Rabu, 21/01/2026 23:39 WIB

Studi: Kurang Tidur Ubah Cara Tubuh Merespons Makanan





Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh terasa lelah dan pikiran kurang fokus, tetapi juga diam-diam memengaruhi cara kita memilih makanan

Ilustrasi perempuan kurang tidur (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh terasa lelah dan pikiran kurang fokus, tetapi juga diam-diam memengaruhi cara kita memilih makanan dan bagaimana tubuh memprosesnya.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa interaksi antara pola makan dan durasi tidur jauh lebih erat daripada yang selama ini disadari, terutama pada perempuan usia paruh baya.

Penelitian ini dipimpin oleh tim dari University of Michigan yang ingin memahami apakah kualitas diet dapat membantu mengurangi dampak metabolik dari kurang tidur kronis.

Fokus utama mereka adalah melihat hubungan antara pola makan sehat, durasi tidur, dan risiko gangguan metabolik yang berkaitan dengan penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Berbeda dengan banyak riset sebelumnya, studi ini tidak memisahkan diet dan tidur sebagai dua masalah terpisah. Para peneliti justru menilai keduanya secara bersamaan, dengan asumsi bahwa kebiasaan tidur dapat memengaruhi seberapa besar manfaat makanan sehat terhadap kesehatan tubuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan yang tidur kurang dari tujuh jam per malam memiliki risiko metabolik yang lebih rendah jika mereka menjalani pola makan bergaya Mediterania.

Pola makan ini menekankan konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, ikan, serta lemak tak jenuh yang dikenal lebih ramah bagi jantung dan metabolisme, sebagaimana dikutip dari Earth pada Rabu (21/1).

"Temuan ini menegaskan bahwa meningkatkan kualitas pola makan dapat menjadi langkah bermakna untuk mendukung kesehatan metabolik ketika perempuan tidak mendapatkan tidur yang cukup," kata Haneen Bou Ghanem, mahasiswa doktoral yang memimpin penelitian tersebut.

Analisis dilakukan terhadap 410 perempuan dengan usia rata-rata 48 tahun yang merupakan bagian dari studi kesehatan jangka panjang di Mexico City. Para peserta melaporkan pola makan mereka melalui kuesioner terstandarisasi yang menilai konsumsi kelompok makanan utama seperti sayur, buah, ikan, dan gandum utuh.

Untuk mengukur tidur, para peneliti menggunakan alat actigraphy, yaitu sensor yang dipakai di pergelangan tangan selama tujuh hari penuh. Alat ini mencatat pergerakan tubuh untuk memperkirakan waktu tidur, sehingga memberikan gambaran yang lebih objektif dibandingkan sekadar laporan ingatan peserta.

Meskipun demikian, para peneliti mengakui bahwa metode ini tetap memiliki keterbatasan. Faktor seperti stres, kerja malam, penyakit, atau tidur siang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh alat tersebut, sehingga hasil penelitian masih perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Kesehatan metabolik diukur melalui indikator sindrom metabolik, yaitu kondisi ketika beberapa faktor risiko muncul bersamaan. Faktor tersebut meliputi lingkar pinggang lebih dari 88 sentimeter, tekanan darah tinggi, kadar trigliserida tinggi, serta gangguan gula darah.

Ketika faktor-faktor ini berkumpul, risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2 meningkat secara signifikan. Karena melibatkan banyak sistem tubuh sekaligus, sindrom metabolik biasanya membutuhkan pendekatan gaya hidup yang menyeluruh, bukan hanya satu jenis pengobatan.

Tidur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme. Kurang tidur diketahui dapat menurunkan sensitivitas insulin, meningkatkan sinyal lapar, serta memicu peradangan dalam tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat tubuh lebih mudah mengalami lonjakan gula darah dan tekanan darah.

Di sinilah kualitas makanan menjadi semakin penting. Pola makan bergaya Mediterania, yang kaya serat dan lemak sehat, membantu memperlambat penyerapan glukosa dan mengurangi peradangan. Karena itu, makanan sehat tampak memberikan perlindungan tambahan bagi mereka yang kurang tidur.

Menariknya, ketika seluruh peserta dianalisis bersama, tidak terlihat hubungan kuat antara kualitas diet atau durasi tidur secara terpisah dengan sindrom metabolik. Namun, setelah peserta dipisahkan berdasarkan durasi tidur, pola yang jelas muncul.

Pada kelompok perempuan yang tidur kurang dari tujuh jam, kualitas diet menjadi faktor penentu. Semakin baik skor pola makan Mediterania mereka, semakin rendah risiko sindrom metabolik. Sebaliknya, pada perempuan yang tidur cukup, hubungan tersebut tidak tampak signifikan.

Hampir setengah peserta penelitian memenuhi kriteria sindrom metabolik, dan lebih dari 56 persen tercatat tidur kurang dari tujuh jam per malam. Data ini menunjukkan betapa umum kombinasi kurang tidur dan risiko metabolik pada perempuan usia paruh baya.

Namun, karena penelitian ini bersifat potong lintang, para peneliti tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Bisa jadi perempuan yang lebih peduli kesehatan memang sudah memperbaiki pola makan mereka, sehingga efek perlindungan terlihat lebih lemah.

Selain itu, faktor lain seperti depresi, beban pengasuhan, tekanan pekerjaan, dan kondisi sosial ekonomi juga dapat memengaruhi tidur dan pilihan makanan secara bersamaan. Semua variabel ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Dalam kehidupan nyata, kurang tidur sering mendorong orang memilih makanan cepat saji atau camilan tinggi gula, terutama pada malam hari. Kebiasaan ini menambah kalori sekaligus mengganggu kontrol gula darah, sehingga menciptakan lingkaran risiko yang sulit diputus.

Di sisi lain, akses terhadap makanan sehat juga tidak selalu mudah. Harga buah, ikan, dan kacang-kacangan bisa lebih mahal, sehingga anjuran pola makan sehat sering kali sulit diterapkan tanpa dukungan lingkungan yang memadai.

Temuan dari kelompok perempuan di Meksiko ini memperlihatkan bahwa diet dan tidur bekerja sebagai satu kesatuan. Pendekatan kesehatan yang hanya fokus pada satu aspek berisiko mengabaikan kelompok yang justru paling membutuhkan perhatian.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk memastikan apakah perbaikan pola makan benar-benar dapat melindungi orang yang kurang tidur, serta apakah perbaikan tidur akan memperkuat manfaat makanan sehat.

Studi ini dipublikasikan dalam The Journal of Nutrition.

KEYWORD :

kurang tidur metabolisme pola makan Mediterania sindrom metabolik perempuan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :