Gunung Burangrang (Foto: Via Data Gunung)
Jakarta, Jurnas.com - Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung yang berdiri kokoh di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dengan ketinggian sekitar 2.050 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang berdekatan dengan Gunung Tangkubanparahu membuat Burangrang mudah dikenali dari berbagai penjuru, termasuk dari Kota Bandung saat cuaca cerah.
Sebagian kawasan Gunung Burangrang, terutama di sisi barat wilayah Purwakarta, telah lama ditetapkan sebagai kawasan cagar alam seluas sekitar 2.700 hektare. Status konservasi ini menegaskan peran Burangrang bukan hanya sebagai lanskap alam, tetapi juga sebagai ruang ekologis yang menyimpan sejarah geologi dan budaya Sunda.
Dikutip dari berbagai sumber, nama Gunung Burangrang sendiri telah dikenal sejak jauh sebelum masa kolonial dan tercatat dalam naskah kuno Sunda Bujangga Manik. Naskah tersebut merekam perjalanan seorang bangsawan Kerajaan Pakuan pada sekitar abad ke-15, yang menyebut Burangrang sebagai penanda wilayah penting atau tanggeran bagi Kerajaan Saung Agung.
Dalam catatan itu, disebutkan bahwa di kaki Gunung Burangrang pernah berdiri Kerajaan Saung Agung, sebuah kerajaan Sunda kuno yang wilayahnya diyakini mencakup lereng gunung hingga kawasan Wanayasa, Purwakarta saat ini. Kerajaan tersebut runtuh pada akhir abad ke-17 setelah mengalami kekalahan dari Kesultanan Cirebon, dan wilayahnya kemudian dikenal dengan nama Wanayasa.
Mengenai asal-usul penamaan Burangrang, terdapat beberapa versi yang berkembang di masyarakat dan kalangan ahli. Salah satu pendapat menyebut nama Burangrang berasal dari kata “jarang” atau “carang”, yang merujuk pada kondisi lembah dan jurang di lereng gunung yang renggang dan tidak beraturan, sesuai dengan karakter topografinya yang terjal dan berlekuk dalam.
Versi lain yang lebih populer mengaitkan nama Burangrang dengan kata “rangrang”, yang berarti ranting-ranting pohon. Dalam legenda Sunda, khususnya kisah Sangkuriang, sisa ranting kayu dari perahu yang gagal dibuat diyakini menjelma menjadi gunung di sebelah barat Tangkuban Parahu, yang kemudian dikenal sebagai Gunung Burangrang.
Secara geologis, Gunung Burangrang merupakan bagian dari sisa Gunung Sunda Purba, sehingga usianya lebih tua dibandingkan Gunung Tangkubanparahu. Bentuk lerengnya yang curam, lembahnya yang dalam, serta kontur tanah yang labil menjadi penanda proses alam panjang yang membentuk gunung ini selama ribuan tahun.
Karakter alam tersebut juga mengingatkan bahwa Burangrang bukan sekadar lanskap mitologis dan historis. Peristiwa longsor yang sempat terjadi di kawasan kaki gunung di Kecamatan Cisarua, Kabupataen Bandung Barat, menjadi pengingat bahwa wilayah ini menyimpan potensi risiko geologi jika tidak dikelola secara bijak.
Dengan latar sejarah, legenda, dan kondisi alam yang saling berkelindan, Gunung Burangrang tidak hanya menyimpan kisah tentang asal-usul nama, tetapi juga merekam hubungan panjang antara manusia, alam, dan ingatan kolektif masyarakat di Jawa Barat.
Kini, selain dikenal sebagai destinasi pendakian dengan jalur populer seperti Legokhaji, Gunung Burangrang juga menyimpan potensi wisata alam lain seperti Curug Cipalasari. Di balik keindahan alamnya, Burangrang tetap berdiri sebagai saksi bisu sejarah, legenda, dan dinamika alam Sunda yang menyatu dalam satu bentang pegunungan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gunung Burangrang Jawa Barat Gunung Sunda Purban Bandung Barat



















