Kamis, 22/01/2026 10:39 WIB

Paparan Asap Karhutla Saat Hamil Tua Bisa Picu Risiko Autisme





Penelitian dari Tulane University menemukan paparan asap karhutla di trimester akhir kehamilan berkaitan dengan meningkatnya diagnosis autisme pada anak

Ilustrasi - Paparan asap karhutla (File: Abdelaziz Boumzar/Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama ini dikenal berdampak langsung pada pernapasan, namun studi terbaru menunjukkan risikonya bisa meluas hingga masa kehamilan. Penelitian dari Tulane University menemukan paparan asap karhutla di trimester akhir kehamilan berkaitan dengan meningkatnya diagnosis autisme pada anak.

Studi ini menganalisis lebih dari 200 ribu kelahiran di California Selatan sepanjang 2006–2014. Data kelahiran tersebut kemudian dicocokkan dengan catatan paparan asap kebakaran hutan selama masa kehamilan, terutama berdasarkan trimester.

Hasil paling konsisten muncul pada trimester ketiga atau tiga bulan terakhir sebelum persalinan. Risiko tertinggi terlihat pada ibu hamil yang terpapar lebih dari 10 hari asap karhutla pada periode tersebut.

Anak-anak dari kelompok ini tercatat memiliki risiko autisme 23 persen lebih tinggi saat didiagnosis sebelum usia lima tahun, dibandingkan anak dari ibu yang tidak terpapar asap sama sekali selama kehamilan. Meski demikian, peneliti menegaskan temuan ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat langsung.

Trimester akhir kehamilan dikenal sebagai fase krusial perkembangan otak janin. Pada periode ini, pertumbuhan saraf berlangsung cepat sehingga lebih rentan terhadap gangguan akibat peradangan, stres, atau paparan polusi.

Peneliti mencatat temuan ini sejalan dengan riset sebelumnya, termasuk studi Harvard pada 2021 yang juga menemukan hubungan antara polusi udara di akhir kehamilan dan risiko autisme. Konsistensi waktu paparan menjadi sinyal penting yang kini mendapat perhatian ilmiah lebih serius.

Asap kebakaran hutan mengandung partikel halus yang dapat menembus paru-paru dan memicu respons inflamasi. Risikonya meningkat ketika kebakaran melibatkan bangunan, karena asap dapat membawa logam berat dan senyawa kimia berbahaya.

Berbeda dengan polusi harian, asap karhutla sering muncul dalam lonjakan singkat namun sangat intens. Paparan mendadak inilah yang diduga memberi tekanan tambahan bagi tubuh ibu hamil.

Studi ini juga menemukan faktor lain yang sering menyertai diagnosis autisme, seperti usia ibu yang lebih tua, kehamilan pertama, serta kondisi diabetes dan obesitas sebelum hamil. Selain itu, anak laki-laki tercatat empat kali lebih sering didiagnosis dibanding perempuan.

California menjadi lokasi ideal penelitian karena tingginya intensitas kebakaran hutan dan kelengkapan data kesehatan. Namun, peneliti menegaskan temuan ini tidak berarti kebakaran hutan menjadi penyebab tunggal meningkatnya autisme.

“Autisme dan kebakaran hutan sama-sama meningkat, dan studi ini baru langkah awal untuk memahami kemungkinan kaitannya,” ujar Mostafijur Rahman, penulis korespondensi sekaligus profesor kesehatan lingkungan di Tulane University.

Penulis utama David Luglio menambahkan bahwa mekanisme biologis hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. Menurutnya, faktor genetik, lingkungan, dan paparan lain kemungkinan saling berinteraksi.

Meski belum bersifat konklusif, temuan ini memberi peringatan penting bagi kesehatan publik. Seiring perubahan iklim yang memperpanjang musim kebakaran, perlindungan ibu hamil dari paparan asap menjadi isu yang kian mendesak. (*)

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology. Sumber: Earth

KEYWORD :

Paparan Asap Karhutla Masa Kehamilan Hamil Tua Risiko Autisme




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :