Ilustrasi - Malam Nisfu Syaban, malam penuh ampunan di bulan Syaban (Foto: Pexels/Yasir Gürbüz)
Jakarta, Jurnas.com - Malam Nisfu Syaban merupakan salah satu malam yang memiliki tempat khusus dalam tradisi keislaman.
Malam yang jatuh pada pertengahan bulan Syaban ini kerap dipandang sebagai momentum spiritual penting bagi umat Muslim untuk memperbanyak ibadah, introspeksi diri, serta mempersiapkan hati menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Keistimewaan Malam Nisfu Syaban banyak dikaitkan dengan sejumlah riwayat hadis yang menjelaskan besarnya rahmat dan ampunan Allah SWT pada malam tersebut. Salah satu hadis yang sering dijadikan rujukan diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA, Rasulullah SAW bersabda:
Kapan Batas Akhir Qadha Puasa Ramadan?
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya:
“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syaban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi dasar keyakinan banyak ulama bahwa Malam Nisfu Syaban adalah malam dibukanya pintu ampunan secara luas, selama seseorang menjauhi perbuatan syirik dan membersihkan hatinya dari permusuhan.
Selain itu, Malam Nisfu Syaban juga kerap dikaitkan dengan momentum penetapan dan pencatatan amal manusia. Sebagian ulama menafsirkan ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Artinya:
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 4)
Meski ayat tersebut oleh mayoritas mufasir dikaitkan dengan Lailatul Qadar, sebagian ulama salaf memandang bahwa Malam Nisfu Syaban juga menjadi waktu penting dalam ketentuan dan pencatatan amal, rezeki, serta ajal manusia sebagai bagian dari kebijaksanaan Allah SWT.
Keistimewaan lainnya terletak pada posisinya sebagai pengantar menuju Ramadan. Bulan Syaban sendiri dikenal sebagai bulan persiapan, sebagaimana kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah, pada bulan ini. Dalam sebuah hadis dari Aisyah RA disebutkan:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa Syaban, termasuk malam pertengahannya, merupakan waktu strategis untuk memperbaiki kualitas ibadah sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Karena itu, Malam Nisfu Syaban sering dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak doa, istighfar, zikir, membaca Al-Qur’an, serta melakukan muhasabah diri. Malam ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan spiritual untuk membersihkan hati dan memperbarui niat hidup.
Para ulama juga mengingatkan agar keistimewaan Malam Nisfu Syaban disikapi secara proporsional. Amalan yang dilakukan hendaknya berlandaskan keikhlasan, tidak berlebihan, dan tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Bulan Syaban Malam Nisfu Syaban Keutamaan Nisfu Syaban

















