Ilustrasi sperma (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Penelitian terbaru mengungkap bahwa sperma manusia memiliki semacam jam penuaan tersembunyi, yang selama ini luput dari perhatian.
Temuan ini menunjukkan bahwa RNA dalam sperma berperan jauh lebih besar dalam menjelaskan bagaimana usia ayah memengaruhi reproduksi dan kesehatan keturunan dibandingkan yang selama ini diperkirakan para ilmuwan.
RNA berfungsi sebagai seperangkat instruksi yang membantu sel menentukan apa yang harus dilakukan dan kapan melakukannya. Berbeda dengan DNA yang relatif stabil, RNA bersifat lebih fleksibel dan responsif terhadap berbagai faktor lingkungan.
Dikutip dari Earth, pola makan, stres, hingga proses penuaan dapat memengaruhi RNA, menjadikannya indikator dinamis dari kondisi biologis seseorang.
Bukti baru menunjukkan bahwa perubahan RNA pada sperma tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan terakumulasi perlahan selama bertahun-tahun.
Menariknya, setelah periode tertentu, perubahan tersebut dapat melonjak secara tajam pada fase usia menengah, seolah-olah ada titik kritis dalam proses penuaan sel reproduksi pria.
Tim peneliti menemukan bahwa RNA sperma mengalami pergeseran pola yang sangat konsisten seiring bertambahnya usia. Pola ini pertama kali diamati pada tikus, lalu dikonfirmasi pada manusia. Kesamaan lintas spesies ini menunjukkan bahwa mekanisme tersebut bersifat fundamental dan terkonservasi secara biologis.
Dr. Qi Chen, profesor madya urologi dan genetika manusia di University of Utah Health sekaligus penulis senior studi ini, menyebut temuan tersebut seperti menemukan jam molekuler. Menurutnya, RNA sperma seolah berdetak mengikuti usia, mengisyaratkan adanya tanda biologis universal terkait penuaan sperma pada mamalia.
Yang mengejutkan para peneliti, perubahan RNA ini tidak mengikuti pola kerusakan DNA yang selama ini dikenal sebagai ciri utama sperma tua. Selama puluhan tahun, DNA sperma yang semakin terfragmentasi dianggap sebagai penanda utama penuaan. Namun data terbaru justru menunjukkan arah yang berlawanan pada RNA.
Alih-alih terurai menjadi fragmen yang lebih pendek, sejumlah RNA spesifik dalam sperma justru menjadi lebih panjang seiring bertambahnya usia. Sementara itu, fragmen RNA yang lebih pendek perlahan menghilang. Fenomena ini mematahkan asumsi lama bahwa semua materi genetik akan mengalami degradasi serupa seiring penuaan.
Perubahan tersebut tidak berlangsung merata sepanjang hidup. Pada tikus, para peneliti mengamati adanya fase transisi tajam antara usia sekitar 50 hingga 70 minggu. Sebelum fase ini, perubahan RNA berlangsung perlahan dan hampir tak terlihat. Setelahnya, profil RNA sperma tampak berubah drastis. Pola serupa juga ditemukan pada sampel manusia.
Selama bertahun-tahun, sinyal ini luput terdeteksi karena keterbatasan teknologi laboratorium. Banyak fragmen RNA penting sulit diukur dengan metode standar. Untuk mengatasi hambatan ini, tim peneliti mengembangkan teknik baru bernama PANDORA-seq, yang memungkinkan pendeteksian RNA yang sebelumnya “tak terlihat”.
Ketika analisis difokuskan hanya pada kepala sperma, pola penuaan RNA menjadi jauh lebih jelas. Bagian kepala sperma adalah komponen yang benar-benar masuk ke dalam sel telur saat pembuahan, sedangkan ekor membawa RNA tambahan yang dapat mengaburkan sinyal utama jika dianalisis secara keseluruhan.
Penelitian ini tidak berhenti pada tahap observasi. Para ilmuwan kemudian menguji dampak biologis RNA sperma tua dengan memasukkan campuran RNA tersebut ke dalam sel punca embrionik tikus, yang berperilaku mirip embrio tahap awal. Hasilnya menunjukkan perubahan aktivitas gen yang terkait dengan metabolisme dan neurodegenerasi.
Temuan ini memberikan petunjuk bagaimana usia ayah dapat memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang. RNA dari sperma yang lebih tua tampaknya mampu memengaruhi arah perkembangan awal embrio secara halus, dengan dampak yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Validasi pada manusia menjadi langkah penting dalam penelitian ini. Dr. Kenneth Aston, direktur laboratorium Andrologi dan IVF di University of Utah, menyebut keberhasilan mengonfirmasi pola RNA yang sama pada manusia sebagai pencapaian besar, yang dimungkinkan oleh akses ke bank sperma untuk keperluan riset klinis.
Ke depan, para peneliti akan memfokuskan perhatian pada enzim-enzim yang mendorong perubahan panjang RNA ini. Jika mekanismenya dapat dipahami, enzim tersebut berpotensi menjadi target intervensi untuk meningkatkan kualitas sperma pada pria yang menua.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
penuaan sperma manusia RNA sperma usia ayah dan kesehatan anak



















