Kalender Suku Maya berusia 1000 tahun (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah manuskrip kuno bangsa Maya yang dikenal sebagai Dresden Codex kembali mengejutkan dunia ilmiah. Naskah berusia sekitar seribu tahun itu ternyata bukan sekadar catatan simbolik, melainkan sebuah sistem ilmiah yang mampu memprediksi musim gerhana dengan tingkat ketepatan luar biasa selama ratusan tahun.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa deretan angka tulisan tangan dalam Dresden Codex berfungsi sebagai alat peringatan gerhana jangka panjang. Sistem tersebut memungkinkan para ahli kalender Maya menjaga ketepatan perhitungan lintas generasi, sebuah prestasi yang jarang terlihat pada peradaban kuno lainnya.
Dresden Codex merupakan salah satu dari hanya empat manuskrip Maya yang masih bertahan hingga kini. Halaman-halamannya yang dilipat menyimpan perhitungan gerhana dan peredaran Venus, menjadikannya dokumen astronomi paling lengkap dari dunia Maya.
Penelitian ulang dilakukan oleh tim dari University at Albany, State University of New York (SUNY), yang memetakan tabel tersebut sebagai alat kerja aktif, bukan sekadar arsip simbolik, sebagaimana dikutip dari Earth pada Rabu (21/1).
Penelitian ini dipimpin oleh John Justeson, profesor emeritus SUNY yang telah lama meneliti sistem tulisan Maya. Fokusnya pada struktur bahasa dan angka membantu mengungkap bagaimana seperangkat angka sederhana dapat tetap relevan dan akurat selama berabad-abad. Menurut Justeson, konsistensi dan fleksibilitas metode penyalinan menjadi kunci keberhasilan sistem ini.
Dalam tabel Dresden Codex, tercatat 405 bulan lunar dengan penandaan 69 lunasi sebagai titik penting. Gerhana matahari hanya terjadi saat bulan baru dan dekat dengan simpul orbit Bulan.
Karena itu, tabel tersebut berfungsi sebagai sistem peringatan musim gerhana, bukan peta lokasi bayangan gerhana. Dengan kata lain, para penjaga kalender mengetahui kapan gerhana mungkin terjadi, meski tidak selalu di wilayah mereka.
Sistem ini tentu menghadapi tantangan karena panjang satu bulan lunar sekitar 29,5 hari. Penghitungan berbasis hari penuh menyebabkan pergeseran kecil yang, jika dibiarkan, akan menumpuk menjadi kesalahan besar dalam beberapa dekade. Dalam jangka panjang, musim gerhana bisa datang lebih cepat atau lebih lambat dari perkiraan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, para penjaga kalender Maya tidak sekadar mengulang tabel dari awal. Penelitian SUNY menunjukkan adanya dua titik reset, pada 358 dan 223 bulan, yang digunakan untuk mengoreksi penyimpangan waktu. Metode ini memungkinkan kesalahan diperkecil secara berkala atau dikoreksi besar-besaran setelah siklus panjang.
Model perhitungan modern menunjukkan bahwa metode reset ganda ini mampu menjaga ketepatan kalender dalam selisih sekitar 51 menit selama 134 tahun. Angka tersebut menjadi bukti betapa presisinya sistem yang dirancang oleh peradaban tanpa teleskop dan teknologi modern.
Astronomi Maya juga tidak berdiri terpisah dari kehidupan sehari-hari. Para imam mencatat musim tanam dan hari-hari suci menggunakan dua kalender sekaligus, yakni kalender ritual 260 hari dan kalender sipil 365 hari. Kedua sistem ini dihubungkan dengan perhitungan bulan, sehingga peristiwa langit memiliki makna sosial dan keagamaan.
Justeson menjelaskan bahwa tabel 405 bulan kemungkinan berasal dari kalender lunar yang telah diselaraskan dengan kalender ritual 260 hari. Dengan cara ini, peringatan gerhana tidak hanya bersifat astronomi, tetapi juga terikat pada penamaan hari dan ritus masyarakat.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pencatatan fase Bulan kemungkinan mendahului pencatatan gerhana. Awalnya, tabel hanya mencatat bulan lunar dengan panjang 29 atau 30 hari. Barulah kemudian tanda-tanda gerhana ditambahkan tanpa perlu merombak seluruh sistem, menunjukkan kecerdasan dalam mengembangkan ilmu secara bertahap.
Titik awal tabel yang bertahan hingga kini diperkirakan berada di sekitar tahun 1083 atau 1116 Masehi, sesuai dengan musim gerhana di wilayah Yucatan utara.
Dengan sistem reset yang tepat, kalender ini masih mampu menandai musim gerhana yang terjadi berabad-abad kemudian, termasuk gerhana matahari total yang melintasi Meksiko dan Amerika Tengah pada 11 Juli 1991.
Bukti lebih tua tentang sistem kalender Maya juga ditemukan di San Bartolo, Guatemala, berupa fragmen lukisan yang mencatat nama hari antara tahun 300 hingga 200 SM.
Catatan ini menunjukkan bahwa sistem kalender ritual telah digunakan jauh sebelum Dresden Codex ditulis, memperkuat dugaan bahwa prediksi gerhana berkembang dari tradisi panjang pengamatan langit.
Selama lebih dari satu abad, para ilmuwan mempelajari angka-angka Dresden Codex, namun baru kini logika reset tabelnya mulai dipahami. Penelitian terbaru memperlakukan proses penyalinan sebagai bagian dari desain sistem, bukan sekadar aktivitas administratif. Meski demikian, kesalahan kecil dalam penyalinan tetap bisa berdampak besar pada perhitungan.
Karena sebagian besar manuskrip Maya musnah akibat pembakaran pada masa kolonial, metode ini sulit diuji melalui perbandingan dokumen lain. Namun, bukti yang ada cukup untuk menunjukkan bahwa para ahli Maya membangun sistem peringatan gerhana yang praktis melalui pengamatan, aritmetika, dan disiplin penyalinan.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
kalender Maya kuno Dresden Codex Maya prediksi gerhana Maya

















