Anak mengalammi stres (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Stres tidak hanya menjadi persoalan orang dewasa, tetapi juga bagian dari kehidupan banyak anak di seluruh dunia. Konflik keluarga, perundungan, kemiskinan, diskriminasi rasial, hingga lingkungan tempat tinggal yang tidak aman dapat menciptakan tekanan terus-menerus pada tubuh dan otak anak yang sedang berkembang.
Dikutip dari Earth pada Sabtu (24/1), tekanan ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata, namun dampaknya dapat menetap jauh hingga masa dewasa.
Penelitian ilmiah kini semakin menegaskan bahwa stres yang dialami sejak masa kehamilan, awal kanak-kanak, hingga remaja dapat membentuk kondisi kesehatan seseorang bahkan sebelum ia menginjak usia dewasa.
Sebuah tinjauan besar yang dilakukan oleh para peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) menunjukkan bahwa stres pada masa anak-anak tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga kesehatan fisik, kemampuan belajar, serta perilaku secara bersamaan.
Menurut para peneliti, memahami cara kerja stres sejak dini sangat penting agar keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas dapat melindungi kesehatan anak sebelum masalah jangka panjang berkembang. Stres bukan sekadar reaksi emosional, melainkan proses biologis yang melibatkan berbagai sistem tubuh seperti hormon, sistem imun, dan perkembangan otak.
Dalam dunia medis, proses ini dikenal sebagai biological embedding, yaitu ketika sinyal stres menyebar ke seluruh tubuh dan meninggalkan jejak jangka panjang pada cara kerja organ dan sistem tubuh.
Jika stres terjadi terlalu sering atau terlalu intens, tubuh anak dipaksa berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Kondisi ini menciptakan keausan biologis yang disebut allostatic load, yang berhubungan dengan peningkatan risiko asma, obesitas, gangguan tidur, kecemasan, serta kesulitan perhatian sejak usia dini.
Bukti dari pemindaian otak menunjukkan bahwa paparan stres berkepanjangan pada anak dapat mengubah struktur otak. Beberapa area otak yang berperan dalam memori, pengendalian emosi, dan pengambilan keputusan cenderung berukuran lebih kecil pada anak yang mengalami stres kronis. Perubahan ini dapat berdampak langsung pada kecepatan belajar, kemampuan mengatur emosi, serta prestasi akademik di sekolah.
Penelitian terbaru juga mengubah cara pandang lama yang memisahkan kesehatan mental dan fisik. Bukti baru menunjukkan bahwa stres memengaruhi keduanya secara bersamaan.
Hormon stres dapat memengaruhi paru-paru, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, serta sirkuit otak dalam waktu yang bersamaan, sehingga gangguan yang muncul sering kali saling terkait.
Profesor psikiatri dan pediatri UCSF, Dr. Nicki Bush, menegaskan bahwa selama ini penelitian terlalu sering memisahkan kesehatan fisik dan mental. Padahal, proses biologis yang dipicu stres dapat meningkatkan risiko penyakit fisik seperti asma dan obesitas, sekaligus berkaitan dengan kecemasan, ADHD, serta penurunan prestasi akademik. Artinya, stres bekerja secara menyeluruh pada tubuh anak.
Selain itu, stres juga berdampak besar pada fungsi eksekutif, yaitu kemampuan otak untuk merencanakan, memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengendalikan diri. Ketika fungsi ini terganggu, anak akan lebih kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah dan berisiko mengalami masalah perilaku yang berkelanjutan.
Dampak stres juga berbeda-beda tergantung usia anak. Kehamilan menjadi salah satu periode paling sensitif, karena stres yang dialami orang tua hamil dapat memengaruhi perkembangan janin melalui sinyal hormon dan pengaturan gen. Perubahan ini dapat membentuk respons stres anak setelah lahir dan memengaruhi kesehatannya dalam jangka panjang.
Masa bayi dan awal kanak-kanak juga merupakan periode yang sangat rentan. Pertumbuhan otak yang sangat cepat membuat pengalaman, baik positif maupun negatif, memiliki pengaruh besar. Pengabaian berat atau pola asuh yang tidak stabil pada periode ini dapat mengganggu pengaturan emosi dan membentuk pola perilaku yang bermasalah.
Remaja pun menghadapi fase sensitif lainnya. Perubahan hormon dan reorganisasi otak selama pubertas membuat stres pada masa ini berpotensi “mengatur ulang” sistem stres tubuh. Akibatnya, risiko gangguan kecemasan, depresi, hingga perilaku berisiko dapat meningkat jika stres tidak ditangani dengan baik.
Meski demikian, tidak semua anak yang mengalami stres akan memiliki dampak kesehatan yang sama. Faktor biologis, usia, kemampuan mengatur emosi, serta lingkungan sekitar sangat memengaruhi hasil akhirnya. Lingkungan yang suportif, seperti keluarga yang hangat, sekolah yang aman, dan komunitas yang peduli, dapat secara signifikan mengurangi dampak negatif stres.
Peran pengasuh menjadi kunci utama dalam meredam dampak stres. Pengasuhan yang hangat dan responsif terbukti mampu menenangkan sistem stres anak dan mendukung perkembangan yang sehat. Kesehatan mental pengasuh juga sangat menentukan, karena trauma atau stres yang tidak tertangani pada orang dewasa dapat menular secara tidak langsung ke dalam dinamika keluarga.
Para peneliti menekankan pentingnya intervensi dini. Menunggu hingga seseorang dewasa dan mengalami penyakit jantung, kanker, atau masalah sosial serius berarti kehilangan kesempatan emas untuk pencegahan. Berbagai alat sebenarnya sudah tersedia, mulai dari program pengasuhan, dukungan kesehatan mental, intervensi berbasis sekolah, hingga kebijakan publik seperti cuti keluarga berbayar dan akses layanan kesehatan yang lebih luas.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Annual Review of Psychology.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
stres anak kesehatan anak pencegahan penyakit dini
























