Rabu, 21/01/2026 19:29 WIB

Ilmuwan Temukan "Makhluk Hidup" Baru di Dalam Tubuh Manusia





Sekelompok ilmuwan baru saja menemukan bentuk kehidupan baru di dalam tubuh manusia, yang selama ini luput dari perhatian.

Obeliks, makhluk hidup di dalam tubuh manusia (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sekelompok ilmuwan baru saja menemukan bentuk kehidupan baru di dalam tubuh manusia, yang selama ini luput dari perhatian. Entitas misterius ini dijuluki `obelisks` dan keberadaannya langsung memicu keheranan serta perdebatan di kalangan peneliti biologi molekuler.

Penemuan tersebut menantang asumsi lama tentang apa saja yang bisa hidup di dalam tubuh manusia. Para peneliti menyadari bahwa tubuh bukan sekadar kumpulan organ, sel, dan mikroba yang sudah dikenal, melainkan sebuah ekosistem kompleks yang masih menyimpan banyak rahasia tersembunyi.

Obelisks ditemukan saat ilmuwan menganalisis kumpulan data genetik dalam jumlah sangat besar. Mereka mencari pola yang tidak cocok dengan organisme manapun yang telah diketahui sebelumnya. Dari situlah muncul sinyal aneh berupa molekul RNA berbentuk melingkar yang tidak sesuai dengan definisi virus, bakteri, maupun viroid.

Penelitian ini dipimpin oleh Andrew Fire, peraih Nobel Kedokteran dari Stanford University. Temuan tersebut langsung menarik perhatian komunitas ilmiah global karena menunjukkan bahwa masih ada bentuk kehidupan berbasis RNA yang belum masuk dalam buku teks biologi modern.

“Ini gila. Semakin kami melihat, semakin banyak hal aneh yang muncul,” kata Mark Peifer, ahli biologi sel dari University of North Carolina dikutip dari Earth pada Rabu (21/1).

Secara bentuk, obelisks menyerupai viroid, yaitu patogen RNA yang selama ini dikenal menyerang tanaman. Namun, perbedaannya sangat mencolok. Jika viroid umumnya hanya ditemukan pada tumbuhan, obelisks justru hidup di dalam bakteri yang berada di tubuh manusia, terutama di rongga mulut dan saluran pencernaan.

Matthew Sullivan dari Ohio State University menyatakan bahwa hingga kini belum ada bukti jelas apakah obelisks berdampak buruk atau justru netral bagi kesehatan manusia. Dampaknya masih menjadi tanda tanya besar yang membutuhkan penelitian lanjutan.

Untuk memahami keunikan obelisks, penting memahami peran RNA. RNA adalah molekul penting yang membantu menerjemahkan instruksi DNA menjadi protein. Tidak seperti DNA yang berbentuk heliks ganda, RNA biasanya berbentuk tunggal dan mampu melipat diri dalam berbagai struktur yang kompleks.

Selain berperan dalam pembentukan protein, RNA juga dapat mengatur ekspresi gen dan bahkan bertindak sebagai katalis dalam reaksi kimia tertentu. Karena itulah, RNA bukan sekadar “pembawa pesan”, melainkan pengatur utama dalam kehidupan sel.

Obelisks sendiri terdiri dari RNA berbentuk lingkaran kecil tanpa selubung protein seperti virus pada umumnya. Mereka juga tidak membawa instruksi untuk membentuk kapsid protein. Ciri inilah yang membuat para ilmuwan kesulitan mengelompokkan mereka dalam kategori organisme yang sudah ada.

Yang lebih mengejutkan, bukan hanya satu atau dua jenis obelisk yang ditemukan. Ribuan variasi berbeda muncul dari berbagai dataset genetik di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa obelisks bukan fenomena langka, melainkan bagian umum dari ekosistem mikro di tubuh manusia.

Analisis genetik juga mengungkap bahwa jenis obelisk tertentu tampaknya lebih menyukai lokasi tubuh tertentu. Ada yang lebih sering ditemukan di bakteri mulut, sementara lainnya dominan di usus. Pola ini mengisyaratkan adanya hubungan biologis yang kompleks antara obelisks, bakteri, dan tubuh manusia.

Keberadaan obelisks juga membuka kembali perdebatan besar tentang asal-usul virus. Apakah virus modern berasal dari bentuk RNA sederhana seperti ini, atau justru makhluk kompleks yang kehilangan sebagian cirinya seiring evolusi? Obelisks menambah lapisan baru dalam teka-teki evolusi kehidupan.

Masalah lainnya adalah klasifikasi. Obelisks tidak sepenuhnya cocok disebut virus, bukan pula bakteri, dan tidak identik dengan viroid. Temuan ini mengindikasikan bahwa manusia mungkin belum sepenuhnya memahami spektrum kehidupan berbasis RNA yang ada di planet ini.

Penelitian ini dilakukan dengan bantuan alat komputasi canggih yang mampu memindai miliaran data genetik. Para peneliti harus menyaring sinyal palsu dan kebisingan data untuk memastikan bahwa yang mereka temukan benar-benar merupakan struktur biologis nyata, bukan kesalahan analisis.

Simon Roux, ahli biologi komputasi dari Lawrence Berkeley National Laboratory, menyebut momen ini sebagai salah satu periode paling menarik dalam dunia biologi modern. Menurutnya, kemajuan teknologi analisis genetik membuka pintu menuju dunia mikro yang sebelumnya benar-benar tak terlihat.

Studi tentang obelisks pertama kali dipublikasikan di platform bioRxiv, kemudian menarik perhatian luas hingga akhirnya juga dimuat di Royal Society Open Science. Sejak saat itu, diskusi tentang entitas RNA misterius ini terus berkembang di berbagai forum ilmiah.

KEYWORD :

makhluk hidup baru obelisks tubuh manusia RNA misterius




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :