Ilustrasi - wanita haid (Foto: Pexels/Antoni Shkraba)
Jakarta, Jurnas.com - Puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi perempuan yang sedang mengalami haid untuk tidak berpuasa.
Meski demikian, puasa yang ditinggalkan tersebut tetap wajib diganti (qadha) di hari lain setelah Ramadhan berakhir.
Kewajiban mengganti puasa Ramadhan bagi perempuan yang haid didasarkan pada syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, serta ijma’ para ulama. Keringanan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi biologis dan kesehatan perempuan.
Inilah Keutamaan Salat Tahajud di Bulan Syaban
Para ulama sepakat bahwa perempuan yang haid di bulan Ramadhan haram melaksanakan puasa dan wajib menggantinya di luar bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Kami dahulu mengalami haid pada masa Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa Sedekah Sangat Dianjurkan dalam Islam?
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa puasa yang ditinggalkan karena haid tidak gugur, melainkan harus diganti.
Qadha puasa Ramadhan dapat dilakukan kapan saja setelah suci dari haid hingga sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. Namun, para ulama menganjurkan agar tidak menunda tanpa alasan yang dibenarkan syariat.
Jika qadha puasa ditunda hingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa uzur, sebagian ulama mewajibkan fidyah sebagai tambahan, selain tetap mengqadha puasanya.
Niat qadha puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Berikut lafaz niat ganti puasa Ramadhan karena haid:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya:
Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa bulan Ramadhan karena Allah Ta‘ala.
Niat ini cukup diucapkan di dalam hati, sementara melafazkannya dengan lisan bersifat sunnah untuk membantu kekhusyukan.
Secara praktik, qadha puasa Ramadhan sama seperti puasa wajib lainnya. Dimulai dengan niat pada malam hari, kemudian menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Tidak ada doa khusus setelah berbuka yang membedakan antara puasa qadha dan puasa Ramadhan, karena keduanya sama-sama puasa wajib.
Kewajiban mengganti puasa Ramadhan mengandung hikmah agar setiap Muslim tetap menunaikan kewajiban ibadah secara utuh, sekaligus menunjukkan keadilan Islam yang memberi keringanan tanpa menghilangkan tanggung jawab ibadah.
Dengan memahami panduan qadha puasa Ramadhan karena haid, diharapkan kaum Muslimah dapat menjalankan ibadah dengan tenang, sesuai tuntunan syariat, dan penuh kesadaran spiritual.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Wanita haid puasa Ramadan Ganti puasa tata cara dan niat




















