Grisna Anggadwita bersama komunitas penyandang disabilitas (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Pemberdayaan kaum disabilitas di Indonesia menempuh jalan terjal. Hingga kini, dunia kerja rupanya belum menerapkan prinsip-prinsip inklusif dan membuka akses seluas-luasnya pada kalangan disabilitas. Di sisi lain, berbagai upaya peningkatan kapasitas untuk kelompok rentan ini juga terasa belum optimal.
Alhasil, kondisi ini semakin memperburuk nasib kalangan disabilitas. Bukan hanya marjinal secara sosial karena keterbatasan mereka, melainkan juga tersisih dari perkembangan ekonomi.
Padahal, penyandang disabilitas menyimpan potensi besar, terutama di sektor ekonomi. Melalui pendekatan yang tepat dan upaya pemberdayaan secara berkelanjutan, kapasitas mereka dapat meningkat.
Mereka dapat masuk ke dunia kerja, menjadi sosok profesional, bahkan mampu mengembangkan peluang usaha dan menyediakan lapangan kerja bagi komunitasnya.
Demikian disampaikan oleh Grisna Anggadwita, pengajar di prodi manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom. Grisna aktif melakukan penelitian dan pendampingan di kalangan minoritas termasuk penyandang disabilitas.
"Potensi penyandang disabilitas itu banyak sekali, tapi sayang tidak digali. Tantangan terbesarnya mereka sebenarnya hanya terkait akses. Kemampuan mereka itu bisa setara dengan kita. Tinggal mereka diberi kesempatan yang sama atau tidak," kata Grisna.
Melihat kondisi dan potensi warga disabilitas dari serangkaian risetnya, Grisna tak berpangku tangan. Dia berupaya merancang platform pembelajaran khusus yang dapat memotivasi dan meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas.
Tak berhenti di situ, ia juga menggandeng kampus dan mengajak lembaga lain untuk memfasilitasi strategi pemberdayaan bagi kalangan rentan secara komprehensif.
"Akan bagus sekali kalau semua pihak ikut berperan untuk memberdayakan kaum minoritas," ujar Grisna.
Dunia kalangan marjinal seakan telah menjadi bagian kehidupan Grisna. Ketertarikan itu bermula dari riset studinya di Program Magister Sains Manajemen, Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang kewirausahaan perempuan di tahun 2013.
Meski kesetaraan perempuan telah digalakkan, kiprah wanita dalam dunia usaha ternyata tidak mudah, terutama dalam menghadapi kultur dan stigma yang berkembang di masyarakat.
"Wirausaha wanita itu masih cukup challenging (menantang). Tidak hanya di kegiatan ekonomi, challenge (tantangan) juga datang untuk perempuan yang berumah tangga dan banyak aspek lainnya, termasuk lingkungan, sosial, budaya hingga sisi agama. Akhirnya saya kaji semuanya. Walaupun kesetaraan jender sudah digaungkan, pada praktiknya wanita mengalami banyak tantangan dan hambatan," kata Grisna.
Pada akhirnya, Grisna menyadari perempuan masih menjadi bagian kelompok rentan di Indonesia. Hasil penelitian itu ia tuangkan dalam riset bertajuk `Socio-cultural Environments and Emerging Economy Entrepreneurship: Women Entrepreneurs in Indonesia`. Karya ilmiah ini dipublikasikan di Journal of Entrepreneurship in Emerging Economies.
Seiring waktu berjalan, hati Grisna juga terketuk untuk meneliti, mendampingi, hingga memberdayakan para penyandang disabilitas.
Dari penelitiannya mengenai penyandang disabilitas dengan gangguan penglihatan di Bandung, Grisna yang juga merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini kemudian berkolaborasi dengan beberapa tim riset lainnya, di antaranya Prof. Nurul Indarti dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rochmat Aldy Purnomo dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, serta Richard Tomlins dari Coventry University.
Kolaborasi tersebut menghasilkan penelitian mengenai kewirausahaan sosial dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Ponorogo, Jawa Timur, yang telah dipublikasikan di Journal of Social Entrepreneurship.
Dari penelusurannya, Grisna memahami bahwa penyandang disabilitas harus mendapat pendampingan secara spesifik dan kontinu. Ini karena kondisi disabilitas mereka yang berbeda-beda, bahkan untuk jenis keterbatasan yang sama.
"Ternyata jenis disabilitas itu banyak banget. Tidak hanya disabilitas fisik, tapi ada juga disabilitas intelektual dan yang lainnya," ujar Grisna.
Tantangan terbesar pada disabilitas ialah stigma negatif pada mereka yang masih kuat. Kemampuan penyandang disabilitas dianggap serba terbatas, termasuk di sektor ekonomi. Lambat laun, bagi sebagian warga disabilitas, pandangan negatif ini berpengaruh pada cara pandang mereka pada diri sendiri.
"Mereka merasa tidak punya kemampuan. Jadi mereka seperti terpenjara sama pikiran mereka sendiri. Mindset para disabilitas membuat dia kurang bisa mengoptimalkan kemampuan mereka," dia menambahkan.
Grisna merupakan peraih National Champion Scholarship Tanoto Foundation 2013. Menurutnya, Tanoto Foundation memiliki peran penting dalam perjalanan karir akademiknya, melalui dukungan beasiswa pendidikan selama menempuh studi magister di SBM ITB, Grisna dapat berfokus pada pendidikannya sekaligus mengembangkan keilmuan dan kapasitas risetnya.
Secara lebih luas, dukungan tersebut juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDGs) yang menekankan pentingnya inklusivitas, pemberdayaan, dan kesempatan yang setara bagi semua. Grisna mengajak semua pihak untuk turut mendukung upaya-upaya peningkatan kapasitas bagi penyandang disabilitas.
"Bagi penyandang disabilitas, tak selalu berupa dukungan finansial, tapi juga dengan memfasilitasi mereka melalui pendampingan, pembinaan, atau bimbingan. Apalagi sekarang ini, isu-isu terkait equality (kesetaraan) pada SDGs, sedang kuat. Jadi akan bagus sekali kalau semua pihak ikut berperan untuk memberdayakan kaum minoritas," kata Grisna.
Grisna juga turut berkaca dari pengalamannya yang melihat fasilitas penyandang disabilitas di luar negeri, seperti di Perancis dan Swiss. Dari pengamatannya, Indonesia dinilai masih belum memaksimalkan penyediaan fasilitas yang memadai bagi penyandang disabilitas.
"Fasilitas kita memang kadang tidak mendukung, tapi tidak berarti kita tidak mendukung mereka yang punya kekurangan," ujar dia.
Dengan terbatasnya dukungan itu, pendampingan ke penyandang disabilitas justru menjadi momen-momen personal bagi Grisna. Menurut dia, setiap kali berinteraksi dengan penyandang disabilitas menjadi momen untuk berefleksi ke dalam diri.
"Kadang saya malu sama diri saya sendiri. Mereka usahanya besar sekali dengan keterbatasan mereka. Sementara saya kadang enggak bisa melakukan banyak hal. Karena itu, kita jangan memandang rendah setiap manusia. Saya belajar dari mereka," Grisna menambahkan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Pemberdayaan Disabilitas Grisna Anggadwita Potensi Disabilitas























