Jum'at, 23/01/2026 17:00 WIB

Setelah Maduro Tersingkir, Amerika Serikat Tekan Kuba Lewat Minyak





Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mulai memfokuskan perhatian ke Kuba menyusul perkembangan terbaru di Venezuela.

Ilustrasi - setelah Venezuela, Amerika Serikat mulai fokus tekan Kuba (Foto: Anadolu)

Istanbul, Jurnas.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mulai memfokuskan perhatian ke Kuba menyusul perkembangan terbaru di Venezuela.

Washington disebut mendorong peningkatan tekanan politik, sembari tetap membuka ruang dialog guna mengakhiri pemerintahan komunis di negara Karibia tersebut.

Menurut laporan Wall Street Journal, Amerika Serikat tengah berupaya mencari mitra di lingkaran pemerintahan Kuba yang dinilai berpotensi membuka jalur perundingan sebelum akhir tahun ini.

Langkah itu diambil setelah keberhasilan penyingkiran Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang dianggap mengubah peta politik kawasan.

Pejabat AS menilai perekonomian Kuba berada di titik kritis dan posisi pemerintah di Havana semakin rapuh setelah kehilangan dukungan strategis dari Venezuela. Situasi tersebut dipandang membuka peluang bagi Washington untuk meningkatkan tekanan diplomatik.

Meski belum terdapat rencana konkret untuk membongkar pemerintahan Kuba, penangkapan Maduro beserta konsesi yang mengikutinya dinilai sebagai preseden sekaligus peringatan bagi Havana. Langkah itu disebut menunjukkan konsekuensi yang dapat dihadapi jika Kuba menolak tekanan AS.

Dalam unggahan media sosial pada 11 Januari, Presiden Trump mendesak pemerintah Kuba agar segera mencapai kesepakatan. Ia juga menegaskan bahwa aliran minyak maupun dana ke Kuba tidak akan dilanjutkan.

Laporan tersebut menyebutkan para pejabat Amerika Serikat telah melakukan pertemuan dengan kelompok diaspora Kuba di Miami dan Washington. Pertemuan itu bertujuan mengidentifikasi figur-figur di dalam pemerintahan Kuba yang dinilai terbuka terhadap proses negosiasi.

Penangkapan Maduro dilaporkan melibatkan dukungan dari pihak internal Venezuela. Dalam operasi yang sama, sebuah serangan militer Amerika Serikat di Caracas disebut menewaskan puluhan personel militer dan intelijen Kuba yang bertugas mengamankan Maduro.

Walaupun Washington belum secara terbuka mengancam tindakan militer terhadap Kuba, sejumlah pejabat menilai operasi di Venezuela dimaksudkan sebagai sinyal keras atas risiko yang dihadapi Havana jika tetap menolak tekanan.

Berdasarkan penilaian intelijen AS, kondisi ekonomi Kuba digambarkan berada dalam keadaan darurat, ditandai kelangkaan kebutuhan pokok, obat-obatan, serta pasokan listrik.

Pemerintah AS dikabarkan berencana memperburuk tekanan dengan memutus suplai minyak Venezuela dan menargetkan misi medis Kuba di luar negeri yang selama ini menjadi sumber devisa utama.

Seorang pejabat Gedung Putih menyalahkan para pemimpin Kuba atas keruntuhan ekonomi nasional, seraya kembali mendorong Havana agar segera mencapai kesepakatan sebelum situasi semakin memburuk.

Departemen Luar Negeri AS menegaskan kepentingan nasional Amerika Serikat adalah mendorong terbentuknya pemerintahan demokratis di Kuba serta mencegah kekuatan militer dan intelijen negara pesaing beroperasi di pulau tersebut.

Sejumlah pejabat menyebut Presiden Trump lebih mengutamakan strategi tekanan maksimum yang dibarengi peluang negosiasi, dibandingkan pendekatan perubahan rezim secara langsung.

Meski demikian, sebagian sekutu Trump memprediksi kemungkinan runtuhnya pemerintahan komunis Kuba, sambil mengingatkan potensi ketidakstabilan yang bisa menyertai perubahan tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Kuba menegaskan tetap bertahan di tengah tekanan panjang dari Amerika Serikat. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menekankan bahwa negaranya tidak akan menyerah atau berkompromi di bawah paksaan maupun intimidasi.

Sementara itu di Havana, pemadaman listrik yang semakin sering dan kelangkaan bahan bakar membuat malam-malam kian sepi. Ungkapan protes warga kerap terdengar melalui ketukan panci dari dalam rumah, menjadi simbol kekecewaan dan keputusasaan yang terus tumbuh. (Anadolu)

KEYWORD :

Amerika Serikat Donald Trump negara Kuba negara Venezuela




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :