Ilustrasi pengeras suara masjid (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mengatakan bahwa sekitar 75 persen masjid di Indonesia masih memiliki persoalan pada sistem pengeras suara, khususnya dalam hal operasional dan pemasangan perangkat suara.
Menurut Jusuf Kalla, banyak sistem pengeras suara masjid dipasang tanpa perencanaan yang matang. Dia menilai pemasangan kerap dilakukan oleh pihak yang kurang memiliki pemahaman teknis, sehingga kualitas suara tidak sesuai dengan fungsi masjid sebagai tempat ibadah.
"Di seluruh Indonesia, sekitar 75 persen masjid itu punya soundsistem yang perlu diperbaiki operasionalnya. Karena yang memasang itu kadang-kadang anak-anak yang tinggal di masjid, jadi cara pasangnya yang penting bunyi," ujar Jusuf Kalla pada Minggu (25/1).
Dia menekankan sistem suara masjid seharusnya disesuaikan dengan ukuran dan kebesaran masjid, kondisi lingkungan sekitar, serta karakter masyarakat setempat. Penggunaan suara yang terlalu keras, kata dia, justru menghilangkan kekhusyukan jamaah.
"Perubahannya besar padahal perlu. Harus sesuai dengan kebesaran masjid, suasana masyarakat, dan tidak asal pasang. Bukan membesarkan suara saja," kata dia.
Jusuf Kalla menambahkan bahwa masjid harus menghadirkan suasana yang syahdu karena merupakan tempat ibadah, bukan sarana hiburan.
"Masjid itu harus syahdu. Ini ibadah, bukan hiburan. Kalau hiburan mungkin orang bisa tidur, tapi ini ibadah, jadi harus syahdu," dia menambahkan.
Melalui pelatihan akustik yang digelar DMI, diharapkan para pengurus masjid dapat memahami pentingnya tata suara yang baik, sehingga ibadah dapat berlangsung lebih khusyuk dan nyaman bagi jamaah.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sistem Pengeras Suara Ketua DMI Jusuf Kalla

















