Proses penggalian jejak makam Firaun Thutmose II di Mesir (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Selama lebih dari satu abad, nama Firaun Thutmose II terasa seperti potongan yang hilang dalam peta besar pemakaman kerajaan Mesir Kuno.
Dia merupakan satu-satunya penguasa Dinasti ke-18 yang makamnya belum pernah ditemukan secara pasti, meninggalkan celah dalam narasi kekuasaan, kematian, dan ritual kerajaan di Lembah Nil.
Kini, pencarian panjang itu akhirnya berakhir di dekat Luxor, ketika para arkeolog berhasil mengidentifikasi makam yang lama hilang tersebut.
Penemuan ini dikreditkan kepada tim gabungan arkeolog Mesir dan Inggris yang bekerja di tepi barat Luxor. Mereka memastikan bahwa sebuah makam yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Tomb C4 merupakan tempat peristirahatan Thutmose II. Lokasinya berada sekitar 2,4 kilometer di sebelah barat Lembah Para Raja, kawasan pemakaman paling terkenal bagi para firaun Mesir.
Arah pencarian ini dibantu oleh peta survei lama dari University of Cambridge yang menunjukkan potensi jalur pemakaman di luar lembah utama, sebagaimana dikutip dari Earth.
Pekerjaan lapangan dipimpin oleh Piers Litherland, seorang peneliti kehormatan yang selama bertahun-tahun menelusuri makam-makam kerajaan awal yang tersembunyi di lembah-lembah kecil Luxor. Pendekatan ini penting karena makam tersebut tidak langsung menunjukkan identitas pemiliknya.
Saat penggalian awal dilakukan, para arkeolog justru dihadapkan pada lorong yang runtuh, tanpa petunjuk nama atau gelar kerajaan yang jelas. Kondisi ini membuat identifikasi berjalan lambat dan penuh kehati-hatian, karena setiap lapisan puing bisa menyimpan fragmen kunci atau justru menghancurkan bukti rapuh yang tersisa.
Salah satu alasan makam ini lama mengecoh para ahli adalah lokasinya yang berdekatan dengan makam para perempuan kerajaan. Dalam arkeologi Mesir, lanskap dianggap sebagai petunjuk penting karena makam raja, permaisuri, dan anggota keluarga biasanya dikelompokkan di area yang berbeda. Kedekatan ini membuat makam tersebut awalnya disangka sebagai milik selir atau kerabat perempuan istana, bukan seorang firaun.
Di sekitar lokasi ditemukan pula makam-makam yang dikaitkan dengan istri Thutmose III serta sebuah tempat peristirahatan yang pernah direncanakan untuk Ratu Hatshepsut. Konteks inilah yang membentuk asumsi awal para peneliti dan menunda pengakuan bahwa makam tersebut bersifat kerajaan hingga bukti yang lebih kuat muncul dari dalam ruang pemakaman.
Petunjuk penting datang dari sisa-sisa dekorasi dinding. Di ruang pemakaman utama, para arkeolog menemukan bekas langit-langit berwarna biru dengan taburan bintang kuning, sebuah ciri khas yang hampir eksklusif digunakan untuk makam raja. Selain itu, fragmen teks Amduat, kitab perjalanan matahari di alam baka yang diperuntukkan bagi firaun, muncul di puing-puing dinding yang runtuh.
Menurut Piers Litherland, keberadaan dekorasi Amduat menjadi titik balik utama. Ia menyebut temuan tersebut sebagai indikasi pertama yang sangat kuat bahwa makam ini adalah milik seorang raja. Meski lukisan itu belum menyebutkan nama, ia mengarahkan para peneliti untuk mencari artefak kecil yang mungkin tersembunyi di antara puing.
Penggalian kemudian dilakukan dengan sangat teliti. Setiap ember puing disaring, dan fragmen kecil dipilah satu per satu. Upaya ini membuahkan hasil ketika para peneliti menemukan pecahan alabaster, batu lembut yang biasa digunakan untuk bejana ritual, dengan inskripsi yang menyebut nama Thutmose II sebagai raja yang telah wafat.
Fragmen lain bahkan memuat nama Ratu Hatshepsut dalam konteks doa agar ia diberi kehidupan. Temuan ini sangat penting karena membantu mengunci kronologi, menunjukkan bahwa makam tersebut memang berasal dari masa singkat pemerintahan Thutmose II, sebelum dominasi politik Hatshepsut sepenuhnya terbentuk.
Namun, kondisi makam yang rusak parah juga menyimpan cerita lain. Banjir besar pada masa kuno diduga melanda makam tak lama setelah pemakaman, membawa endapan lumpur tebal yang meretakkan plester dan menyumbat lorong. Aliran air deras di gurun dapat mengubah pasir menjadi massa berat yang menekan dinding, menyebabkan kerusakan struktural serius.
Setelah banjir tersebut, pekerja Mesir kuno kemungkinan besar memindahkan barang-barang pemakaman yang masih bisa diselamatkan. Akibatnya, makam ini kini lebih kaya akan petunjuk identitas dibandingkan informasi tentang ritual, kekayaan, atau kehidupan sehari-hari sang raja di alam baka.
Secara historis, kematian Thutmose II terjadi pada usia muda, memicu situasi politik yang rumit. Hatshepsut, yang merupakan istri sekaligus saudara tirinya, awalnya bertindak sebagai wali bagi Thutmose III yang masih kecil, sebelum akhirnya mengklaim gelar firaun dan memerintah hampir dua dekade. Bukti bahwa Hatshepsut mengawasi pemakaman suaminya mengaitkan makam ini dengan fase awal kebangkitan kekuasaannya.
Dari sisi arsitektur, tata letak makam menunjukkan pola lorong sederhana dengan belokan ke kiri, rancangan yang kelak menjadi standar bagi makam raja-raja berikutnya di kawasan tersebut. Desain ini memperlambat pergerakan pengunjung dan memudahkan penyembunyian ruang, menjadi cetak biru awal sebelum Lembah Para Raja berkembang sepenuhnya.
Meski makamnya telah ditemukan, jasad Thutmose II sendiri belum ditemukan di dalamnya. Para ahli masih memperdebatkan apakah mumi yang selama ini dikaitkan dengannya benar-benar milik sang raja, mengingat praktik pemindahan ulang jasad oleh para pendeta pada masa-masa berikutnya. Hingga lokasi peristirahatan terakhirnya dipastikan, makam ini tetap menjadi penghubung paling langsung dengan masa pemerintahannya.
Penemuan ini juga mendorong para arkeolog untuk meninjau ulang lanskap Luxor barat. Lembah-lembah sempit yang jarang dikunjungi wisatawan kini kembali menjadi fokus, dipadukan dengan peta lama dan citra satelit untuk melacak jejak pekerja kuno.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
makam Thutmose II penemuan makam Mesir sejarah Dinasti ke-18



















