Senin, 26/01/2026 10:24 WIB

Studi Ungkap Kadar Kafein dalam Tubuh Berkaitan dengan Risiko Diabetes





Penelitian terbaru menunjukkan bahwa cara tubuh memetabolisme kafein justru lebih berperan dalam menentukan dampaknya terhadap kesehatan

Secangkir kopi (Foto: Pexels/Samer Daboul)

Jakarta, Jurnas.com - Minum lebih banyak kopi tidak selalu berarti lebih banyak kafein yang bekerja di dalam tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa cara tubuh memetabolisme kafein justru lebih berperan dalam menentukan dampaknya terhadap kesehatan.

Studi yang dipimpin peneliti Karolinska Institutet, Swedia, menemukan bahwa perbedaan genetik yang memperlambat pemecahan kafein berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah. Temuan ini tidak bergantung pada seberapa banyak kopi yang dikonsumsi seseorang.

Dengan menggunakan pendekatan genetik, peneliti menelusuri kadar kafein yang bertahan dalam darah, bukan sekadar kebiasaan minum kopi. Hasilnya menunjukkan individu dengan metabolisme kafein lebih lambat memiliki peluang sekitar 19 persen lebih rendah terkena diabetes tipe 2.

Dikutip dari Earth pada Senin (26/1), peneliti menilai temuan ini membantu menjelaskan mengapa hasil studi kopi dan kesehatan sering tidak konsisten. Kandungan kopi sangat bervariasi tergantung metode seduh, sementara kafein hanyalah salah satu dari banyak senyawa aktif di dalamnya.

Secara biologis, kadar kafein dalam darah ditentukan oleh dua faktor, yakni asupan dan kecepatan hati memecahnya. Pada orang dengan metabolisme lambat, kafein bertahan lebih lama meski konsumsi kopi cenderung lebih rendah.

Untuk menilai hubungan sebab-akibat, peneliti menggunakan metode Mendelian randomization yang memanfaatkan variasi gen sebagai penanda paparan jangka panjang. Pendekatan ini mengurangi bias gaya hidup yang sering muncul dalam studi observasional.

Hasil analisis menunjukkan kadar kafein yang lebih tinggi secara genetik berkaitan dengan penurunan indeks massa tubuh sekitar 0,38 poin. Pola yang sama juga terlihat pada penurunan massa lemak, sementara massa bebas lemak relatif tidak berubah.

Dampak paling konsisten terlihat pada risiko diabetes. Sekitar 43 persen pengaruh kafein terhadap diabetes diperkirakan dimediasi oleh penurunan berat badan, sementara sisanya mungkin terkait respons insulin.

Sebaliknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang jelas antara kadar kafein dan penyakit jantung atau stroke. Temuan tersebut menunjukkan efek kafein lebih kuat pada metabolisme dibanding sistem kardiovaskular.

Peneliti mengingatkan bahwa kafein tetap memiliki batas aman konsumsi. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyebut asupan hingga 400 miligram per hari umumnya aman bagi orang dewasa sehat.

Meski demikian, studi ini tidak menyarankan peningkatan konsumsi kafein secara sembarangan. Analisis genetik tidak dapat menggantikan uji klinis terkontrol yang mengukur dampak dosis kafein secara langsung.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal BMJ Medicine dan menyoroti bahwa kafein bekerja sebagai sinyal biologis, bukan sekadar kebiasaan minum. Temuan ini membuka ruang baru untuk memahami hubungan antara kafein, berat badan, dan risiko diabetes. (*)

KEYWORD :

Kadar Kafein Konsumsi Kopi Efek Kafein Risiko Diabetes




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :