Burger nabati (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Selama bertahun-tahun, istilah ultra-processed food atau makanan ultra-olahan sering dianggap sebagai musuh kesehatan. Produk seperti roti, sereal sarapan, hingga burger nabati kerap disamakan dengan minuman bersoda dan junk food, membuat banyak orang bingung menentukan pilihan makanan sehari-hari.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Tidak semua makanan olahan berdampak buruk bagi kesehatan, terutama jika sumbernya berasal dari tumbuhan.
Analisis ilmiah terbaru menemukan bahwa makanan nabati, bahkan yang telah melalui proses pengolahan, justru dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2 jika dibandingkan dengan makanan olahan berbasis hewani.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa sebagian makanan olahan secara konsisten merusak kesehatan, sementara sebagian lainnya justru dapat memberikan efek perlindungan bagi tubuh.
Penelitian tersebut merupakan tinjauan sistematis terhadap 14 studi jangka panjang yang meneliti hubungan antara makanan ultra-olahan dan kesehatan. Alih-alih mengelompokkan semua makanan olahan ke dalam satu kategori besar, para peneliti memisahkan jenis makanan berdasarkan sumbernya, yakni nabati dan hewani.
Pendekatan ini menghasilkan gambaran yang jauh lebih jelas. Makanan ultra-olahan berbasis hewan dan berbasis tumbuhan ternyata menunjukkan dampak kesehatan yang sangat berbeda.
"Ulasan ini membantu meluruskan kebingungan seputar makanan ultra-olahan," ujar Dr. Hana Kahleova, penulis utama studi sekaligus Direktur Riset Klinis di Physicians Committee for Responsible Medicine, dikutip dari Earth pada Jumat (23/1).
Ia menegaskan bahwa produk hewani ultra-olahan seperti daging asap dan daging olahan meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung, sementara produk nabati ultra-olahan seperti sereal dan burger nabati justru berkaitan dengan penurunan risiko penyakit tersebut.
Daging olahan selama ini telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan serius. Konsumsi rutin makanan seperti sosis, hot dog, dan daging deli terbukti meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, hingga kematian dini.
Efek negatif tersebut berasal dari beberapa mekanisme biologis. Kandungan lemak jenuh yang tinggi dalam daging olahan dapat menurunkan sensitivitas insulin dan meningkatkan penumpukan lemak di hati. Garam berlebih juga berperan menaikkan tekanan darah serta merusak pembuluh darah.
Selain itu, pengawet kimia seperti nitrat dan nitrit dapat membentuk senyawa berbahaya di dalam tubuh. Zat besi heme yang terdapat dalam daging memperparah stres oksidatif dan mengganggu kontrol gula darah, sementara bakteri usus dapat mengubah komponen daging menjadi senyawa yang merusak kesehatan pembuluh darah.
Proses memasak suhu tinggi pada daging juga menghasilkan advanced glycation end products (AGEs), senyawa yang meningkatkan peradangan dan mengganggu kerja insulin. Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat daging olahan berbahaya dalam jangka panjang.
Minuman manis, baik yang mengandung gula maupun pemanis buatan, juga menunjukkan hubungan kuat dengan peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung. Gula cair diserap sangat cepat oleh tubuh, menyebabkan lonjakan gula darah tanpa memberikan rasa kenyang yang bertahan lama.
Sebaliknya, makanan nabati ultra-olahan menunjukkan pola yang sangat berbeda. Roti, sereal sarapan, biskuit berbasis gandum, dan produk biji-bijian justru dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes dan penyakit jantung.
Kandungan serat menjadi faktor utama yang menjelaskan manfaat tersebut. Serat memperlambat pencernaan, membantu menjaga kestabilan gula darah, serta mendukung pengendalian berat badan dan sensitivitas insulin.
Produk gandum juga menyediakan vitamin, mineral, antioksidan, dan senyawa nabati yang melindungi pembuluh darah dan membantu menurunkan tekanan darah. Proses pengolahan tidak selalu menghilangkan serat, sehingga banyak produk roti dan sereal tetap bernilai gizi tinggi.
Alternatif daging berbasis nabati juga menunjukkan manfaat metabolik. Kandungan lemak jenuh yang lebih rendah membantu meningkatkan sensitivitas insulin, sementara tidak adanya zat besi heme mengurangi stres oksidatif. Serat yang lebih tinggi juga berkontribusi pada kontrol gula darah yang lebih stabil.
Data dari berbagai studi populasi besar yang melibatkan ratusan ribu orang mendukung kesimpulan ini. Risiko diabetes meningkat seiring tingginya konsumsi makanan hewani ultra-olahan, sementara konsumsi sereal, roti, dan alternatif nabati justru berkaitan dengan kesehatan jantung yang lebih baik.
Hasil ini konsisten di berbagai negara, kelompok usia, dan periode pemantauan yang panjang, menunjukkan bahwa sumber makanan sama pentingnya dengan tingkat pengolahannya.
Sistem klasifikasi makanan seperti NOVA, yang mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pengolahan, dinilai perlu diperbarui agar tidak menyamakan semua makanan ultra-olahan sebagai sesuatu yang berbahaya.
“Banyak orang kehilangan manfaat kesehatan dari makanan nabati ultra-olahan karena disatukan dengan produk hewani ultra-olahan yang merusak kesehatan,” kata Dr. Kahleova.
Kesimpulannya, pesan kesehatan yang lebih akurat bukan sekadar menghindari makanan olahan, melainkan memilih sumber nabati. Bahkan dalam bentuk olahan, makanan berbasis tumbuhan tetap dapat mendukung kesehatan jantung dan menurunkan risiko diabetes.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal BMJ Nutrition Prevention & Health.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
makanan nabati sehat makanan olahan nabati diet nabati kesehatan






















