Sabtu, 24/01/2026 15:01 WIB

Tujuh Mumi Cheetah Ditemukan di Gua Arab Saudi, Picu Wacana Reintroduksi





Penemuan tujuh mumi cheetah yang terawetkan secara alami di gua-gua gurun Arab Saudi mengungkap bab baru sejarah predator puncak di Semenanjung Arab

Penemuan tujuh mumi cheetah yang terawetkan secara alami di gua-gua gurun Arab Saudi (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Penemuan tujuh mumi cheetah yang terawetkan secara alami di gua-gua gurun Arab Saudi mengungkap bab baru sejarah predator puncak di Semenanjung Arab sekaligus menghidupkan kembali perdebatan soal reintroduksi cheetah ke habitat aslinya. Temuan ini menunjukkan cheetah tidak punah ribuan tahun lalu, melainkan bertahan hingga periode sejarah yang relatif dekat dengan manusia modern.

Riset tersebut merupakan hasil survei lapangan ekstensif Pusat Nasional Konservasi Satwa Liar Arab Saudi (National Center for Wildlife/NCW) di 134 gua di sekitar Kota Arar. Dari lima gua, peneliti menemukan tujuh cheetah yang termumifikasi secara alami, serta sisa kerangka 54 hewan lain, membentuk arsip ekologis tersembunyi kawasan gurun.

Kondisi gua yang sangat kering dengan sirkulasi udara stabil membuat jaringan tubuh cheetah kehilangan air dengan cepat, sehingga kulit dan otot dapat terawetkan tanpa proses buatan. Beberapa mumi ditemukan ratusan meter dari mulut gua, lokasi yang minim kelembapan dan pertumbuhan bakteri, meski proses pengawetan alami seperti ini tergolong langka dan rentan rusak.

Uji penanggalan radiokarbon menunjukkan usia tulang cheetah tertua mencapai sekitar 4.000 tahun, sementara dua mumi berasal dari sekitar 1.870 tahun dan bahkan 130 tahun lalu. Data ini menegaskan bahwa cheetah masih hidup di wilayah Arab hingga masa yang jauh lebih baru dari perkiraan sebelumnya, sebelum akhirnya menghilang pada dekade 1970-an.

Analisis DNA dari tiga spesimen membuka fakta penting soal asal-usul cheetah Arab. Sampel termuda secara genetik paling dekat dengan cheetah Asia (Asiatic cheetah), sementara dua sampel lebih tua justru memiliki kedekatan dengan cheetah Afrika Barat Laut, menandakan perubahan garis keturunan seiring waktu.

Temuan genetik ini menjadi kunci dalam diskusi rewilding atau pengembalian cheetah ke alam Arab. Para peneliti menekankan bahwa reintroduksi hanya masuk akal jika sumber cheetah yang dilepas sesuai dengan garis keturunan yang pernah hidup di kawasan tersebut, guna menghindari masalah adaptasi dan inbreeding.

Sebagai predator puncak, cheetah memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengatur populasi mangsa. Namun, upaya reintroduksi juga membawa risiko konflik dengan manusia, terutama jika ketersediaan mangsa liar terbatas dan cheetah beralih memangsa ternak.

Selain aspek ekologi, perencanaan reintroduksi membutuhkan kesiapan habitat, ketersediaan air, mitigasi penyakit, hingga skema kompensasi bagi masyarakat sekitar. Semua itu menuntut waktu panjang, pendanaan besar, dan penerimaan sosial yang kuat.

Lebih dari sekadar penemuan arkeologis, mumi cheetah ini menunjukkan bagaimana DNA purba dapat dimanfaatkan untuk konservasi modern. Sejarah yang terekam di gua-gua gurun kini menjadi dasar ilmiah untuk menimbang masa depan cheetah di Semenanjung Arab, antara memulihkan warisan alam dan menghadapi realitas ekologis masa kini. (*)

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment. Sumber: Earth

KEYWORD :

Penemuan Mumi Hewan Cheetah Mumi Cheetah Arab Saudi Reintroduksi Cheetah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :