Minggu, 25/01/2026 21:44 WIB

Pemanasan Global Turunkan Kualitas Nektar, Nasib Kupu-Kupu Terancam





Selama ini, ancaman terhadap populasi kupu-kupu raja sudah cukup jelas, mulai dari hilangnya habitat, penggunaan pestisida, hingga badai ekstrem.

Kupu-kupu raja menghisap nektar dari bunga (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap musim gugur, kupu-kupu raja (monarch butterfly) memulai salah satu perjalanan migrasi terpanjang di alam, terbang ribuan kilometer dari Kanada menuju hutan pegunungan di Meksiko.

Perjalanan ini sepenuhnya bergantung pada energi yang diperoleh dari nektar bunga liar, yang berfungsi sebagai bahan bakar penerbangan, pembentuk cadangan lemak, dan penopang hidup selama musim dingin ketika mereka hampir tidak makan sama sekali.

Selama ini, ancaman terhadap populasi kupu-kupu raja sudah cukup jelas, mulai dari hilangnya habitat, penggunaan pestisida, hingga badai ekstrem. Namun, perubahan iklim kini menghadirkan ancaman yang lebih senyap dan sulit terlihat.

Kenaikan suhu global ternyata tidak hanya memengaruhi jumlah bunga, tetapi juga mengubah kualitas nektar di dalam bunga tersebut, membuat sumber makanan tetap tersedia namun jauh lebih miskin energi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan suhu yang relatif kecil saja dapat melemahkan cadangan energi kupu-kupu raja pada fase paling krusial dalam siklus hidupnya.

Dikutip dari Earth pada Minggu (25/1), temuan ini memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim tidak selalu bersifat langsung, tetapi dapat bekerja melalui perubahan halus pada kualitas sumber daya alam.

Bagi kupu-kupu raja dewasa, gula dalam nektar merupakan sumber energi utama. Gula ini diubah menjadi lemak tubuh yang sangat penting untuk menopang penerbangan jarak jauh dan bertahan hidup selama berbulan-bulan tanpa asupan makanan. Tanpa cadangan lemak yang cukup, migrasi panjang berisiko gagal sebelum mencapai tujuan akhir.

Akhir musim panas hingga awal musim gugur menjadi periode paling menentukan. Pada fase ini, kupu-kupu raja memasuki tahap hidup khusus yang menghentikan aktivitas reproduksi dan mengalihkan seluruh energi untuk penyimpanan lemak. Dalam kondisi tersebut, kualitas nektar menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar jumlah bunga yang tersedia.

Masalahnya, tanaman bereaksi terhadap perubahan suhu lebih cepat dibandingkan serangga. Udara yang lebih hangat mempercepat reaksi kimia di dalam bunga, termasuk proses pemecahan gula.

Enzim dalam nektar bekerja lebih aktif, menurunkan kadar sukrosa dengan mengubahnya menjadi gula yang lebih sederhana, sehingga nilai energinya berkurang.

Selain itu, mikroba yang hidup di dalam nektar juga merespons kenaikan suhu. Aktivitas mikroba meningkat pada kondisi hangat dan turut mengubah keseimbangan gula.

Akibatnya, volume nektar bisa saja tetap sama, tetapi tingkat kemanisannya menurun, sehingga setiap tegukan memberikan energi yang lebih sedikit bagi kupu-kupu.

Dalam eksperimen ini, para ilmuwan hanya menaikkan suhu tanaman penghasil nektar sebesar 0,57 derajat Celsius, angka yang sejalan dengan proyeksi kenaikan suhu global dalam waktu dekat.

Kupu-kupu dibiarkan makan secara bebas dari bunga yang dihangatkan, sementara suhu udara di sekitar tubuh mereka tetap normal agar tidak menimbulkan stres panas langsung.

Hasilnya menunjukkan pola yang sangat jelas. Konsentrasi gula dalam nektar turun sekitar 24 persen, sementara jumlah bunga juga berkurang hampir 13 persen.

Pada beberapa spesies tanaman, volume nektar tidak berubah secara signifikan, menandakan bahwa kualitas, bukan kuantitas, yang paling terdampak oleh pemanasan.

Setelah lima hari makan, perbedaan kondisi fisik kupu-kupu terlihat nyata. Individu yang mengonsumsi nektar dari tanaman yang dihangatkan menyimpan sekitar 26 persen lebih sedikit lemak tubuh dibandingkan kupu-kupu yang makan dari tanaman bersuhu normal. Padahal, ukuran tubuh, massa otot, dan kandungan air tidak menunjukkan perbedaan berarti.

Profesor Heather M. Kharouba dari University of Ottawa menjelaskan bahwa masalah utamanya bukan panas yang langsung membahayakan kupu-kupu, melainkan penurunan nilai gizi nektar. Menurutnya, meskipun kupu-kupu dapat makan sebanyak yang mereka inginkan, mereka tetap tidak mampu mengganti kekurangan energi akibat rendahnya kualitas nektar.

Temuan ini sangat penting karena lemak tubuh merupakan sumber utama energi selama migrasi dan musim dingin. Kekurangan lemak berarti peluang lebih kecil untuk menyelesaikan perjalanan dan bertahan hidup hingga musim semi berikutnya.

Peran nektar akhir musim menjadi semakin krusial dalam konteks ini. Migrasi kupu-kupu raja sangat bergantung pada waktu, dan kualitas nektar pada minggu-minggu terakhir musim panas menentukan keberhasilan seluruh perjalanan. Oleh karena itu, upaya konservasi tidak cukup hanya dengan menanam lebih banyak bunga.

Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis tanaman juga sangat menentukan. Beberapa spesies bunga kehilangan kualitas nektarnya lebih cepat ketika suhu meningkat, sementara spesies lain mampu mempertahankan kadar gula dengan lebih baik. Mengidentifikasi dan menanam tanaman yang lebih tahan terhadap pemanasan menjadi kunci dalam restorasi habitat kupu-kupu raja.

Dampak perubahan iklim seperti ini sering kali luput dari perhatian karena tidak kasat mata. Hewan terlihat masih memiliki makanan, tetapi kualitas nutrisi di baliknya telah menurun drastis. Menurut Profesor Kharouba, temuan ini menjadi peringatan penting bagi siapa pun yang terlibat dalam perlindungan penyerbuk, termasuk pengelola taman dan pekebun rumahan.

Penurunan populasi penyerbuk sering kali bermula dari perubahan di dalam tanaman, bukan dari serangga itu sendiri. Perubahan kecil yang terjadi secara perlahan dapat menumpuk dan memicu dampak besar lintas musim, hingga akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem.

Menariknya, penelitian ini juga melampaui dunia akademik. Seorang seniman visual, Valérie Chartrand, terinspirasi oleh temuan ilmiah ini untuk menciptakan pameran seni berjudul Flutterings: Monarchs and Climate Change.

Melalui seni, perubahan tersembunyi seperti kimia nektar yang tak terlihat oleh mata manusia dapat divisualisasikan dan dirasakan. Pendekatan ini membantu masyarakat memahami bahwa dampak perubahan iklim tidak selalu dramatis di permukaan, tetapi bisa sangat merusak di balik layar.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Global Change Biology.

KEYWORD :

nektar kupu-kupu migrasi kupu-kupu raja dampak perubahan iklim pemanasan global




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :