Teh hijau vs teh hitam (Foto: Health)
Jakarta, Jurnas.com - Perdebatan antara teh hitam dan teh hijau sering kali berujung pada soal rasa. Namun, di balik perbedaan aroma dan warna, pilihan ini juga berkaitan erat dengan kandungan antioksidan yang masuk ke dalam tubuh.
Dikutip dari Health pada Sabtu (24/1), kedua jenis teh ini berasal dari tanaman yang sama, Camellia sinensis, tetapi proses pengolahan yang berbeda membuat komposisi senyawa aktifnya tidak sama.
Secara umum, teh hijau diketahui mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan teh hitam. Dalam takaran sekitar 100 mililiter, teh hijau rata-rata menyediakan sekitar 62 miligram flavanol, sementara teh hitam mengandung sekitar 40 miligram. Perbedaan ini cukup signifikan bagi mereka yang menjadikan teh sebagai sumber antioksidan harian.
Meski begitu, jumlah bukan satu-satunya faktor penentu. Jenis antioksidan yang terkandung dalam kedua teh ini juga berbeda, dan masing-masing memberikan manfaat kesehatan dengan mekanisme yang tidak sepenuhnya sama.
Teh hijau kaya akan katekin, sekelompok polifenol yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan kuat. Salah satu yang paling banyak diteliti adalah epigallocatechin-3-gallate atau EGCG. Senyawa ini dikaitkan dengan penurunan peradangan, perlindungan kesehatan jantung, serta potensi menghambat pertumbuhan sel kanker atau memicu kematian sel abnormal.
Sebaliknya, teh hitam mengandung antioksidan utama berupa theaflavin. Senyawa ini terbentuk dari katekin selama proses oksidasi yang terjadi saat pengolahan teh hitam. Theaflavin memberi warna gelap khas teh hitam sekaligus rasa yang lebih kuat dan sedikit pahit.
Penelitian menunjukkan bahwa theaflavin berperan dalam membantu mengatur kadar kolesterol dan mendukung kesehatan jantung. Artinya, meski kandungan total antioksidannya lebih rendah, teh hitam tetap menawarkan manfaat metabolik yang penting.
Perbedaan ini bermula dari proses setelah daun teh dipetik. Daun teh hijau dipanaskan dengan cara dikukus atau dipanggang segera setelah panen. Proses ini menghentikan oksidasi, sehingga daun mempertahankan warna hijau dan kandungan katekin alaminya. Inilah yang menghasilkan rasa segar dan ringan pada teh hijau.
Pada teh hitam, daun justru digulung atau dihancurkan untuk memecah dinding selnya. Enzim di dalam daun kemudian bereaksi dengan oksigen di udara, memicu oksidasi. Proses ini mengubah katekin menjadi theaflavin dan thearubigin, yang memberikan warna cokelat gelap dan rasa yang lebih pekat.
Selain antioksidan, kandungan kafein juga menjadi pembeda penting. Teh hitam umumnya mengandung lebih banyak kafein. Dalam sajian sekitar 350 mililiter, teh hitam bisa mengandung sekitar 71 miligram kafein. Ini menjadikannya pilihan bagi mereka yang membutuhkan dorongan energi di pagi hari, tetapi ingin mengurangi konsumsi kopi.
Teh hijau menawarkan efek stimulan yang lebih lembut, dengan kandungan kafein sekitar 37 miligram dalam volume yang sama. Minuman ini sering dipilih oleh orang yang sensitif terhadap kafein atau mudah mengalami gelisah dan berdebar setelah minum minuman berkafein tinggi.
Keunggulan lain teh hijau adalah kandungan L-theanine, asam amino yang bekerja bersama kafein untuk meningkatkan fokus tanpa menimbulkan lonjakan energi mendadak. Kombinasi ini menciptakan rasa waspada yang lebih stabil dan tenang.
Cara penyeduhan juga memengaruhi kadar antioksidan yang masuk ke dalam cangkir. Teh hijau sebaiknya diseduh dengan air panas sekitar 85 derajat Celsius. Air yang terlalu panas dapat merusak katekin dan membuat rasanya pahit. Suhu ini dianggap ideal untuk menjaga keseimbangan rasa dan kandungan antioksidan.
Teh hitam lebih tahan terhadap suhu tinggi. Air mendidih bersuhu 100 derajat Celsius justru membantu mengekstraksi antioksidan secara optimal tanpa merusak cita rasanya. Karena itu, teh hitam cocok diseduh dengan air yang benar-benar panas.
Jika dilihat dari sudut pandang kesehatan, tidak ada keharusan untuk memilih salah satu dan meninggalkan yang lain. Teh hijau dan teh hitam sama-sama berkontribusi pada asupan antioksidan harian, dengan profil manfaat yang saling melengkapi.
Mengombinasikan keduanya dalam pola minum harian dapat memberikan variasi rasa sekaligus memastikan tubuh mendapatkan beragam senyawa pelindung. Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, toleransi kafein, dan preferensi pribadi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
teh hijau antioksidan teh hitam vs teh hijau manfaat teh hijau dan hitam


















