Jum'at, 23/01/2026 19:46 WIB

ADHD sejak Kecil Tingkatkan Risiko Penyakit Kronis saat Dewasa





Attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD selama ini kerap dikaitkan dengan kesulitan belajar dan perilaku di masa kanak-kanak.

Ilustrasi anak dengan ADHD (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD selama ini kerap dikaitkan dengan kesulitan belajar dan perilaku di masa kanak-kanak. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak ciri-ciri ADHD tidak berhenti di bangku sekolah. Karakteristik tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik seseorang hingga puluhan tahun kemudian.

Studi besar yang dilakukan oleh peneliti dari University College London (UCL) dan University of Liverpool menemukan bahwa ciri ADHD pada usia anak-anak berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit fisik dan disabilitas saat dewasa. Penelitian ini mengikuti peserta sejak masa kanak-kanak hingga usia paruh baya, memberikan gambaran jangka panjang yang jarang tersedia sebelumnya.

Ciri ADHD mencakup kesulitan memusatkan perhatian, tingkat aktivitas yang tinggi, serta perilaku impulsif. Tidak semua orang dengan ciri-ciri ini memiliki diagnosis medis ADHD. Pada banyak kasus, terutama di masa lalu, karakteristik tersebut muncul tanpa pernah diberi label klinis.

Pada era 1970-an di Inggris, diagnosis ADHD masih sangat jarang. Oleh karena itu, para peneliti tidak mengandalkan catatan diagnosis medis. Mereka menilai ciri ADHD berdasarkan laporan perilaku dari orang tua dan guru, yang dianggap paling mengenal keseharian anak-anak tersebut.

Ciri-ciri ADHD tidak selalu berdampak negatif. Banyak individu dengan karakteristik ini dikenal memiliki energi tinggi, kreativitas, dan cara berpikir yang unik. Namun, tantangan seperti perencanaan jangka panjang, manajemen waktu, dan mempertahankan fokus sering kali menimbulkan tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika tekanan ini berlangsung bertahun-tahun, dampaknya bisa terakumulasi dan memengaruhi kesehatan fisik. Inilah yang menjadi fokus utama penelitian jangka panjang tersebut.

Para peneliti menggunakan data dari 1970 British Cohort Study yang dipimpin oleh UCL. Lebih dari 10.000 peserta dipantau sejak lahir hingga usia 46 tahun. Data perilaku pada usia 10 tahun dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh orang dewasa yang mengenal anak tersebut secara dekat.

Sementara itu, data kesehatan diperoleh dari survei berulang sepanjang masa dewasa. Peserta melaporkan berbagai kondisi kesehatan jangka panjang, seperti migrain, nyeri punggung, epilepsi, diabetes, kanker, serta gangguan pencernaan.

Peneliti juga menilai disabilitas terkait kesehatan fisik, yakni sejauh mana penyakit fisik membatasi kemampuan seseorang untuk bekerja atau menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

Hasil analisis menunjukkan pola yang konsisten. Individu dengan skor ciri ADHD lebih tinggi pada masa kanak-kanak cenderung melaporkan lebih banyak masalah kesehatan fisik di usia paruh baya. Risiko memiliki dua atau lebih penyakit kronis meningkat sekitar 14 persen.

Sekitar 42 persen orang dewasa dengan ciri ADHD tinggi saat kecil melaporkan memiliki beberapa kondisi kesehatan fisik pada usia 46 tahun. Angka ini lebih rendah pada mereka yang menunjukkan ciri ADHD lebih sedikit di masa kanak-kanak.

Temuan ini penting karena memiliki banyak penyakit kronis sering kali menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis. Mengelola lebih dari satu kondisi kesehatan juga dapat menambah beban mental dan emosional dalam kehidupan sehari-hari.

Selain penyakit fisik, risiko disabilitas juga meningkat. Orang dewasa dengan ciri ADHD tinggi lebih sering mengalami keterbatasan dalam bekerja atau mengurus aktivitas rutin akibat masalah kesehatan fisik.

Menariknya, hubungan ini tampak lebih kuat pada perempuan dibandingkan laki-laki. Para peneliti menduga faktor sosial turut berperan. Perempuan dengan ciri ADHD sering kali kurang mendapatkan pengakuan dan dukungan, terutama pada dekade-dekade sebelumnya ketika kesadaran tentang ADHD masih rendah.

Kombinasi antara stres jangka panjang dan minimnya dukungan dapat memperbesar beban kesehatan seiring waktu. Studi ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang lebih umum pada individu dengan ciri ADHD.

Tingkat merokok cenderung lebih tinggi sepanjang masa dewasa. Indeks massa tubuh juga rata-rata lebih tinggi, disertai tingkat tekanan psikologis yang lebih besar. Tantangan pendidikan yang berkaitan dengan ADHD dapat memengaruhi stabilitas pekerjaan dan pendapatan, yang pada akhirnya membatasi akses terhadap layanan kesehatan rutin.

Selama bertahun-tahun, faktor-faktor tersebut perlahan menggerogoti kesehatan fisik. Peneliti menemukan bahwa merokok, berat badan berlebih, dan tekanan psikologis menjelaskan sebagian hubungan antara ciri ADHD dan meningkatnya penyakit fisik.

Profesor Joshua Stott dari UCL, penulis senior studi ini, menyatakan bahwa temuan tersebut menambah bukti kuat mengenai ketimpangan kesehatan yang dialami orang dengan ADHD sepanjang hidup mereka. Menurutnya, dengan dukungan yang tepat, individu dengan ADHD sebenarnya dapat berkembang dengan baik.

Namun, dukungan tersebut sering kali tidak tersedia. ADHD masih kurang terdiagnosis, terutama pada orang dewasa paruh baya dan lanjut usia, sehingga banyak kebutuhan yang tidak tertangani.

ADHD memang dimulai sejak masa kanak-kanak, tetapi ciri-cirinya sering berlanjut hingga dewasa. Di Inggris, layanan ADHD untuk orang dewasa masih relatif terbatas dibandingkan negara berpendapatan tinggi lainnya, dengan daftar tunggu panjang dan kekurangan tenaga spesialis.

Penelitian sebelumnya dari kelompok yang sama bahkan menunjukkan bahwa orang dewasa dengan ADHD memiliki harapan hidup lebih rendah. Meski aspek tersebut tidak dianalisis dalam studi terbaru ini, gabungan temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran serius tentang ketimpangan kesehatan jangka panjang.

Penulis utama studi, Dr. Amber John dari University of Liverpool, menekankan bahwa orang dengan ADHD merupakan kelompok yang sangat beragam. Sebagian besar tetap dapat menjalani hidup yang panjang dan sehat, tetapi banyak yang menghadapi hambatan besar dalam mendapatkan diagnosis dan dukungan tepat waktu.

Menurutnya, penyediaan dukungan yang sesuai dapat memperbaiki hasil kesehatan fisik dan mental. Ia juga mendorong agar strategi kesehatan masyarakat mempertimbangkan kebutuhan orang dengan ADHD, termasuk membuat program skrining dan pemantauan kesehatan lebih mudah diakses.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open.

KEYWORD :

ADHD masa kecil kesehatan jangka panjang risiko penyakit dewasa




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :