Sabtu, 24/01/2026 21:37 WIB

Pemanasan Global Percepat Penuaan Manusia hingga Tingkat Sel





Kenaikan suhu ekstrem yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia ternyata tidak hanya berdampak pada kenyamanan atau risiko heatstroke semata.

Ilustrasi penuaan biologis akibat pemanasan global (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kenaikan suhu ekstrem yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia ternyata tidak hanya berdampak pada kenyamanan atau risiko heatstroke semata.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan panas berkepanjangan dapat merusak tubuh manusia dari dalam, mempercepat proses penuaan biologis hingga ke tingkat sel, terutama pada kelompok usia lanjut.

Bukti baru ini muncul dari analisis yang mengaitkan paparan panas luar ruang berulang dengan percepatan penuaan biologis pada orang dewasa berusia 56 tahun ke atas.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa panas ekstrem bukan sekadar ancaman sesaat, melainkan tekanan lingkungan yang dapat meninggalkan jejak jangka panjang dalam tubuh.

Dikutip dari Earth pada Sabtu (24/1), penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Southern California (USC), yang mengombinasikan data darah dengan catatan suhu lingkungan di sekitar tempat tinggal partisipan selama beberapa tahun.

Studi ini dipimpin oleh Eunyoung Choi, peneliti pascadoktoral di USC Leonard Davis School of Gerontology, yang fokus meneliti hubungan antara panas lingkungan dan proses penuaan.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang tinggal di wilayah dengan jumlah hari panas ekstrem jauh lebih tinggi memiliki usia biologis yang melampaui usia kronologis mereka.

Dalam beberapa kasus, perbedaan tersebut mencapai hitungan bulan, bahkan lebih dari satu tahun dibandingkan rekan sebaya yang tinggal di lingkungan lebih sejuk.

Konsep usia biologis yang digunakan dalam penelitian ini berbeda dari usia kalender. Usia biologis diukur berdasarkan penanda epigenetik dalam darah, yakni pola kimia tertentu yang mencerminkan tingkat keausan sel dan jaringan tubuh seiring waktu. Pola ini sering kali lebih akurat dalam memprediksi risiko penyakit dibandingkan usia berdasarkan tanggal lahir.

Penanda epigenetik tersebut berasal dari perubahan kecil pada DNA, seperti metilasi DNA, yang dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk panas, polusi, dan stres.

Ketika perubahan ini terakumulasi dalam pola yang tidak menguntungkan, tubuh seseorang dapat terlihat lebih tua secara biologis, meskipun usia kronologisnya belum terlalu lanjut.

Kerentanan terhadap panas meningkat seiring bertambahnya usia. Tubuh lansia umumnya kurang efisien dalam melepaskan panas, sehingga suhu tinggi memberi tekanan ekstra pada jantung, ginjal, dan sistem pengatur suhu tubuh. Penurunan kemampuan berkeringat dan aliran darah ke kulit membuat panas lebih mudah terperangkap di dalam tubuh.

Panduan kesehatan masyarakat telah lama mencatat bahwa orang lanjut usia berisiko lebih tinggi mengalami heat exhaustion, heat stroke, hingga kematian saat gelombang panas. Namun, penelitian ini menyoroti sisi lain yang lebih tersembunyi, yakni kerusakan perlahan yang terakumulasi selama bertahun-tahun sebelum muncul sebagai penyakit nyata.

Untuk mengukur paparan panas, para peneliti menggunakan indeks panas, yaitu kombinasi suhu dan kelembapan yang mencerminkan seberapa panas kondisi yang dirasakan tubuh manusia. Data ini diambil dari catatan lingkungan di sekitar rumah partisipan antara tahun 2010 hingga 2016, sehingga mencerminkan pola panas jangka panjang, bukan hanya kejadian sesaat.

Dari sekitar 3.600 partisipan yang dianalisis, mereka yang tinggal di wilayah dengan setidaknya 140 hari per tahun bersuhu di atas 90 derajat Fahrenheit menunjukkan percepatan penuaan biologis hingga sekitar 14 bulan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan individu yang hanya mengalami kurang dari 10 hari panas ekstrem per tahun.

Hubungan tersebut tetap konsisten meskipun peneliti telah memperhitungkan faktor lain seperti pendapatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan tingkat pendidikan.

Menurut Choi, temuan ini menunjukkan bahwa paparan panas kronis dapat menjadi faktor stres lingkungan besar yang dampaknya sebanding dengan gaya hidup tidak sehat lainnya.

Secara biologis, panas berulang dapat mendorong sel ke kondisi stres yang berkepanjangan. Paparan ini memicu perubahan pada metilasi DNA yang mengatur aktivitas gen, dan sebagian perubahan tersebut dapat bertahan meskipun suhu kembali normal. Inilah yang diduga menjadi mekanisme percepatan penuaan pada tingkat sel.

Percepatan penuaan biologis sering kali berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis, karena jaringan tubuh yang “lebih tua” cenderung lebih lambat memperbaiki diri dan kurang tahan terhadap tekanan. Penanda penuaan epigenetik sendiri telah dikaitkan dengan risiko penyakit dan kematian di masa depan, melampaui prediksi usia kronologis semata.

Temuan ini juga membawa implikasi besar bagi perencanaan kota dan kesehatan masyarakat. Fenomena pulau panas perkotaan membuat lingkungan jalan, trotoar, dan kawasan padat bangunan jauh lebih panas dibandingkan area hijau di sekitarnya. Desain kota yang minim naungan memperbesar paparan panas harian, terutama bagi lansia yang harus beraktivitas di luar rumah.

Langkah-langkah sederhana seperti penambahan pohon, penyediaan tempat berteduh di halte, serta kunjungan rutin layanan sosial selama gelombang panas dapat membantu mengurangi risiko.

Dalam konteks iklim yang terus menghangat, pendekatan pencegahan berbasis lingkungan menjadi semakin penting dibandingkan sekadar respons darurat setelah dampak kesehatan muncul.

KEYWORD :

penuaan biologis manusia dampak panas ekstrem perubahan iklim kesehatan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :