Paracetamol (Foto: DailyStar)
Jakarta, Jurnas.com - Kekhawatiran soal konsumsi obat selama kehamilan kembali mencuat setelah paracetamol, atau Tylenol, sempat dikaitkan dengan risiko autisme. Namun, studi terbesar hingga saat ini justru menemukan tidak ada hubungan antara penggunaan paracetamol selama kehamilan dengan autisme maupun gangguan perkembangan saraf lainnya.
Temuan tersebut berasal dari tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dilakukan peneliti City St. George’s, University of London, terhadap 43 studi berkualitas tinggi dari berbagai negara dan sistem kesehatan. Penelitian ini menilai secara khusus apakah paparan paracetamol saat hamil meningkatkan risiko autisme, ADHD, atau disabilitas intelektual.
Dikutip dari Earth, isu ini sebelumnya ramai diperbincangkan setelah sejumlah komentar publik pada 2025 memicu kekhawatiran luas. Akibatnya, sebagian ibu hamil bahkan menghindari pengobatan meski mengalami nyeri atau demam yang mengganggu aktivitas harian.
Peneliti menilai, kesimpulan studi-studi sebelumnya kerap menyesatkan karena bergantung pada ingatan orang tua, periode pemantauan yang singkat, serta data medis yang tidak lengkap. Faktor penting seperti genetika, lingkungan keluarga, infeksi, demam, dan kondisi nyeri ibu sering kali tidak diperhitungkan secara memadai.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, tim peneliti memberi perhatian khusus pada studi perbandingan saudara kandung, yakni membandingkan anak-anak dari ibu yang sama dengan paparan paracetamol berbeda pada tiap kehamilan. Metode ini membantu mengendalikan faktor genetik dan lingkungan keluarga yang sulit dipisahkan dalam penelitian konvensional.
Analisis yang mencakup lebih dari satu juta anak itu menunjukkan hasil konsisten. Tidak ditemukan peningkatan risiko autisme pada lebih dari 260 ribu anak, ADHD pada lebih dari 330 ribu anak, maupun disabilitas intelektual pada lebih dari 400 ribu anak yang diteliti.
Meski sejumlah penelitian laboratorium menunjukkan kemungkinan efek biologis paracetamol terhadap perkembangan otak, bukti tersebut sebagian besar berasal dari studi hewan atau sel. Data populasi manusia yang telah disesuaikan dengan faktor genetik dan lingkungan tidak mendukung adanya dampak merugikan.
“Kaitan yang sebelumnya dilaporkan kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor genetik atau kondisi ibu seperti demam dan nyeri, bukan efek langsung paracetamol,” ujar penulis utama studi, Profesor Asma Khalil. Ia menegaskan paracetamol tetap aman digunakan selama kehamilan jika dikonsumsi sesuai anjuran.
Peneliti juga mengingatkan bahwa nyeri dan demam yang tidak ditangani selama kehamilan justru dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan kelainan bawaan. Karena itu, paracetamol masih menjadi obat lini pertama yang direkomendasikan secara global untuk ibu hamil.
Studi ini memberikan kepastian ilmiah setelah bertahun-tahun ketidakpastian. Paracetamol selama kehamilan tidak meningkatkan risiko autisme, ADHD, maupun disabilitas intelektual, dan tetap dapat digunakan dengan aman sesuai petunjuk medis. (*)
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Obstetrics, Gynaecology, & Women’s Health.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Studi Terbesar Penggunaan Paracetamol Masa Kehamilan Risiko Autisme



















