Ilustrasi terapi kuda troya untuk membunuh sel kanker (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Kanker melanoma dikenal sebagai penyakit yang licik. Sel-sel tumor sering mati secara diam-diam, tanpa memicu reaksi pertahanan tubuh, sehingga sistem imun gagal mengenali ancaman dan penyakit dapat terus menyebar tanpa hambatan berarti.
Penelitian terbaru pada model tikus menunjukkan pendekatan terapi baru yang mengubah pola tersebut secara drastis. Alih-alih membiarkan sel kanker mati tanpa suara, terapi ini memaksa tumor mengalami kematian yang bersifat provokatif, sehingga sistem imun terpicu dan bereaksi agresif terhadap kanker.
Pendekatan ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Zhengzhou University dan dipimpin oleh Profesor Weijing Yang, seorang ilmuwan farmasi yang meneliti material polimer untuk mengarahkan respons imun.
Strategi mereka dijuluki sebagai pendekatan `kuda Troya`, karena mengantarkan muatan imun ke dalam tumor sekaligus mengubah cara sel kanker mati dari dalam, sebagaimana dikutip dari Earth pada Jumat (23/1).
Masalah utama banyak terapi kanker modern adalah kurangnya sinyal bahaya yang jelas. Ketika sel tumor mati tanpa peradangan, sistem imun tidak mendapat alasan kuat untuk bertindak. Akibatnya, terapi imun seperti checkpoint inhibitors sering kali tidak bekerja optimal karena tidak ada pemicu awal yang cukup kuat.
Untuk mengatasi hal ini, tim merancang sebuah nanocarrier polimer berukuran sangat kecil yang berfungsi ganda. Partikel ini tidak hanya mengantarkan stimulan imun, tetapi juga secara aktif mengendalikan mekanisme kematian sel kanker agar menjadi terlihat dan berisik bagi sistem imun.
Struktur polimer tersebut dirancang stabil di dalam aliran darah, namun menjadi longgar saat memasuki lingkungan tumor yang bersifat asam. Keasaman ini merupakan ciri khas kanker yang tumbuh cepat dan mengonsumsi energi dalam jumlah besar, sehingga menciptakan kondisi ideal untuk pelepasan muatan obat secara lokal.
Setelah masuk ke dalam sel melanoma, partikel ini menargetkan mitokondria, pusat energi sel. Gangguan pada fungsi mitokondria memicu stres oksidatif, meningkatkan molekul reaktif, dan akhirnya memicu rangkaian kerusakan internal yang berujung pada kehancuran sel.
Berbeda dari kematian sel yang tenang, mekanisme ini mendorong immunogenic cell death, yaitu jenis kematian sel yang memancarkan sinyal bahaya. Sel kanker yang sekarat melepaskan atau menampilkan molekul tertentu di permukaannya, yang kemudian dikenali oleh sel-sel imun sebagai tanda ancaman serius.
Dalam banyak kasus, proses ini memicu pyroptosis, bentuk kematian sel yang bersifat inflamasi dan menyebabkan membran sel pecah. Ledakan biologis ini menarik perhatian sistem imun dan mengirimkan pesan bahwa ada bahaya yang harus segera ditangani.
Menariknya, desain polimer ini memungkinkan terjadinya kehancuran sel tanpa perlu memuat obat sitotoksik tambahan. Dengan kata lain, material pembawa itu sendiri sudah cukup untuk memicu kematian sel yang bersifat imunogenik.
Strategi ini diperkuat dengan pendekatan dua sasaran. Tim menargetkan tidak hanya sel tumor, tetapi juga makrofag yang berada di sekitar tumor. Sel-sel imun ini sering direkrut oleh kanker dan diubah fungsinya menjadi pelindung tumor, bukan penyerang.
Salah satu varian partikel dirancang untuk menempel pada reseptor yang umum ditemukan pada sel melanoma, sementara varian lain membawa mannosa untuk mengikat reseptor pada makrofag. Dengan mencampur keduanya, peneliti dapat memengaruhi perilaku tumor dan sistem imun secara bersamaan.
Untuk mengaktifkan kembali makrofag agar mendukung serangan imun, partikel tersebut membawa resiquimod, senyawa yang merangsang sensor imun bawaan. Setelah masuk ke dalam makrofag, senyawa ini meningkatkan sinyal inflamasi dan mendorong makrofag kembali ke mode menyerang kanker.
Ketika sel tumor hancur, fragmen antigen yang dilepaskan kemudian diproses oleh sel dendritik, yang berfungsi sebagai “pengintai” sistem imun. Sel dendritik ini lalu mengaktifkan sel T pembunuh di kelenjar getah bening, menciptakan efek seperti vaksin yang berasal langsung dari tumor itu sendiri.
Dalam percobaan pada tikus, pendekatan gabungan ini meningkatkan jumlah sel T antitumor dan memperpanjang kelangsungan hidup, terutama ketika dikombinasikan dengan terapi imun yang menghambat sinyal pengereman sistem imun.
Namun, para peneliti juga mencatat bahwa tumor dapat kembali mengaktifkan mekanisme perlindungan diri setelah respons imun meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi terapi tetap diperlukan, meskipun kompleksitas pengobatan juga bertambah.
Pencitraan menunjukkan bahwa partikel mencapai konsentrasi puncak di tumor sekitar delapan jam setelah injeksi, menandakan kemampuan penargetan yang efektif. Di sekitar tumor, jaringan imun menunjukkan tanda aktivasi yang lebih kuat dibandingkan kelompok kontrol.
“Studi ini menunjukkan strategi pemanfaatan material imun-aktif untuk mengintegrasikan respons imun bawaan dan adaptif dalam meningkatkan terapi kanker,” tulis Profesor Yang.
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap hewan. Produksi skala besar, pemurnian material, serta uji keamanan jangka panjang masih diperlukan sebelum terapi ini dapat diuji pada manusia.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
terapi kanker imun nanopartikel kanker imunoterapi melanoma





















