Jum'at, 23/01/2026 20:17 WIB

Fakta Menarik Gunung Ciremai di Jawa Barat





Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung stratovolcano aktif dan gunung tertinggi di Jawa Barat

Gunung Ciremai (Foto: Via Data Gunung)

Jakarta, Jurnas.com - Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung stratovolcano aktif dan gunung tertinggi di Jawa Barat, berdiri soliter dengan puncak tertinggi mencapai 3.078 meter di atas permukaan laut. Posisi geografisnya yang strategis memisahkan diri dari deretan pegunungan di Jawa Barat bagian timur dan menjadi titik penting dalam ekosistem dan hidrologi regional.

Secara administratif, Gunung Ciremai berada di tiga kabupaten, yaitu Kuningan (59,24%), Majalengka (40,64%), dan Cirebon (0,12%), dengan batas wilayah di utara Kecamatan Dukupuntang, timur Kabupaten Kuningan, selatan Kecamatan Darma, dan barat Kabupaten Majalengka.

Dikutip dari berbagai sumber, Gunung Ciremai terbentuk dari aktivitas vulkanik kuarter dan Plio-Pleistosen, dengan kawah ganda yang masih terlihat jelas hingga kini, serta sejarah letusan yang tercatat sejak tahun 1698 hingga 1937.

Popularitas Gunung Ciremai tidak hanya ditopang oleh panorama alamnya yang menawan dan jalur pendakian yang menantang, tetapi juga oleh nilai historis, budaya, dan ekologis yang melekat pada kawasan ini. Gunung tertinggi di Jawa Barat ini memiliki kisah sejarah panjang terkait para wali, Desa Linggarjati, serta fungsi ekologis penting sebagai daerah resapan air dan habitat berbagai flora serta fauna endemik, yang membuatnya menjadi destinasi menarik bagi pendaki, peneliti, dan wisatawan.

Dari sisi sejarah lokal, nama Ciremai memiliki beberapa versi asal-usul. Versi pertama menyebut bahwa nama “Ciremai” berasal dari tanaman perdu cereme (Phyllanthus acidus), sejenis buah kecil yang masam, yang dahulu banyak tumbuh di lereng gunung.

Versi lain menyebutkan bahwa dulunya gunung ini bernama Gunung Gede, karena ukurannya yang besar, dan namanya berubah seiring kedatangan para wali yang bermusyawarah di puncak dan mengubah nama Desa Gede menjadi Linggarjati, sehingga gunungnya kemudian lebih dikenal sebagai Ceremai. Ada pula versi linguistik yang menyebut fenomena “ci-” sebagai awalan khas banyak nama tempat di wilayah Pasundan, sehingga nama “Cereme” menjadi populer dengan sebutan Ciremai.

Selain nilai historis dan budaya, Gunung Ciremai juga memiliki fungsi ekologis yang penting sebagai daerah resapan air, penyedia mata air, dan habitat bagi flora dan fauna endemik. Kawasan Gunung Ciremai kini termasuk Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas sekitar 15.000 hektar, yang meliputi hutan submontane, montane, dan subalpin.

TNGC menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik, termasuk Elang Jawa, Macan Tutul Jawa, dan Surili, serta ratusan spesies tumbuhan, anggrek, burung, mamalia, amfibi, reptil, dan mikroorganisme yang penting bagi keseimbangan ekosistem.

Gunung Ciremai juga menjadi destinasi favorit pendaki dengan beberapa jalur populer, di antaranya jalur Desa Linggarjati, Palutungan, Apuy, Linggasana, dan Padabeunghar. Setiap jalur menawarkan pemandangan unik, mulai dari ladang pertanian di kaki gunung hingga hutan hujan pegunungan yang rimbun, sebelum mencapai puncak yang menawarkan panorama spektakuler Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dengan kombinasi antara keindahan alam, sejarah, dan keanekaragaman hayatinya, Gunung Ciremai bukan hanya menjadi ikon geografis atau sekadar destinasi pendakian dan wisata, tetapi juga simbol konservasi dan warisan budaya di Jawa Barat yang layak dilestarikan bagi generasi mendatang. (*)

KEYWORD :

Gunung Ciremai Jawa Barat Gunung di Jabar TNGC Jabar




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :