.

Meski demikian, terapi ini tidak lepas dari risiko. Efek samping utama termasuk cytokine release syndrome, reaksi imun kuat yang dapat berbahaya, serta penurunan berbagai jenis sel darah yang meningkatkan risiko infeksi dan perdarahan. Beberapa pasien juga mengalami reaktivasi virus dan infeksi oportunistik sebelum sistem imun mereka pulih pascatransplantasi.

Dalam masa tindak lanjut antara tiga bulan hingga tiga tahun, tujuh dari sebelas pasien atau sekitar 64 persen masih berada dalam kondisi remisi. Dua pasien mengalami kekambuhan setelah sel kanker kehilangan penanda CD7, menunjukkan bahwa kanker masih dapat beradaptasi terhadap tekanan terapi.

Salah satu kisah yang banyak disorot adalah Alyssa Tapley, pasien remaja yang menerima terapi base editing pertama di dunia untuk leukemia sel-T saat berusia 13 tahun. Setelah semua terapi standar gagal, kanker Alyssa menjadi tidak terdeteksi usai BE-CAR7, dan ia kini menjalani kehidupan normal sambil terus dipantau dokter.

Pengalaman Alyssa tidak meniadakan beratnya proses pengobatan, tetapi menjadi bukti bahwa pendekatan baru ini dapat membuka jalan hidup bagi pasien yang sebelumnya hampir kehilangan harapan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine.

KEYWORD :

terapi gen leukemia penyuntingan gen CRISPR leukemia sel T




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :