Kamis, 22/01/2026 18:56 WIB

Tak Perlu Hindari Daging untuk Hidup hingga 100 Tahun, Syaratnya Ini





Pola makan yang membantu seseorang mencapai usia 100 tahun ternyata tidak sesederhana memilih jenis makanan tertentu.

Daging untuk konsumsi (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Pola makan yang membantu seseorang mencapai usia 100 tahun ternyata tidak sesederhana memilih jenis makanan tertentu. Analisis terbaru menunjukkan bahwa dampak diet terhadap umur panjang sangat bergantung pada kondisi tubuh, khususnya berat badan, terutama pada usia lanjut.

Dalam sebuah penelitian di China, mayoritas orang yang akhirnya mencapai usia 100 tahun tercatat mengonsumsi daging. Menariknya, keuntungan ini paling jelas terlihat pada kelompok lansia yang tergolong kurus atau memiliki berat badan di bawah normal.

Temuan ini tidak dimaknai sebagai klaim bahwa daging adalah kunci umur panjang. Para peneliti justru menekankan bahwa aturan diet yang terlalu ketat dapat menjadi bumerang ketika kondisi nutrisi seseorang sudah rapuh, seperti yang sering terjadi pada usia lanjut.

Selama ini, pembahasan tentang umur panjang sering dikaitkan dengan pola makan berbasis nabati. Daging diketahui mengandung asam amino yang memengaruhi jalur mTOR, sebuah mekanisme biologis yang berkaitan dengan pertumbuhan sel dan metabolisme, serta kerap dibahas dalam riset penuaan.

Sejumlah studi memang menunjukkan bahwa pembatasan konsumsi daging dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan mendukung umur panjang. Namun, diet selalu merupakan kompromi. Pada usia tua, ancaman kekurangan gizi dan kerapuhan fisik sering kali lebih nyata dibandingkan risiko penyakit kronis jangka panjang.

Pola makan berbasis nabati dapat sangat sehat, tetapi dalam beberapa penelitian juga dikaitkan dengan risiko malnutrisi dan patah tulang pada kelompok tertentu. Bagi lansia, kondisi ini menjadi lebih serius karena kepadatan tulang menurun dan pemulihan setelah sakit atau operasi berlangsung lebih lambat.

Berangkat dari pemikiran bahwa kebutuhan nutrisi berubah seiring usia, Kaiyue Wang dari Fudan University di Shanghai bersama timnya menganalisis data jangka panjang pada orang dewasa China berusia di atas 65 tahun. Fokus mereka adalah memahami bagaimana diet berinteraksi dengan kondisi tubuh pada fase usia sangat lanjut.

Penelitian ini menggunakan basis data kesehatan terpusat di China dan melibatkan 5.203 orang yang berusia minimal 80 tahun pada 1998. Seluruh peserta tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, diabetes, atau kanker pada awal pengamatan, sehingga memungkinkan peneliti menelaah faktor yang berkaitan dengan umur ekstrem.

Perlu dicatat, kelompok ini bukan representasi populasi umum. Mereka adalah “penyintas” yang sudah melewati berbagai risiko kesehatan. Hal ini membuat hasilnya relevan untuk memahami umur panjang ekstrem, tetapi tidak serta-merta berlaku bagi orang dewasa yang lebih muda.

Sekitar 80 persen peserta melaporkan mengonsumsi daging, sementara sisanya mengikuti pola makan berbasis sayuran dan biji-bijian, dengan variasi seperti vegetarian, pescatarian, atau vegan. Secara keseluruhan, pemakan daging tampak lebih sering mencapai usia 100 tahun dibandingkan mereka yang menghindarinya.

Namun, perbedaan ini baru menjadi bermakna secara statistik setelah peneliti memperhitungkan berat badan. Pada usia sangat lanjut, makna berat badan berbeda dibandingkan usia paruh baya. Menjadi kurus di usia 80 atau 90 tahun sering menandakan asupan kalori dan protein yang tidak mencukupi atau kondisi kesehatan yang menurun.

Ketika analisis difokuskan pada peserta yang tergolong kurus dengan indeks massa tubuh di bawah 18,5, perbedaannya menjadi jelas. Sekitar 24 persen vegetarian dalam kelompok ini mencapai usia 100 tahun, sementara hampir 30 persen pemakan daging berhasil mencapai usia tersebut. Peluangnya bahkan lebih tinggi pada mereka yang melaporkan konsumsi daging setiap hari.

Pola ini tidak terlihat pada peserta dengan berat badan lebih tinggi. Artinya, hasil ini bukan sekadar “daging lebih baik dari sayur”, melainkan menunjukkan hubungan spesifik antara kecukupan nutrisi dan kondisi tubuh pada lansia yang kurus.

Bagi sebagian orang, konsumsi daging berlebihan memang dapat berkontribusi pada obesitas. Namun bagi lansia yang sudah kurus, protein hewani dapat membantu mempertahankan massa otot dan kekuatan tulang, dua hal yang paling cepat menurun seiring bertambahnya usia.

Wang menekankan bahwa isu utamanya adalah kecukupan nutrisi, bukan ideologi diet. Ia menyatakan bahwa rekomendasi diet untuk kelompok usia sangat lanjut seharusnya menekankan keseimbangan dan kecukupan gizi, bukan penghindaran ketat terhadap makanan hewani, terutama bagi lansia dengan berat badan rendah.

Meski demikian, sayuran tetap memegang peran penting. Studi ini juga menemukan bahwa peluang umur panjang lebih tinggi pada mereka yang mengonsumsi sayuran setiap hari, meskipun dalam jumlah kecil. Hal ini sejalan dengan manfaat serat, vitamin, dan kualitas diet secara keseluruhan.

Sebagai studi observasional, penelitian ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Faktor lain seperti kondisi ekonomi, akses pangan, dukungan sosial, dan kebiasaan hidup bisa turut memengaruhi hasil. Selain itu, pola makan di China memiliki konteks budaya yang berbeda dengan wilayah lain.

Meski begitu, para peneliti berpendapat bahwa mekanisme biologis dasar terkait nutrisi dan penuaan kemungkinan bersifat universal. Pesan praktisnya jelas: bagi lansia yang sangat tua dan kurus, risiko terbesar mungkin bukan makan “terlalu banyak”, melainkan tidak cukup makan.

Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition ini menegaskan bahwa umur panjang ekstrem mungkin lebih bergantung pada ketahanan tubuh dan kecukupan nutrisi daripada kepatuhan pada aturan diet yang kaku.

KEYWORD :

umur panjang lansia konsumsi daging nutrisi usia lanjut 100 tahun




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :