Paus beluga (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Populasi paus beluga kian menyusut. Termasuk di Teluk Bristol, Alaska. Jumlah paus beluga kini relatif kecil, terisolasi dari kelompok beluga lain, dan sangat sulit dipantau secara langsung oleh para ilmuwan.
Dalam teori konservasi, kombinasi ini biasanya menjadi resep klasik bagi penurunan keanekaragaman genetik dan meningkatnya risiko perkawinan sedarah.
Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan gambaran yang tidak terduga. Alih-alih terjebak dalam sistem kawin yang didominasi segelintir pejantan kuat, paus beluga di wilayah ini tampaknya menerapkan strategi reproduksi yang jauh lebih merata. Pola tersebut memungkinkan gen tersebar luas di dalam populasi, membantu mereka bertahan di tengah keterbatasan jumlah dan isolasi geografis.
Studi yang dipimpin oleh peneliti dari Florida Atlantic University (FAU) mengungkap bahwa baik beluga jantan maupun betina tidak terpaku pada satu pasangan kawin. Selama bertahun-tahun, mereka berganti-ganti pasangan, membentuk jaringan keluarga yang didominasi oleh saudara tiri, bukan kelompok besar saudara kandung penuh dari orang tua yang sama.
Dikutip dari Earth pada Sabtu (24/1), pola ini bukan sekadar membentuk silsilah keluarga yang unik. Lebih dari itu, strategi tersebut berpotensi menjaga kesehatan genetik populasi.
Dengan menyebarkan peluang reproduksi ke banyak individu, risiko inbreeding dapat ditekan, dan hilangnya variasi genetik yang kerap mengancam populasi kecil bisa diperlambat.
Untuk memahami bagaimana beluga sebenarnya bereproduksi, tim FAU menggabungkan lebih dari satu dekade data genetik dengan pengamatan lapangan. Pertanyaan utama mereka sederhana namun krusial: individu mana yang benar-benar berhasil mewariskan gen, dan seberapa merata gen tersebut tersebar di seluruh populasi?
Meneliti paus beluga bukan perkara mudah. Hewan ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan dingin dan keruh, sementara proses kawin terjadi tanpa tanda-tanda yang mudah diamati. Selama ini, ilmuwan banyak mengandalkan petunjuk tidak langsung, seperti perbedaan ukuran tubuh dan pola perilaku sosial.
Beluga jantan diketahui jauh lebih besar dibanding betina dan jarang terlihat berdekatan dengan induk dan anak. Fakta ini selama bertahun-tahun memunculkan asumsi bahwa beluga memiliki sistem poligini ekstrem, di mana hanya sedikit pejantan yang berhasil mengawini banyak betina. Penelitian terbaru ini menguji asumsi tersebut secara langsung melalui analisis genetik.
Hasilnya menunjukkan bahwa paus beluga Teluk Bristol menganut sistem poliginandri. Artinya, baik jantan maupun betina memiliki banyak pasangan kawin sepanjang musim dan tahun yang berbeda. Keberhasilan reproduksi tidak terkonsentrasi pada beberapa individu saja, melainkan tersebar relatif merata di seluruh populasi.
Konsekuensinya terlihat jelas dalam struktur keluarga. Alih-alih banyak anak dengan orang tua yang sama, silsilah beluga dipenuhi oleh hubungan saudara tiri. Bagi populasi kecil, kondisi ini sangat penting karena ketimpangan reproduksi yang ekstrem dapat memangkas ukuran populasi efektif jauh di bawah jumlah individu yang terlihat.
Ketika hanya segelintir individu yang mendominasi reproduksi, keragaman gen dapat menyusut dengan cepat. Sistem kawin yang lebih merata, seperti yang ditemukan pada beluga ini, berfungsi sebagai penyangga alami terhadap penurunan tersebut dan membantu menjaga daya lenting genetik populasi.
Penelitian ini juga membalik asumsi lama tentang perilaku kawin beluga. Greg O’Corry-Crowe, profesor riset evolusi dan perilaku satwa liar di FAU sekaligus penulis senior studi ini, menyebut temuan tersebut sebagai perubahan besar dalam pemahaman ilmiah. Selama ini, ukuran tubuh pejantan yang besar dianggap sebagai indikasi persaingan kawin yang intens dan dominasi jantan tertentu.
“Temuan kami menunjukkan cerita yang sangat berbeda,” kata O’Corry-Crowe. Menurutnya, dalam jangka pendek pejantan beluga hanya bersifat poligini sedang. Salah satu penjelasan utamanya adalah umur beluga yang luar biasa panjang, yang bisa mencapai puluhan tahun, bahkan diperkirakan hingga mendekati satu abad.
Dengan usia sepanjang itu, strategi reproduksi jangka panjang menjadi masuk akal. Alih-alih bersaing habis-habisan dalam satu musim, pejantan tampaknya menyebarkan upaya reproduksinya selama bertahun-tahun. Pendekatan “permainan panjang” ini mengurangi tekanan kompetisi sekaligus memperluas distribusi gen.
Peran betina juga sangat menonjol dalam pola ini. Penelitian menunjukkan bahwa beluga betina secara aktif berganti pasangan antar musim kawin. Strategi ini diduga berfungsi sebagai manajemen risiko, membantu mereka menghindari pasangan berkualitas rendah, meningkatkan peluang melahirkan anak dengan variasi genetik tinggi, dan mencegah kawin berulang dengan lingkar pejantan yang sempit.
O’Corry-Crowe menekankan bahwa pilihan betina sering kali diremehkan dalam studi perilaku kawin. Padahal, keputusan mereka dapat sama berpengaruhnya dengan kompetisi antarpajantan dalam menentukan siapa yang mewariskan gen ke generasi berikutnya dan bagaimana arah evolusi spesies tersebut.
Dari sisi usia dan pengalaman, peneliti tidak menemukan perbedaan mencolok antara individu muda dan tua dalam hal siapa yang memiliki anak pada satu periode tertentu. Namun, induk yang lebih tua cenderung memiliki lebih banyak anak yang bertahan hidup, kemungkinan karena pengalaman, kondisi tubuh yang lebih baik, pemilihan pasangan yang lebih tepat, atau kombinasi semua faktor tersebut.
Secara keseluruhan, baik jantan maupun betina beluga hanya memiliki sedikit keturunan dalam satu waktu. Hal ini sejalan dengan karakter reproduksi beluga yang lambat, sehingga bahkan individu yang “sukses” sekalipun tidak mendominasi populasi anak dalam satu tahun.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi konservasi. Kesehatan populasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah individu, tetapi juga oleh bagaimana gen mengalir di antara mereka. Sistem kawin dengan pertukaran pasangan yang sering dan ketimpangan reproduksi yang rendah dapat membuat populasi kecil lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan.
Penelitian ini juga dilakukan dengan melibatkan komunitas adat di Teluk Bristol, menunjukkan pentingnya kolaborasi antara sains jangka panjang dan pengelolaan lokal. Di tengah perubahan cepat di wilayah Arktik, strategi alami paus beluga ini memberi pelajaran berharga tentang ketahanan alam.
Meski ancaman erosi genetik tetap nyata, pola kawin beluga menunjukkan bahwa alam memiliki cara-cara halus untuk mengurangi risiko tersebut. Bagi upaya penyelamatan spesies dengan populasi kecil dan terisolasi, temuan ini menghadirkan secercah harapan bahwa perilaku alami dapat membantu mempertahankan keberlangsungan hidup mereka.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
perilaku kawin beluga genetika paus beluga konservasi paus Arktik




















