Kamis, 22/01/2026 21:21 WIB

Rahasia Olahraga untuk Umur Panjang Ternyata Bukan Soal Durasi





Selama ini, banyak anggapan bahwa durasi dalam berolahraga merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan berumur panjang.

Olahraga sepeda untuk menjaga kesehatan tubuh (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Selama ini, banyak anggapan bahwa durasi dalam berolahraga merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan berumur panjang. Tak heran, makin banyak orang tetap aktif seiring bertambahnya usia.

Namun, riset terbaru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Bukan hanya seberapa sering atau seberapa lama seseorang bergerak yang menentukan umur panjang, melainkan juga bagaimana variasi gerakan itu dilakukan.

Penelitian berskala besar menunjukkan bahwa mengulang jenis olahraga yang sama terus-menerus mungkin tidak memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan jangka panjang.

Sebaliknya, orang yang mengombinasikan berbagai jenis aktivitas fisik justru memiliki peluang hidup lebih lama. Temuan ini menggeser fokus dari sekadar aktif menjadi aktif dengan beragam cara.

Dikutip dari Earth, studi ini dipimpin oleh tim peneliti dari Harvard University dan memanfaatkan data jangka panjang yang sangat kaya. Para ilmuwan mengikuti puluhan ribu orang dewasa selama lebih dari 30 tahun untuk melihat hubungan antara pola olahraga dan risiko kematian.

Hasilnya cukup konsisten. Variasi olahraga berkaitan dengan umur yang lebih panjang dibandingkan fokus pada satu jenis aktivitas saja.

Data penelitian berasal dari dua studi besar di Amerika Serikat. Yang pertama adalah Nurses’ Health Study, yang melibatkan 121.700 perempuan. Yang kedua adalah Health Professionals Follow-Up Study dengan 51.529 peserta laki-laki. Kedua kelompok ini dipantau selama beberapa dekade, dengan pembaruan data kesehatan dan gaya hidup setiap dua tahun.

Dalam survei rutin tersebut, peserta melaporkan jenis olahraga yang mereka lakukan. Daftarnya sangat luas, mulai dari jalan kaki, jogging, lari, bersepeda, berenang, hingga olahraga seperti tenis, squash, dan racquetball.

Aktivitas kekuatan seperti angkat beban, senam kalistenik, yoga, peregangan, pekerjaan kebun, serta naik tangga juga dihitung sebagai aktivitas fisik.

Para peneliti secara khusus memfokuskan analisis pada aktivitas fisik di waktu luang, bukan gerakan yang berkaitan dengan pekerjaan. Pendekatan ini penting karena memungkinkan mereka menangkap kebiasaan olahraga jangka panjang, bukan hanya fase singkat dalam hidup seseorang.

Secara biologis, tubuh manusia merespons berbagai jenis gerakan dengan cara yang berbeda. Aktivitas aerobik seperti berjalan, berlari, atau bersepeda terutama meningkatkan fungsi jantung dan paru-paru.

Latihan kekuatan, di sisi lain, memperkuat otot dan menjaga kepadatan tulang. Sementara itu, latihan fleksibilitas dan keseimbangan berperan penting dalam menjaga postur dan mencegah cedera, terutama pada usia lanjut.

Eksperimen sebelumnya menunjukkan bahwa olahraga aerobik meningkatkan kemampuan otot menggunakan oksigen, tetapi dampaknya pada kekuatan relatif kecil.

Sebaliknya, latihan beban meningkatkan kekuatan secara signifikan, namun hanya sedikit memengaruhi kapasitas aerobik. Dengan mengombinasikan keduanya, tubuh memperoleh manfaat lintas sistem yang lebih seimbang.

Variasi gerakan juga membantu mendistribusikan beban fisik ke berbagai sendi dan kelompok otot. Melakukan satu jenis olahraga secara berulang dapat menimbulkan stres berlebihan pada bagian tubuh tertentu. Campuran aktivitas memberi waktu pemulihan alami, sambil tetap menjaga tingkat aktivitas energi tetap tinggi.

Untuk mengukur intensitas olahraga, peneliti menggunakan satuan MET atau metabolic equivalent of task. Nilai MET membandingkan energi yang digunakan saat beraktivitas dengan kondisi istirahat.

Aktivitas intens seperti lari memiliki skor MET lebih tinggi dibandingkan jalan santai. Total aktivitas mingguan dihitung dengan menjumlahkan waktu dan intensitas setiap aktivitas.

Selama periode lebih dari 30 tahun, tercatat 38.847 kematian di antara seluruh peserta. Penyebabnya beragam, mulai dari penyakit jantung, kanker, penyakit pernapasan, hingga sebab lainnya. Seperti yang telah banyak diketahui, tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi secara umum berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah.

Namun, manfaat tersebut tidak meningkat tanpa batas. Peneliti menemukan bahwa sekitar 20 jam MET per minggu menjadi titik di mana manfaat tambahan mulai melandai. Artinya, berolahraga lebih banyak dari itu tidak selalu memberikan keuntungan umur panjang yang jauh lebih besar.

Jika dilihat per jenis aktivitas, jalan kaki menunjukkan manfaat kuat dengan penurunan risiko kematian sekitar 17 persen. Naik tangga dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 10 persen.

Olahraga raket seperti tenis dan squash menunjukkan penurunan risiko sekitar 15 persen, sementara rowing, kalistenik, lari, dan latihan beban berada di kisaran 13–14 persen.

Yang menarik, berenang tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan penurunan risiko kematian secara keseluruhan. Peneliti menduga variasi intensitas dan durasi berenang di antara peserta bisa memengaruhi hasil tersebut, sehingga efeknya tidak setajam aktivitas lain.

Faktor yang paling menonjol dalam studi ini adalah variasi aktivitas. Orang yang rutin melakukan banyak jenis olahraga memiliki risiko kematian lebih rendah, bahkan setelah total durasi dan intensitas olahraga diperhitungkan.

Variasi yang luas dikaitkan dengan penurunan risiko kematian hingga 19 persen secara keseluruhan, dan 13 hingga 41 persen untuk berbagai penyebab spesifik seperti penyakit jantung dan kanker.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan adanya keterbatasan. Data aktivitas bersifat laporan mandiri, yang berpotensi mengandung kesalahan. Selain itu, mayoritas peserta berasal dari kelompok profesional kulit putih, sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi global. Studi ini juga bersifat observasional, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak.

Walau begitu, pesan utamanya cukup jelas. Kesehatan jangka panjang tampaknya tidak hanya bergantung pada seberapa rajin seseorang berolahraga, tetapi juga pada seberapa beragam gerakan yang dilakukan.

Menggabungkan jalan kaki, latihan kekuatan, olahraga aerobik, dan aktivitas lain dalam rutinitas mingguan bisa menjadi pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan untuk hidup lebih lama dan sehat.

KEYWORD :

variasi olahraga sehat olahraga umur panjang manfaat aktivitas fisik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :