Tradisi Ruwahan di bulan Ruwah yang bertepatan dengan bulan Syaban di Kalurahan Banjarejo, Gunungkidul, Yogyakarta, Jawa Tengah (Foto: Kalurahan Banjarejo)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Sya`ban, yang jatuh beberapa minggu sebelum Ramadan, memiliki makna mendalam bagi umat Muslim, termasuk di Indonesia, khususnya di Jawa. Di sana, bulan ini juga dikenal dengan nama Ruwah, sebuah istilah kalender Jawa yang terkait erat dengan tradisi mengenang leluhur.
Sya`ban tidak hanya dipahami sebagai bulan menjelang Ramadan, tetapi juga sebagai waktu untuk merenung atau refleksi, serta memperbanyak doa. Istilah Ruwah sendiri sering dikaitkan dengan kata “arwah”, yang dalam bahasa Jawa berarti roh atau jiwa orang yang telah meninggal.
Dikutip laman FTK Unisnu Jepara, menurut Raden Tumenggung Tondonagaro, budayawan sekaligus abdi dalem Keraton Surakarta, kata “Ruwah” berasal dari ungkapan meruhi arwah, yang berarti berziarah ke makam leluhur. Karena itu, di bulan ini masyarakat Jawa melakukan berbagai ritual untuk mengenang leluhur mereka, seperti nyadran, tahlilan, sedekah, tasyakuran, nyekar, hingga ziarah kubur.
Tidak jarang makam-makam, terutama milik para wali, dipenuhi pengunjung yang datang untuk mendoakan mereka. Tradisi ini sekaligus menjadi momen untuk merenung dan mengingat kematian serta kehidupan setelahnya, karena diyakini para arwah menunggu doa dari anak cucu mereka.
Aktivitas ziarah kubur kerap dipandang sebagai bentuk sungkeman, sekaligus permohonan doa agar keluarga diberkahi dan diberi kekuatan menyambut Ramadan. Namun, Ruwahan tidak semata soal mengirim doa, karena ada makna yang lebih dalam.
5 Nama Lain dari Bulan Syaban
Menurut ajaran Rasulullah SAW, ziarah kubur merupakan salah satu media pengingat akan kematian dan kehidupan akhirat. Oleh karena itu, dalam tradisi Jawa, tahlilan, nyekar, dan doa di makam menjadi panggilan untuk merenungkan takdir manusia yang pasti akan meninggal.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa mengenang kematian memberi manfaat spiritual, seperti menyembuhkan jiwa, menyegarkan spiritual yang lelah, dan membangkitkan kekuatan batin. Bahkan, perenungan ini kini diterima sebagai metode psikologis yang efektif, terutama bagi mereka yang ingin meninggalkan kebiasaan buruk.
Inilah Keutamaan Salat Tahajud di Bulan Syaban
Penelitian dalam buku The Secret of Kematian karya Fakhrurrozi menunjukkan bahwa merenungkan kematian membuat seseorang lebih bersyukur dan lebih peka dalam menghargai hidup. Dengan begitu, tradisi Ruwah sejalan dengan praktik Islam, yaitu dzikrul maut atau mengingat kematian.
Rasulullah SAW senantiasa menekankan agar umatnya merenungkan kematian atau refleksi pribadi. Kesadaran akan kematian membantu seorang Muslim menjadi lebih ikhlas dalam hidup, lebih tekun beribadah, dan mempersiapkan diri menyambut kehidupan akhirat.
Dengan demikian, Bulan Sya`ban atau Ruwah bukan sekadar penanda waktu, tetapi momentum bagi umat Muslim, khususnya di Jawa, untuk menghormati leluhur, memperkuat spiritualitas, dan menyiapkan hati menyambut Ramadan. Tradisi ini mengajarkan nilai refleksi diri, penghargaan terhadap kehidupan, dan kesadaran akan kematian yang tidak bisa dihindari. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bulan Syaban Bulan Ruwah Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan





















