Spesies ubi yang berkembang biak melalui buah palsu (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Bagi tanaman yang tidak mampu menghasilkan biji, bertahan hidup bukan perkara mudah. Tanpa biji yang bisa terbawa angin, air, atau hewan, tanaman aseksual cenderung tumbuh menumpuk di sekitar induknya.
Dikutip dari Earth, kondisi ini membuat mereka rentan terhadap kepunahan lokal ketika lingkungan berubah atau sumber daya menipis.
Namun, sebuah spesies ubi baru menunjukkan bahwa alam selalu punya cara kreatif untuk keluar dari kebuntuan evolusi. Alih-alih menghasilkan biji, tanaman ini membuat struktur kecil menyerupai buah beri yang mampu menipu burung agar memakannya dan menyebarkannya ke tempat lain.
Spesies tersebut adalah Dioscorea melanophyma, sejenis ubi aseksual yang diteliti oleh para ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences. Tanaman ini menghasilkan bulbil hitam mengilap, struktur mirip umbi kecil yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru dan secara visual menyerupai buah beri lokal yang biasa dimakan burung.
Bagi burung, bulbil tersebut tampak seperti makanan. Mereka menelannya dan kemudian membuangnya di lokasi lain, baik melalui kotoran maupun dengan menjatuhkannya. Proses inilah yang memberi D. melanophyma kemampuan menyebar, sebuah keunggulan langka bagi tanaman yang tidak bereproduksi secara seksual.
Dalam dunia tumbuhan, reproduksi seksual menghasilkan biji yang memang “dirancang” untuk bepergian. Biji bisa melayang, mengapung, menempel pada bulu hewan, atau bertahan hidup setelah melewati saluran pencernaan. Sebaliknya, tanaman aseksual hanya mengandalkan perbanyakan vegetatif seperti umbi, rimpang, atau tunas, yang umumnya jatuh dekat induknya.
Strategi aseksual memang menguntungkan ketika pasangan atau penyerbuk sulit ditemukan, tetapi ada harga yang harus dibayar. Keanekaragaman genetik menjadi rendah, dan kemampuan menyebar ke habitat baru sangat terbatas. Tanpa mobilitas, satu gangguan lokal bisa menghabisi seluruh populasi.
Di sinilah keunikan D. melanophyma muncul. Tanaman ini tidak sekadar meniru bentuk buah secara kasar, melainkan benar-benar memanfaatkan sistem penyebaran biji milik tanaman lain. Dengan membuat “buah palsu”, ia merekrut burung sebagai jasa pengangkut, meskipun tidak memberi imbalan nutrisi seperti buah sungguhan.
Para peneliti menguji seberapa meyakinkan tipuan ini dengan membandingkan ukuran dan warna bulbil ubi dengan buah beri hitam lokal menggunakan spektroskopi. Mereka kemudian menerapkan model penglihatan burung untuk menilai bagaimana objek tersebut terlihat dalam spektrum visual burung.
Hasilnya mencolok. Dalam cara burung memandang warna dan kontras, bulbil ubi tersebut nyaris tak terbedakan dari buah beri asli. Artinya, tipuan ini bekerja tepat di “dunia indera” yang menentukan keputusan makan burung.
Pengamatan lapangan di China dan Nepal antara tahun 2019 hingga 2025 semakin memperkuat temuan ini. Selama tiga tahun pencatatan interaksi, para peneliti mengamati sedikitnya 22 spesies burung memakan bulbil D. melanophyma. Ini menunjukkan bahwa strategi tersebut efektif lintas spesies burung.
Menariknya, burung lebih sering menjatuhkan bulbil dibandingkan buah beri asli. Hal ini justru menguntungkan tanaman, karena bulbil perlu tetap utuh agar dapat tumbuh. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa bulbil mampu bertahan setelah melewati saluran pencernaan burung dan tetap viabel untuk berkecambah.
Waktu kemunculan bulbil juga tampaknya sangat strategis. Sebanyak lebih dari 80 persen kunjungan burung terjadi pada Oktober hingga Februari, periode ketika buah beri alami relatif langka. Pada saat pilihan makanan terbatas, burung menjadi kurang selektif dan lebih mudah tertipu oleh objek yang tampak seperti buah.
Para peneliti memperkirakan jarak penyebaran median bulbil mencapai sekitar 230 meter dari tanaman induk. Dalam sekitar enam persen kasus, jarak ini bahkan bisa melampaui 500 meter. Bagi tanaman aseksual yang biasanya hanya menyebar beberapa sentimeter, jarak tersebut sangat signifikan.
Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan tanpa biji dan tanpa reproduksi seksual, tanaman masih dapat berevolusi untuk memanfaatkan sistem penyebaran yang ada. Dengan meminjam mekanisme endozookori—penyebaran melalui hewan pemakan—D. melanophyma berhasil mengatasi keterbatasan utamanya.
Lebih luas lagi, penelitian ini mengingatkan bahwa evolusi tidak selalu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Terkadang, solusi muncul dari modifikasi cerdas terhadap sistem yang sudah ada, bahkan melalui penipuan yang sangat halus.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
tanaman aseksual buah palsu penyebaran biji Dioscorea melanophyma


















