Minggu, 25/01/2026 19:33 WIB

Minyak Ikan Terbukti Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke





Pasien yang menjalani dialisis ginjal hidup dengan risiko tinggi terkena serangan jantung, stroke, hingga kematian mendadak akibat gangguan jantung.

Minyak ikan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Pasien yang menjalani dialisis ginjal hidup dengan risiko tinggi terkena serangan jantung, stroke, hingga kematian mendadak akibat gangguan jantung.

Meski perawatan medis dilakukan secara ketat dan berkelanjutan, pilihan terapi yang benar-benar efektif untuk menekan risiko kardiovaskular pada kelompok ini selama bertahun-tahun masih sangat terbatas.

Dikutip dari Earth pada Minggu (25/1), kondisi tersebut membuat dokter sering kali tidak memiliki banyak alat untuk mencegah kejadian darurat yang mengancam nyawa.

Banyak pasien dialisis sudah mengonsumsi berbagai obat, tetapi sebagian besar terapi itu tidak secara langsung menargetkan penyebab utama kematian, yaitu komplikasi jantung dan pembuluh darah.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi suplemen minyak ikan dosis tinggi setiap hari mampu menurunkan risiko kejadian jantung serius secara signifikan pada pasien dialisis jangka panjang, dengan efek perlindungan yang jauh lebih besar dibandingkan hasil studi suplemen sebelumnya.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Charmaine Lok dari University Health Network (UHN) di Toronto, yang selama ini berfokus pada peningkatan kelangsungan hidup dan kesehatan jantung pasien gagal ginjal.

Fokus tersebut krusial karena penyakit kardiovaskular tetap menjadi penyebab kematian utama pada populasi dialisis, terlepas dari kemajuan teknologi terapi ginjal.

Dalam studi ini, tim peneliti UHN melibatkan 1.228 orang dewasa yang menjalani dialisis rutin. Para peserta secara acak dibagi menjadi dua kelompok, satu menerima kapsul minyak ikan dan kelompok lain menerima minyak jagung sebagai pembanding. Baik pasien maupun tenaga medis tidak mengetahui siapa yang menerima suplemen aktif, sehingga bias dapat ditekan.

Penelitian dilakukan di 26 pusat dialisis yang tersebar di Kanada dan Australia, dengan masa tindak lanjut rata-rata sekitar 3,5 tahun. Selama periode tersebut, peneliti mencatat seluruh kejadian besar terkait jantung dan pembuluh darah, termasuk kematian akibat jantung, serangan jantung, stroke, serta amputasi akibat penyakit arteri berat.

Hasilnya tergolong mencolok. Pasien yang mengonsumsi minyak ikan mengalami jauh lebih sedikit kejadian kardiovaskular serius dibandingkan kelompok kontrol. Secara praktis, angka serangan jantung, stroke, dan kejadian berat lainnya hanya sekitar setengah dari yang terjadi pada kelompok yang tidak mengonsumsi minyak ikan.

Tidak hanya itu, angka kematian akibat semua penyebab juga lebih rendah pada kelompok minyak ikan. Dari seluruh komponen yang diukur, penurunan risiko stroke terlihat paling besar, menunjukkan bahwa suplemen ini mungkin memberikan perlindungan khusus terhadap gangguan aliran darah ke otak pada pasien dialisis.

Secara biologis, manfaat ini dinilai masuk akal. Asam lemak omega-3 dalam minyak ikan diketahui dapat memengaruhi metabolisme lemak, menekan peradangan, dan mengubah sinyal kimia di pembuluh darah. Pada dosis tinggi, omega-3 juga dapat mengurangi kecenderungan pembentukan bekuan darah yang berbahaya.

Namun, temuan ini berbeda dari banyak studi populasi umum, di mana manfaat suplemen omega-3 terhadap kesehatan jantung sering kali tidak konsisten. Pasien dialisis diperkirakan merespons berbeda karena gagal ginjal mengubah komposisi darah, tingkat peradangan, dan stabilitas irama jantung secara signifikan.

Aspek penting lain dari penelitian ini adalah dosis dan kualitas suplemen. Dalam uji klinis tersebut, peserta mengonsumsi sekitar 0,14 ons asam lemak omega-3 per hari, dosis yang jauh lebih tinggi dibandingkan kandungan banyak produk minyak ikan yang dijual bebas. Dr. Lok menegaskan bahwa efek serupa belum tentu diperoleh dari suplemen over-the-counter biasa.

Keamanan juga menjadi perhatian besar, mengingat pasien dialisis umumnya sudah mengonsumsi obat pengencer darah. Meski demikian, penelitian ini tidak menemukan perbedaan bermakna dalam kejadian efek samping serius antara kelompok minyak ikan dan kelompok kontrol, termasuk risiko perdarahan.

Manfaat paling relevan terlihat pada pasien yang menjalani hemodialisis di pusat layanan, yaitu kelompok dengan risiko kardiovaskular tertinggi. Efek perlindungan muncul baik pada pasien yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung maupun yang belum, meski penelitian ini belum dapat menjawab apakah hasil serupa berlaku pada dialisis rumahan atau tahap awal penyakit ginjal.

Secara praktis, temuan ini membuka peluang baru dalam perawatan dialisis. Minyak ikan relatif mudah diintegrasikan ke dalam rutinitas klinik dibandingkan terapi lain yang memerlukan pemantauan laboratorium intensif. Namun, tantangan tetap ada terkait standar kualitas produk, regulasi suplemen, serta biaya bagi pasien.

Para peneliti menekankan perlunya studi lanjutan untuk mengonfirmasi besarnya manfaat ini, mengukur kadar omega-3 dalam darah, serta memahami mekanisme perlindungan jantung secara lebih rinci. Meski demikian, kombinasi hasil klinis yang kuat, dasar biologis yang masuk akal, dan kemudahan penerapan membuat minyak ikan dipandang sebagai kandidat penting untuk mengisi celah pencegahan kardiovaskular pada pasien dialisis.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal New England Journal of Medicine.

KEYWORD :

minyak ikan dialisis ginjal risiko jantung dialisis omega-3 pasien ginjal




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :