Ilustrasi kehamilan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Kehamilan bukan sekadar proses membawa janin hingga lahir. Di balik perubahan fisik yang tampak, terjadi pertukaran biologis yang jauh lebih halus namun bertahan lama.
Sel-sel berpindah dua arah melalui plasenta, membangun hubungan mikroskopis antara ibu dan anak yang dapat bertahan puluhan tahun, bahkan lintas generasi.
Selama kehamilan, sebagian sel janin memasuki aliran darah ibu dan menetap di berbagai organ, termasuk kelenjar tiroid, hati, paru-paru, otak, hingga jantung.
Pada saat yang sama, sel-sel ibu juga dapat masuk ke dalam tubuh janin. Pertukaran dua arah ini menciptakan ikatan biologis yang tidak berhenti saat persalinan berakhir.
Fenomena tersebut dikenal sebagai mikrochimerisme, istilah yang merujuk pada keberadaan sejumlah kecil sel di dalam tubuh seseorang yang berasal dari individu lain.
Kehamilan merupakan jalur alami paling umum terjadinya mikrochimerisme, meski kondisi serupa juga bisa muncul akibat transplantasi organ atau transfusi darah.
Dalam kasus kehamilan kembar atau kehamilan multipel, pertukaran sel bahkan dapat terjadi antar saudara kandung di dalam rahim. Artinya, seseorang bisa membawa jejak biologis saudara kembarnya sepanjang hidup tanpa pernah menyadarinya.
Meski jumlah sel mikrochimerik sangat sedikit, dampaknya tidak selalu kecil. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sel-sel ini dapat berperan dalam penyembuhan luka, perbaikan jaringan, serta pengaturan sistem kekebalan tubuh. Dalam beberapa kondisi, kehadirannya justru tampak memberikan efek perlindungan.
Namun, mikrochimerisme juga memiliki sisi lain yang lebih kompleks. Studi-studi tertentu mengaitkan sel-sel ini dengan komplikasi kehamilan, penyakit autoimun seperti skleroderma dan rheumatoid arthritis, serta beberapa jenis kanker, termasuk leukemia. Dampaknya tampaknya sangat bergantung pada lokasi sel tersebut menetap dan bagaimana sistem imun meresponsnya.
Dikutip dari Earth pada Minggu (25/1), mikrochimerisme bukan konsep baru dalam sains. Fenomena ini pertama kali didokumentasikan pada akhir abad ke-19.
Meski demikian, hingga kini para peneliti masih menghadapi banyak pertanyaan mendasar tentang bagaimana sel-sel tersebut berpindah, mengapa mereka bisa bertahan lama, dan apa peran jangka panjangnya bagi kesehatan manusia.
Kristine Joy Chua, antropolog biologi dari University of Notre Dame, menjelaskan bahwa tantangan utama penelitian mikrochimerisme terletak pada kelangkaannya. Sel-sel ini biasanya mencakup kurang dari satu persen total sel dalam tubuh, sehingga sangat sulit dideteksi dan dipisahkan secara akurat di laboratorium.
Kesulitan lain muncul karena sel ibu dan sel janin memiliki kemiripan DNA yang tinggi, mengingat keduanya berasal dari garis keturunan yang sama. Hal ini membuat identifikasi sumber sel menjadi sangat kompleks, terutama ketika penelitian dilakukan bertahun-tahun setelah kehamilan.
Meski sempat diragukan relevansinya, minat terhadap mikrochimerisme terus bertahan di berbagai disiplin ilmu. Melalui Microchimerism, Human Health & Evolution Project, sebuah konsorsium multidisipliner kini berupaya mendorong kemajuan bidang ini secara lebih terstruktur dan terkoordinasi.
Dalam publikasi perdananya, tim peneliti tersebut mensurvei 29 pakar terkemuka dan menemukan kesepakatan luas mengenai prioritas riset ke depan. Fokus utama mencakup definisi yang lebih jelas tentang sel mikrochimerik, alasan keberadaan jangka panjangnya di tubuh, standarisasi metode deteksi, serta pemahaman yang lebih mendalam tentang dampaknya terhadap kesehatan dan penyakit.
Kemajuan teknologi juga membuka peluang baru. Alat deteksi yang lebih sensitif kini memungkinkan ilmuwan meneliti sifat sel mikrochimerik secara lebih rinci. Beberapa peneliti tertarik pada sifat mirip sel punca yang dimiliki sel-sel ini, yang berpotensi berubah menjadi jenis sel organ tertentu.
Potensi medisnya cukup besar. Sel mikrochimerik mungkin suatu hari dapat dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki kerusakan organ seperti hati atau tiroid. Selain itu, keberadaannya juga dipertimbangkan sebagai biomarker untuk mengidentifikasi risiko komplikasi kehamilan, termasuk preeklamsia, keguguran spontan, dan gangguan fungsi plasenta.
Mikrochimerisme juga menawarkan sudut pandang baru dalam memahami penyakit yang berulang dalam satu keluarga. Karena sel-sel ini dapat diwariskan dari ibu ke anak dan berlanjut ke generasi berikutnya, mereka mungkin berkontribusi pada pola penyakit imunologis yang tampak menurun secara familial.
Penelitian kehamilan sendiri memiliki keterbatasan serius, mulai dari pertimbangan etika pengambilan sampel, standar persetujuan yang berbeda antar negara, hingga ketimpangan pendanaan riset kesehatan perempuan. Para penulis menekankan bahwa kemajuan bidang ini membutuhkan kolaborasi terbuka, metode bersama, serta pelatihan generasi ilmuwan berikutnya.
Lebih jauh, para peneliti mengingatkan bahwa kehamilan tidak hanya dipengaruhi faktor biologis, tetapi juga lingkungan sosial. Kondisi sosial, stres, dan akses layanan kesehatan turut membentuk bagaimana tubuh merespons kehamilan dan persalinan, dan faktor-faktor ini perlu mendapat perhatian lebih dalam riset mikrochimerisme.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Advanced Science.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
mikrochimerisme kehamilan pertukaran sel ibu sel janin tubuh ibu



















