Penguin di Antartika (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Antartika selama ini kerap dianggap sebagai wilayah yang statis, nyaris tak berubah oleh waktu. Namun pengamatan ilmiah terbaru justru menunjukkan gambaran sebaliknya.
Sejumlah spesies penguin yang hidup di benua es tersebut kini tercatat mulai berkembang biak jauh lebih awal dibandingkan beberapa dekade lalu, sebuah perubahan perilaku yang mencerminkan tekanan besar akibat pemanasan global yang semakin cepat.
Perubahan waktu berkembang biak ini bukan sekadar variasi alami. Para ilmuwan menilai pergeseran tersebut sebagai sinyal kuat bahwa pemanasan iklim telah memaksa penguin menyesuaikan diri secara drastis demi mempertahankan kelangsungan hidup.
Dampaknya bukan hanya pada individu penguin, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan rantai makanan dan stabilitas ekosistem Antartika secara keseluruhan.
Dikutip dari Earth pada Kamis (22/1), temuan ini berasal dari studi jangka panjang selama satu dekade yang dipimpin oleh Penguin Watch, sebuah proyek riset yang berbasis di University of Oxford dan Oxford Brookes University.
Penelitian tersebut memantau perilaku berkembang biak penguin di wilayah Antartika dan pulau-pulau sub-Antartika dengan cakupan area yang sangat luas, sehingga memungkinkan analisis pola pada tingkat spesies, bukan sekadar pengamatan lokal.
Dalam kajian ini, para peneliti menyoroti konsep fenologi, yakni waktu terjadinya peristiwa biologis seperti berkembang biak. Bagi hewan, terutama di wilayah kutub, ketepatan waktu berkembang biak sangat menentukan keberhasilan hidup keturunan. Anak penguin harus menetas pada saat makanan melimpah, kondisi cuaca relatif aman, dan lokasi sarang dapat diakses tanpa hambatan es atau salju.
Di wilayah kutub, musim berkembang biak sangat singkat sehingga hampir tidak ada ruang untuk kesalahan. Keterlambatan atau percepatan yang tidak selaras dengan ketersediaan sumber daya dapat berujung pada kegagalan reproduksi. Oleh karena itu, perubahan waktu berkembang biak dianggap sebagai indikator sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Alih-alih hanya mencatat kedatangan pertama penguin ke koloni, peneliti menggunakan indikator yang disebut colony settlement, yaitu kehadiran penguin secara terus-menerus setiap hari di lokasi sarang. Metode ini dinilai lebih akurat karena beberapa spesies, seperti penguin Gentoo, kerap melakukan kunjungan singkat jauh sebelum benar-benar memulai proses berkembang biak.
Penelitian ini berfokus pada tiga spesies utama, yakni penguin Adélie, Chinstrap, dan Gentoo, dengan ukuran koloni yang sangat bervariasi, mulai dari kelompok kecil hingga ratusan ribu sarang. Untuk mengumpulkan data, para ilmuwan memasang 77 kamera time-lapse di 37 koloni yang tersebar di Antartika dan pulau sub-Antartika, menjadikannya salah satu pemantauan penguin terluas yang pernah dilakukan.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten dan mencolok. Ketiga spesies penguin tersebut kini memulai musim berkembang biak lebih awal dibandingkan masa lalu, dengan penguin Gentoo mengalami pergeseran paling drastis. Rata-rata waktu penetapan koloni maju sekitar 13 hari per dekade, bahkan di beberapa koloni mencapai 24 hari lebih awal.
Kecepatan perubahan ini dinilai luar biasa. Hingga kini, belum ada spesies burung lain yang diketahui mengalami percepatan waktu berkembang biak secepat penguin di Antartika. Sementara itu, penguin Adélie dan Chinstrap juga menunjukkan pergeseran signifikan, masing-masing sekitar 10 hari lebih awal per dekade, menempatkan mereka di antara hewan dengan respons tercepat terhadap perubahan iklim di Bumi.
Pemanasan lingkungan lokal menjadi penjelasan utama dari fenomena ini. Sensor suhu yang terpasang pada kamera penelitian mencatat bahwa suhu di sekitar koloni penguin meningkat hingga empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata pemanasan Antartika secara keseluruhan. Kondisi tersebut membuat habitat penguin kini termasuk di antara wilayah yang mengalami pemanasan tercepat di dunia.
Penguin menggunakan berbagai isyarat lingkungan untuk menentukan kapan musim berkembang biak dimulai. Suhu udara musim semi yang lebih hangat mempercepat pencairan salju dan membuka akses ke area berbatu yang diperlukan untuk bersarang. Selain itu, berkurangnya jumlah hari dengan suhu beku juga memengaruhi waktu penetapan koloni, meski dampaknya berbeda pada tiap spesies.
Penguin Adélie diketahui sangat bergantung pada kondisi es laut. Berkurangnya es laut di musim dingin memungkinkan mereka mencapai lokasi berkembang biak lebih awal. Sementara itu, penguin Chinstrap lebih sensitif terhadap ketersediaan makanan, terutama krill, yang produksinya dipengaruhi oleh pertumbuhan plankton. Penguin Gentoo, di sisi lain, paling responsif terhadap suhu yang lebih hangat dan berkurangnya hari beku.
Meski tampak sebagai bentuk adaptasi, pergeseran ini menyimpan risiko besar. Jika penguin berkembang biak terlalu awal sementara puncak ketersediaan makanan terjadi belakangan, anak-anak penguin bisa kekurangan asupan nutrisi. Ketidaksinkronan antara kebutuhan anak dan keberadaan mangsa berpotensi menurunkan tingkat kelangsungan hidup, meskipun induknya tiba lebih cepat di koloni.
Perbedaan cara beradaptasi ini juga menciptakan kemungkinan adanya “pemenang dan pecundang” dalam perubahan iklim. Penulis utama studi, Dr. Ignacio Juarez Martínez dari Oxford Brookes University, menyebut bahwa kondisi Antartika yang semakin menyerupai wilayah subpolar cenderung menguntungkan spesies generalis seperti Gentoo, sementara merugikan spesies spesialis seperti Chinstrap yang bergantung pada krill dan Adélie yang sangat terkait dengan es.
Menurut para peneliti, penguin memainkan peran kunci dalam rantai makanan Antartika. Penurunan keanekaragaman penguin berisiko memicu efek domino yang dapat berujung pada runtuhnya ekosistem secara lebih luas. Fleksibilitas pola makan penguin Gentoo, yang mengonsumsi ikan dan krill serta tinggal dekat koloni sepanjang tahun, memberi mereka keunggulan dalam kondisi yang terus menghangat.
Sebaliknya, penguin Adélie dan Chinstrap memiliki opsi adaptasi yang lebih terbatas karena ketergantungan mereka pada es dan krill. Hal ini membuat kedua spesies tersebut lebih rentan terhadap perubahan lingkungan yang cepat dan ekstrem.
Para ilmuwan menekankan bahwa perubahan perilaku sering kali menjadi peringatan dini sebelum penurunan populasi terlihat jelas. Tom Hart, pendiri Penguin Watch, menyatakan bahwa perubahan seperti pergeseran waktu berkembang biak dapat mengungkap tekanan ekologis jauh lebih awal dibandingkan sekadar menghitung jumlah individu.
Perubahan waktu berkembang biak juga meningkatkan risiko persaingan antarspesies. Secara historis, ketiga spesies penguin ini berkembang biak pada waktu yang berbeda dan memanfaatkan sumber daya yang relatif terpisah.
Namun, percepatan yang lebih cepat pada penguin Gentoo mempersempit jarak waktu tersebut, sehingga meningkatkan potensi perebutan ruang sarang dan makanan, terutama di koloni campuran.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengubah struktur komunitas penguin dan memengaruhi seluruh jaring makanan Antartika. Sebagai predator utama sekaligus indikator kesehatan ekosistem, perubahan pada penguin mencerminkan perubahan yang lebih luas di lingkungan laut dan pesisir.
Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Animal Ecology.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
penguin Antartika pemanasan global perubahan iklim

















