Sabtu, 24/01/2026 22:56 WIB

Mengenal Gunung Burangrang di Jawa Barat





Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung tua di Jawa Barat yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta

Gunung Burangrang (Foto: Via Data Gunung)

Jakarta, Jurnas.com - Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung tua di Jawa Barat yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta, dengan ketinggian sekitar 2.050–2.064 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang berdekatan dengan Gunung Tangkubanparahu membuat Burangrang mudah dikenali, bahkan dari Kota Bandung saat cuaca cerah.

Baru-baru ini, Gunung Burangrang kembali menjadi sorotan setelah bencana longsor dahsyat menerjang lerengnya di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Longsor yang terjadi sekitar pukul 02.30 WIB itu merusak sekitar 30 rumah, menelan korban jiwa, dan memaksa sekitar 400 warga mengungsi dari Desa Pasirlangu dan Desa Sukajaya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai kondisi lingkungan di sekitar lokasi longsor sangat rentan karena dipenuhi tanaman sayur di kawasan perbukitan. Ia menegaskan wilayah tersebut seharusnya dikembalikan menjadi kawasan hutan dan warga perlu direlokasi karena potensi longsor yang tinggi.

Dikutip dari berbagai sumber, Gunung Burangrang sebagian wilayahnya, khususnya di sisi barat Purwakarta, merupakan kawasan cagar alam. Kawasan ini secara administratif ditetapkan sebagai Cagar Alam Gunung Burangrang seluas sekitar 2.700 hektare sejak 1979, dengan topografi berbukit, curam, dan curah hujan tinggi yang mencapai 5.200 mm per tahun.

Gunung Burangrang juga memiliki nilai sejarah panjang yang terekam dalam naskah kuno Bujangga Manik dari abad ke-16. Dalam naskah tersebut, Burangrang disebut sebagai penanda wilayah Kerajaan Saung Agung yang pernah berkuasa di kawasan Wanayasa sebelum runtuh pada akhir abad ke-17.

Dari sisi penamaan, Gunung Burangrang memiliki beberapa versi asal-usul yang hidup dalam tradisi tutur masyarakat Sunda. Sebagian mengaitkannya dengan kata “jarang” atau “carang” yang merujuk pada jurang-jurang yang renggang, sementara versi populer lain menyebut “rangrang” atau ranting pohon yang konon berasal dari kisah Sangkuriang.

Secara geologis, Burangrang terbentuk bersamaan dengan Gunung Sunda Purba dan usianya lebih tua dibandingkan Gunung Tangkubanparahu. Banyaknya lembahan curam dan dalam menjadi bukti aktivitas vulkanik dan gerakan tanah yang telah berlangsung sangat lama di kawasan ini.

Di sisi lain, Gunung Burangrang tetap menjadi destinasi pendakian yang diminati karena jalurnya relatif ramah, terutama melalui Legokhaji, Tanjakan Mentari, dan Jalur Komando yang tidak melintasi kawasan cagar alam. Aksesnya mudah dijangkau dari Bandung maupun Lembang, dengan panorama hutan pegunungan dan Curug Cipalasari sebagai daya tarik tambahan.

Meski demikian, tingginya curah hujan dan karakter tanah membuat kawasan ini rawan longsor, terutama saat musim hujan. Jalur pendakian yang licin dan perubahan tata guna lahan di lereng gunung menjadi faktor yang menuntut kewaspadaan lebih dari pendaki dan masyarakat sekitar.

Gunung Burangrang bukan sekadar destinasi alam atau jalur pendakian populer. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan sejarah, keanekaragaman hayati, sekaligus peringatan nyata bahwa keseimbangan antara manusia dan alam di kawasan pegunungan tidak boleh diabaikan.

Dengan demikian, Gunung Burangrang merekam perjalanan panjang alam Parahyangan, dari kerajaan kuno hingga tragedi modern, dari keindahan lanskap hingga ancaman bencana. Di sanalah pelajaran tentang konservasi, keselamatan, dan kearifan lingkungan seharusnya dimulai. (*)_

KEYWORD :

Gunung Burangrang Jawa Barat Dedi Mulyadi Kabupaten Bandung Barat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :