Monumen Stonehenge di Inggris (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Stonehenge, monumen batu raksasa yang berdiri di dataran Salisbury, Inggris selatan, kembali mengungkap teka-teki baru yang menantang pemahaman lama para ilmuwan.
Selama lebih dari satu abad, asal-usul batu bluestone yang menyusun struktur ikonik ini menjadi perdebatan besar, terutama terkait bagaimana batu-batu besar itu bisa sampai ke lokasi yang jauh dari sumber alaminya.
Dikutip dari Earth pada Minggu (25/1), salah satu teori paling populer menyebutkan bahwa bongkahan batu tersebut terbawa oleh lapisan es raksasa pada Zaman Es.
Menurut hipotesis ini, gletser purba menyeret batu dari wilayah Wales atau Skotlandia menuju Inggris selatan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa teori tersebut hampir pasti tidak benar.
Studi baru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Curtin University, Australia, memberikan bukti geologis kuat bahwa bluestone Stonehenge dibawa oleh manusia, bukan oleh pergerakan es. Penelitian ini memanfaatkan teknologi modern untuk menguji bukti yang tersimpan dalam butiran mineral mikroskopis.
Para peneliti menilai bahwa jika gletser benar-benar mencapai Salisbury Plain, maka jejaknya akan tertinggal jelas dalam sedimen sungai di sekitarnya. Pasir sungai menyimpan rekam jejak alami pergerakan es, karena gletser selalu membawa campuran batu besar dan partikel halus dari berbagai wilayah yang dilewatinya.
Untuk menguji hal ini, tim ilmuwan meneliti mineral zircon dan apatite yang ditemukan dalam pasir sungai di sekitar Stonehenge. Mineral ini dikenal sebagai `kapsul waktu` geologis karena mampu menyimpan informasi usia dan asal batuan induknya, bahkan setelah menempuh perjalanan panjang selama jutaan tahun.
Lebih dari 500 kristal zircon dianalisis menggunakan peralatan presisi tinggi di John de Laeter Centre milik Curtin University. Zircon dipilih karena ketahanannya terhadap erosi dan perubahan kimia, sehingga sangat ideal untuk melacak transportasi batuan jarak jauh.
Hasilnya justru menunjukkan bahwa usia zircon yang ditemukan cocok dengan batuan dari Inggris selatan, bukan dari wilayah Wales atau Skotlandia yang selama ini diasosiasikan dengan asal bluestone. Pola usia ini menandakan proses daur ulang sedimen lokal, bukan pengangkutan langsung oleh es.
Penulis utama studi ini, Dr. Anthony Clarke dari School of Earth and Planetary Sciences Curtin University, menegaskan bahwa tidak ada tanda mineral yang mendukung pergerakan gletser hingga ke Salisbury Plain. Jika gletser benar-benar membawa batu ke Stonehenge, jejak mineral khas dari wilayah utara Inggris akan muncul dalam jumlah signifikan.
Menurut Clarke, batuan yang dibawa es akan mengalami pelapukan seiring waktu dan melepaskan butiran mineral kecil yang mudah dilacak asal-usulnya. Namun, dalam ratusan sampel yang diteliti, hanya satu kristal zircon yang memiliki usia serupa dengan bluestone, jumlah yang terlalu kecil untuk mendukung teori gletser.
Temuan ini semakin diperkuat oleh ketiadaan ciri geologi khas gletser, seperti endapan till atau batu erratik, di lapisan tanah Salisbury Plain. Baik bukti mineral maupun lanskap secara konsisten menunjukkan bahwa es tidak pernah mencapai wilayah tersebut.
Penelitian ini juga menjelaskan bagaimana mineral dari wilayah jauh bisa muncul di Inggris selatan tanpa bantuan gletser. Pada periode Paleogen awal, wilayah Salisbury Plain pernah tertutup sungai purba dan laut dangkal. Endapan pasir dari masa itu kemudian tererosi dan didaur ulang, melepaskan kristal zircon tua ke sungai modern.
Analisis apatite memberikan petunjuk tambahan. Sebagian besar kristal apatite menunjukkan perubahan kimia yang terkait dengan aktivitas tektonik sekitar 60 juta tahun lalu, saat pembentukan awal Pegunungan Alpen memicu pergerakan fluida di kerak bumi. Proses ini sesuai dengan geologi regional dan tidak berkaitan dengan aktivitas gletser.
Dengan tersingkirnya teori es, peran manusia prasejarah kembali menjadi pusat perhatian. Meski metode pasti pemindahan batu-batu raksasa itu masih menjadi misteri, bukti ilmiah kini mengarah pada perencanaan matang dan koordinasi kompleks oleh masyarakat Neolitikum.
Dr. Clarke mengakui bahwa para ilmuwan mungkin tidak akan pernah mengetahui secara pasti apakah batu-batu tersebut diangkut melalui jalur laut, sungai, atau darat menggunakan kayu gelinding dan kereta sederhana. Namun, satu hal kini semakin jelas, es hampir pasti tidak berperan dalam proses tersebut.
Rekan penulis studi, Profesor Christopher L. Kirkland, menyebut Stonehenge sebagai monumen yang terus memberi kejutan. Menurutnya, dengan menganalisis mineral yang bahkan lebih kecil dari butiran pasir, para ilmuwan kini mampu menguji teori yang telah bertahan selama lebih dari seratus tahun.
Stonehenge sendiri diperkirakan memiliki banyak fungsi, mulai dari kalender astronomi, tempat ritual keagamaan, hingga lokasi perjamuan besar. Setiap penelitian baru membantu melengkapi gambaran besar tentang bagaimana dan mengapa monumen ini dibangun.
Penelitian lain dari Curtin University sebelumnya juga berhasil melacak asal Altar Stone Stonehenge ke wilayah timur laut Skotlandia, semakin menguatkan dugaan bahwa manusia prasejarah mampu memindahkan batu berat sejauh ratusan kilometer.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
misteri Stonehenge asal batu bluestone teori gletser Stonehenge



















