Senin, 26/01/2026 11:28 WIB

Asal Usul Penamaan Bulan Syaban dan Makna Spiritual di Baliknya





Bulan Sya’ban, yang jatuh tepat sebelum Ramadan, memiliki posisi istimewa dalam sejarah Islam

Ilustrasi - Keistimewaan bulan Syaban serta asal usul penamaanya (Foto: Parstoday)

Jakarta, Jurnas.com - Bulan Sya’ban, yang jatuh tepat sebelum Ramadan, memiliki posisi istimewa dalam sejarah Islam. Selain menjadi penghubung antara Rajab dan Ramadan, bulan ini dipahami sebagai pintu gerbang menuju masa penuh berkah dan ampunan.

Namun, penamaan bulan Sya’ban tidak muncul tanpa latar belakang sejarah. Seperti bulan-bulan Hijriah lainnya, nama Sya’ban lahir dari kondisi sosial dan budaya masyarakat Arab pada masanya.

Dikutip dari laman resmi MUI, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Sya’ban dinamai demikian karena suku-suku Arab berpencar mencari air setelah berakhirnya bulan Rajab. Pada bulan Rajab, peperangan dilarang, sehingga aktivitas baru kembali dilakukan setelahnya.

Secara etimologis, kata Sya’ban berasal dari bahasa Arab sya‘aba yang berarti bercabang atau terpecah. Makna ini menggambarkan masyarakat Arab yang menyebar ke berbagai arah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Seiring datangnya Islam, makna Sya’ban mengalami pergeseran. Bulan yang sebelumnya identik dengan ketegangan sosial berubah menjadi simbol kedamaian, rahmat, dan persiapan spiritual.

Nabi Muhammad SAW diketahui banyak melakukan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Praktik ini kemudian dipahami sebagai teladan agar umat Islam mempersiapkan diri secara rohani sebelum memasuki Ramadan.

Dikutip dari NU Online, sebagian ulama menafsirkan Sya’ban berasal dari istilah Syâ‘a bân yang berarti terpancarnya keutamaan. Penafsiran ini menegaskan bahwa bulan Sya’ban adalah waktu tersebarnya rahmat dan peluang kebaikan.

Pendapat lain menyebut Sya’ban berasal dari kata as-syi‘bu, yang berarti jalan kebaikan. Ada pula yang memaknainya dari kata as-sya‘bu, yakni menambal atau mengobati, sebagai simbol pemulihan spiritual.

Dalam perspektif sejarah Arab, penamaan Sya’ban sudah dikenal sejak masa pra-Islam. Kitab Syahru Ramadhan fii al-Jahiliyah wa al-Islaam karya Ahmed Al-Manzalawi menyebut istilah ini telah digunakan sekitar tahun 412 Masehi.

Pada masa itu, sebagian suku Arab bahkan menganggap Sya’ban sebagai bagian dari Rajab. Hal ini menunjukkan posisi Sya’ban sebagai bulan transisi dalam kehidupan masyarakat Arab.

Secara simbolik, Sya’ban kerap diibaratkan seperti pohon bercabang dua. Ia memisahkan umat dari bulan Rajab sekaligus mengantarkan mereka menuju Ramadan.

Dalam praktik keislaman, Sya’ban dikenal sebagai bulan memperbanyak amalan. Puasa sunnah dan ibadah malam, terutama pada Nisfu Sya’ban, menjadi tradisi yang masih dijalankan hingga kini.

Dengan demikian, meski berakar dari sejarah konflik dan pencarian hidup, Islam mengangkat Sya’ban sebagai bulan penuh rahmat. Sya’ban pun menjadi ruang refleksi dan persiapan spiritual sebelum memasuki kesucian Ramadan. (*)

KEYWORD :

Bulan Syaban Sejarah Islam Penamaan bulan Syaban Info Keislaman




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :